Inspiration

BELAJAR AGAMA, MEMPERSEMPIT ATAU MEMPERLEBAR WAWASAN?

Dewasa ini saya mengamati sebuah fenomena aneh menurut saya. Fenomena yang ironis kalau boleh dibilang. Saya tidak sedang menghakimi orang, tetapi mengamati perilaku orang yang tidak sinkron, tidak nyambung dengan nilai-nilai dan pengetahuan terkait agama.

Banyak orang sekarang mulai kenal dan belajar agama. Mereka merasa terpanggil untuk mengenal agama lebih dalam. Mereka yang terpanggil ini biasanya bertransformasi, atau lebih tepatnya berubah drastis. Minimal dari penampilannya. Mereka tampil dengan simbol-simbol tubuh, pakaian, cara bertutur, cara berpikir, yang kelihatan agamis, alim, merasa suci, bersih. Kontras dengan tampilan mereka sebelumnya yang biasa, gaul, cair, dan kadang seronok. 

Perubahan itu sah-sah saja sih. Hak setiap orang untuk merasa terpanggil dan berubah. Mereka mengklaim diri telah bertobat. Ini sebuah fenomena yang bagus dan layak dicontoh. Tapi, dalam perjalanannya kemudian, orang-orang yang mengaku bertobat itu kadang justru tidak menunjukkan pertobatannya. Ada karyawan yang sudah mapan di perusahaan bonafid, mengundurkan diri karena takut riba dan bank. Ada guru yang menggeser nalar kritisnya dengan fanatisme sempit soal agama. Ada karyawan di lembaga internasional mundur karena takut dosa karena bekerja dengan orang asing dan tidak seagama. Ada yang menarik diri dari pergaulan karena takut dosa dan goyah iman. 

Mereka berubah seolah-olah sudah jadi orang suci yang anti dengan segala hal duniawi. Mereka tiba-tiba menobatkan diri menjadi sok suci, sok bijak, sok saleh, sok alim. Mereka berubah menjadi golongan eksklusif yang anti terhadap kehidupan duniawi yang penuh perbedaan jenis kelamin, suku, agama, ras, pandangan hidup, strata sosial. Mereka lalu berubah menjadi eksklusif dan penuh penilaian salah dan benar, dosa dan suci, najis dan bersih (saya juga termasuk, karena sedang sibuk menghakimi orang lain dalam tulisan ini). Pengenalan agama yang baru dikenal itu lalu memosisikan diri mereka menjadi golongan yang tak boleh ternoda. Hidupnya dipenuhi oleh ketakutan akan dosa, neraka, siksa. 

Saya tertarik dengan kajian Ustad Syaiful Karim yang mengatakan, orang yang belajar dan mendalami agama, maka ia akan lebih mencintai dan menghargai semua makhluk ciptaan Tuhan. Kalau tidak demikian, berarti ada yang salah dari apa yang dipelajari dalam agama. 

Saya ingin mengajak kita merenung dari lampu laser dan lampu halogen. Ini bukan soal teknologi lampu, tapi tentang perumpamaan dari efek cahaya yang dihasilkan oleh lampu laser dan lampu halogen. Lampu laser, seperti laser pointer untuk presentasi, atau yang dijual di pinggir jalan untuk mainan, punya sifat searah, dengan intensitas, monokrom dan koheren, menyatu. Tak heran jika lampu laser kecil itu punya jarak sorot hingga 3 sampai 5 kilometer. Luar biasa teknologi temuan fisikawan Amerika Serikat pada 1957 ini. Manfaatnya sesungguhnya banyak untuk bidang kesehatan maupun konstruksi. 

Sedangkan lampu halogen biasa digunakan untuk penerangan lampu kendaraan. Keunggulannya adalah cahaya terang dan menyebar sehingga cocok digunakan di segala cuaca. Lampu halogen ini berpijar dengan intensitas cahaya yang kuat, meskipun panas yang ditimbulkan dapat merusak rumah lampunya. 

Dari perumpamaan lampu tadi, seharusnya orang belajar agama dapat diasosiasikan dengan lampu laser atau halogen. Seharusnya, semakin dalam dan kaya ilmu agama yang didalami, ia bisa menjadi lampu halogen. Bisa menerangi daerah yang luas dengan cahaya terang. Bisa menjadi sumber terang bagi orang lain. Cahayanya tidak membeda-bedakan antara manusia, binatang, pohon, beton, tanah, aspal. 

Tapi, kalau orang belajar agama seperti lampu laser, maka sinarnya makin sempit dan kuat. Sinarnya dapat melukai retina mata, dapat membuat kulit kemerahan seperti terbakar. Sinarnya pun dapat dipilih sesuka hati orang yang menggunakan laser itu. Biasanya sinar laser hijau pointer ini disalahgunakan untuk mengganggu orang, bahkan pilot pun bisa terganggu saat terbang. Persis, pemahaman sempit soal agama yang seperti laser ini justru akan menyakiti orang, memilih-milih sasaran, tidak memberi terang pada mereka yang berada dalam kegelapan. 

Sebenarnya yang dipelajari dari ajaran agama adalah sinar kebaikan, sinar cinta, sinar kebijaksanaan yang bisa menerangi akal dan budi manusia. Jangan menjadi sinar laser dengan fanatisme sempit yang menyakitkan orang lain. Alih-alih mencari surga, malah bisa kesasar ke neraka. Alih-alih ingin jauh dari dosa, malah sering berbuat dosa dan salah. Alih-alih ingin suci, malah justru menyakiti hati orang lain. Alih-alih menjunjung tinggi ajaran, malah tindakannya makin intoleran. 

Mari kita jadikan ajaran agama sebagai sumber listrik yang menghidupkan lampu halogen hati kita, agar menjadi terang bagi semua makhluk dan ciptaan.***(Leo Wahyudi S)

Foto dari https://www.popsci.com/are-headlights-getting-brighter-adaptive-driving-beam/

2 thoughts on “Inspiration

Add yours

  1. Subhanallah….membaca artikel Anda dapat jadi insfirasi dalam berfikir. Me jaga sikap dan juga ucapan. Saya setuju jika belajar agama itu bisa seperti lampu.Bukan saja menjadi penerang diri tapi untuk ora g lain. Jadilah lampu yang terangnya cukup tidak sampai membuat terbakar org2 diawkelilingnya.

    Tapi, kita juga perlu paham bahwa cara pandang orang, daya paham orang dan juga cara penyerapan orang itu tidak sama. Ada yg lebih tenang dan juga berambisi lebih.sehingga mereka suka berkobar2 setelah mendapatkan sesuatu. Yang sifat tenang juga pembawaannya tenang dalam melakukan juga menyampaikan.intinya kita sebagai orang yang paham akan lebih beradab dan bijak dalam hal ini.

    Like

    1. Terima kasih sudah mau membaca dan memberi komentar..semoga agama menjadi energi yg memyalakan lampu agar memberi terang pada semua makhluk ciptaanNya..biar selaras dengan Sang Pencipta

      Liked by 1 person

Leave a reply to Mislainmislaini Cancel reply

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑