Inspiration

FREKUENSI DOA

Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah postingan di Instagram. Ada seseorang yang melakukan eksperimen dengan dua garpu tala. Satu dipegang orang tersebut, dan satunya lagi ditaruh dalam jarak sekitar 10 cm, dan ada bola pingpong yang digantung pada seutas benang dan menempel pada garpu tala itu. 

Garpu tala yang ditaruh bersama bola pingpong itu tertulis 440 Hz. Artinya memiliki frekuensi nada seukuran itu. Lalu orang tersebut memegang garpu tala lain dengan frekuensi 512 Hz. Ia kemudian memukul garpu tala tersebut agar mengeluarkan bunyi. Setelah dipukul berulang kali, bola pingpong itu tak bergerak sedikit pun.

Lalu orang itu mengambil garpu tala lain yang bertuliskan 440 Hz. Ketika dipukul, garpu tala itu langsung mengeluarkan bunyi. Yang mengejutkan, garpu tala di sebelahnya pun ikut berbunyi seiring pukulan di garpu tala satunya. Bola pingpong pun akhirnya mulai bergerak, berayun karena getaran bunyi dari garpu tala. Bunyi dari garpu tala dengan frekuensi yang sama berhasil membunyikan garpu tala lain yang sefrekuensi dan bahkan menggerakkan bola pingpong.

Saya coba merenungkan percobaan yang menarik itu ke dalam kehidupan kita. Saya bayangkan pikiran kita ibarat garpu tala. Perasaan kita ibarat bunyi yang dihasilkan pikiran. Garpu tala satunya adalah semesta dengan hukum alamnya yang agung. Bola pingpong itu menjadi gerakan energi akibat resonansi gelombang bunyi dari frekuensi yang kita gaungkan. 

Dalam hukum fisika dikatakan bahwa resonansi bunyi merupakan peristiwa ikut bergetarnya suatu benda akibat getaran yang dihasilkan oleh sumber bunyi. Resonansi bunyi hanya dapat terjadi jika suatu benda memiliki frekuensi alami yang sama dengan frekuensi alami sumber bunyi yang bergetar.

Maaf, ini bukan pelajaran fisika, tapi pelajaran hidup. Dalam kehidupan beragama, kita kadang lupa diingatkan bahwa pikiran manusia memiliki kekuatan yang dahsyat, punya daya cipta yang hebat. Perasaan adalah anugerah Tuhan sebagai indikator untuk menunjukkan apa yang ada dan sedang terjadi di pikiran kita. Pikiran ibarat garpu tala dan perasaan adalah bunyi yang dihasilkan. Keduanya memancarkan energi yang frekuensinya menggema ke semesta.

Kalau kita merasakan hal-hal negatif, artinya pikiran pun sedang dijejali dengan hal negatif. Entah itu ketakutan, kekuatiran, kebencian, keirihatian, keserakahan, kekecewaan, rasa sakit hati, rasa dendam. Perasaan yang akan menggaungkan bunyi sehingga resonansinya akan ditangkap semesta. Lalu akan dikembalikan persis seperti yang kita pikirkan dan kita rasakan. Tak heran kalau hidup kita selalu dipenuhi dengan semua hal negatif itu. 

Saat kita berdoa, sebenarnya kita pun sedang mencoba menabuh garpu tala pikiran dan akan disuarakan oleh perasaan. Tanpa kita sadari, kita sering berakting seperti orang saleh, bijak, merasa suci, bersih, lewat doa. Padahal pikiran dan perasaan kita sesungguhnya jauh dari apa yang kita ucapkan dalam doa. Doa hanya hapalan semata. Pikiran dan perasaan melayang entah kemana. Tanpa makna dan bunyi dari pikiran dan perasaan kita. Kita menyembah, memuji, dan memohon-mohon kemurahanNya, tapi perasaan kita dipenuhi rasa kebencian, permusuhan, ketakutan, kekuatiran. Kita hanya memancarkan energi rendah, energi negatif. Doa hanya menjadi pemancar penguat agar siaran dari pikiran kita bisa jernih ditonton di televisi kehidupan. 

Dalam kondisi semacam itu, frekuensi dan resonansi yang kita gemakan lewat doa, tidak nyambung dengan frekuensi semesta dan Sang Pemilik Semesta. Persis seperti dalam eksperimen tadi. Tak ada bunyi dan energi yang sama untuk menggerakkan bola pingpong. Tak heran jika doa-doa rasanya tak pernah terkabul, karena frekuensinya tidak klop dengan frekuensi Illahi atau semesta. 

Maka kita harus menyadari bahwa setiap detik kita sedang memancarkan frekuensi. Untuk mengubah situasi di luar dan menggeser hidup ke tingkat yang lebih tinggi, kita harus mengubah frekuensi dalam diri agar selaras dengan hukum semesta yang penuh cinta, kebaikan, kebijaksanaan, kebenaran. Pikiran tentang kebaikan, kata-kata kebaikan, dan perbuatan kebaikan mengangkat frekuensi kita ke tingkat yang lebih tinggi. Berarti kita menggaungkan suara dari garpu tala kebaikan yang dapat membunyikan garpu tala yang sefrekuensi di semesta. 

Semakin tinggi frekuensi kita, semakin banyak kebaikan yang kita datangkan ke dalam kehidupan kita. Ini menjadi pengingat saat kita berdoa supaya frekuensi yang kita bunyikan bisa pas dengan frekuensi Illahi. Untuk menghasilkan bunyi yang pas, pikiran dan perasaan harus selalu selaras.***(Leo Wahyudi S)

Foto dari https://www.edrawmax.com/article/understanding-tunning-fork-resonance-with-science-diagram.html

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑