AGAMAKU CINTA DAN KASIH SAYANG
Isu agama masih menjadi isu seksi sepanjang masa, apalagi di masa menjelang pesta demokrasi akbar pada 2024 di Indonesia nanti. Isu agama bisa menjadi dagangan yang bernilai jual tinggi dalam percaturan politik identitas. Kalau saya cerewet dengan tulisan-tulisan kritis soal agama, bukan saya ingin menghujat, tetapi untuk mengajak para pemeluk dan pembelajar agama menjadi lebih kritis dan sadar dengan apa yang sedang diyakini.
Ada orang bijak mengatakan bahwa bagi orang yang matang kesadarannya, agama itu menjadi sarana untuk berbuat baik dan menjalin persahabatan. Tetapi bagi orang yang masih mentah, agama dijadikan sebagai alat untuk saling menghakimi dan membenci. Agama sejatinya merupakan tuntunan pada kebaikan dan cinta. Bukan alat untuk saling mengalahkan dan menyalahkan.
Terlepas dari permasalahan yang menimpa Dalai Lama, pemuka agama Budha di Tibet, saya tertarik dengan pendapatnya. Agama yang diyakini Dalai Lama sebenarnya sederhana. “Tak perlu ada kuil. Tak perlu ada filsafat yang sangat rumit. Pikiran dan hati kita sesungguhnya adalah kuil. Filsafatnya adalah kebaikan,” kata Dalai Lama. Tingkat spiritualitasnya yang tinggi membuat Dalai Lama meyakini bahwa agama sesungguhnya adalah cinta dan bela rasa, welas asih pada sesama.
Agama tidak minta ditolong, tapi agama yang menolong kita. Tuhan tidak butuh pembelaan atau pertolongan kita. Justru Dia minta kita untuk mengasihi dan berbuat baik pada orang di sekitar kita. Dalam Kitab Suci, Yesus juga selalu menekankan nilai cinta dan kasih. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku,” sabdaNya.
Seorang guru ngaji bahkan mengatakan, Allah yang gaib disembah-sembah, dikejar-kejar, tapi Allah yang nyata diabaikan. Orang yang benar-benar belajar agama manapun pasti tahu dari jaman nabi-nabi, selalu dikatakan bahwa Tuhan itu hadir dan menjadi nyata melalui sesama, termasuk saudara yang paling hina, miskin, terpinggirkan. Mereka berada di sekitar kita. Tapi orang sekarang, karena sempitnya pemahaman, selalu mencari-cari Tuhannya yang gaib. Padahal Tuhan ada begitu dekat, begitu nyata, yaitu melalui ciptaanNya yang ada di sekeliling kehidupan kita.
Karena itu, kedalaman ajaran agama seseorang dapat dilihat dari relasinya dengan orang lain. Hubungan vertikal dengan Sang Pencipta berbanding lurus dengan hubungan horizontal dengan sesama. Kedengarannya aneh ketika hubungan dengan sesama tidak bagus, dengan tetangga terputus, dengan keluarga tidak baik, tetapi tetap mengaku dirinya seakan-akan saleh dan suci karena ibadahnya sangat rajin, doanya kuat. Relasi ke atas dan ke sesama harus seimbang.
Orang yang hubungan dengan Tuhannya bagus, tidak mungkin hubungannya terputus dengan manusia, apa pun agamanya. Kalau hubungan dengan sesama tidak beres, berarti hubungan dengan Tuhannya pun tidak beres. Orang yang berkonflik dengan sesamanya, berarti masih berkonflik dengan dirinya, karena tidak kenal dengan dirinya.
Semoga di tahun politik ini identitas agama yang penuh cinta dan welas asih tetap dapat menjadi roh pencerah dan penguat, agar tidak terjadi perpecahan dan permusuhan.***(Leo Wahyudi S)

Leave a comment