Saya teringat kejadian di masa remaja dulu. Saya tinggal di kampung di Yogyakarta. Saya terbiasa hidup di dunia kegelapan, lantaran listrik belum masuk saat itu. Cahaya lampu minyak yang kecil sudah cukup memberi terang. Apalagi lampu petromaks, sebuah kemewahan kala itu.
Malam itu saya naik sepeda untuk pulang ke rumah setelah saya pergi dari rumah teman. Waktu itu masih pukul sembilan. Suasana gelap dan sepi. Saya menyusuri jalanan kampung. Kebetulan saya harus melewati sebuah kuburan di kampung sebelah, persis di pinggir jalan. Di seberang kuburan itu ada parit kecil untuk mengairi sawah di pinggirnya.
Untuk membunuh sepi di tengah kegelapan, saya bersenandung kecil. Sekalian mengusir rasa takut. Saat melintas di kuburan itu, tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara benda jatuh dari pohon. Spontan saya, kaget. Rasa kaget dan takut itu membuat saya panik sampai saya menabrak tembok pembatas kuburan.
Saya tercekat kala itu. Diam sambil meraba lutut dan tangan yang kena tembok. Saya kembali kaget karena ada suara orang tercebur parit. Setelah diam agak lama, sambil menata nyali, saya siap-siap menaiki sepeda lagi. Beberapa kayuhan pedal, saya terkejut lagi, “Lho, kamu to. Saya pikir siapa.” Ada orang menyapa saya tiba-tiba.
Usut punya usut, ada dua orang yang kehilangan nyali dan celaka di dekat kuburan itu. Saya menabrak tembok kuburan. Tetangga kampung saya kecebur parit di dekat kuburan. Ternyata sumbernya sama, yaitu gegara suara daun pohon jati kering yang besar yang jatuh di dekat kuburan di tengah kegelapan. Kekagetan dan ketakutan telah menyebabkan kami mengalami nasib sial malam itu. Kaget karena suara benda jatuh dan takut karena bayangan hantu di dekat kuburan.
Setelah dewasa sekarang, saya merenung, betapa sering manusia ditipu oleh pikiran dan bayangannya sendiri. Betapa bodohnya saya dan tetangga yang berasumsi daun jatuh sebagai hantu iseng. Asosiasi pikiran tentang suara benda jatuh, suasana gelap, di dekat kuburan, menjadi rentetan asumsi yang merontokkan nyali. Akhirnya celakalah kita.
Seringkali kita menduga-duga dan membayangkan sesuatu di luar kenyataan. Dugaan dan bayangan itu menimbulkan ketakutan, kekhawatiran, dan bahkan dapat mencelakakan. Mungkin juga Anda pernah mengalami hal serupa. Tak perlu di kuburan. Mungkin di rumah sendiri, rumah kosong, rumah tetangga, di kantor. Pikiran kita sudah dicekoki dengan cerita-cerita yang membuat kita membangun asumsi, bayangan, dugaan negatif. Akibatnya, kita kadang bersikap atau bereaksi tidak rasional, dan cenderung lebay, melebih-lebihkan hal yang seharusnya biasa.
Jadi, bukan objek yang kita takutkan yang mencelakai kita, tetapi pikiran kita tentang objek itu yang membuat kita celaka. Bukan hantu, tetapi pikiran saya tentang hantu yang membuat kepala saya benjol karena menabrak tembok. Bukan orang yang menyebalkan yang membuat kita sakit, tapi pikiran kita tentang orang itu yang membuat kita sakit. Bukan pelajaran sulit yang membuat kita stres, tetapi pikiran dan ketakutan kita akan pelajaran itu yang membuat kita depresi. Silakan Anda renungkan, mungkin pernah punya pengalaman tentang pikiran yang sering membuat kita celaka.*** (Leo Wahyudi S)
Foto dari https://www.filmcompanion.in/features/indepth-stories/girl-talk-why-are-ghosts-always-female

Leave a comment