Pernah seorang teman bercerita dengan penuh optimisme bahwa dia nanti akan mendapatkan rejeki nomplok. Bahkan ia berani menyebutkan nominalnya. Dengan nominal uang yang lumayan itu ia berani memberikan janji-janji muluk. Tak cukup di situ, ia bahkan berani membeli barang secara kredit, karena ia yakin nanti pasti akan terbayar lunas begitu mendapatkan rejeki nomplok. Rejeki itu memang menurut hitung-hitungan lumrah, sudah ada di depan mata.
Semenjak itu, hidupnya yang selalu dihadapi dengan kepahitan karena tambal sulam memberikan semangat hidup yang penuh optimisme. Hari-harinya selalu dipenuhi mimpi akan datangnya rejeki nomplok itu. Kelihatan sekali raut muka yang biasa murung kini menjadi penuh semangat. Ia selalu berbicara dengan penuh keyakinan akan datangnya hari penuh rejeki. Ia ngotot dengan harapannya, sampai berani memastikan harinya. Seolah dia sudah melebihi Sang Pencipta yang tahu persis kapan datangnya rejeki.
Setelah di hari H yang dijanjikan, teman tadi tak muncul. Saya pun ikut berbahagia karena teman saya pasti sedang belanja dan bersenang-senang. Beberapa hari kemudian, ia muncul. Tampangnya kusut. Ternyata, semua harapannya punah. Rejeki nomplok yang ia dambakan dengan kengototan itu sirna. Yang lebih membuat ngilu adalah tagihan barang-barang yang sudah terlanjur dikredit.
Saya pun sejujurnya sering mengalami hal serupa. Ketika ada tawaran, atau peluang, saya langsung menyambar dengan pengandaian dan mimpi yang obsesif. Saya akan ngotot mengejar dan membesar-besarkan harapan itu seolah semua sudah berada dalam genggaman. Ujung-ujungnya sama seperti teman saya tadi. Makan pepesan kosong, alias zonk. Harapan itu tak kunjung jadi kenyataan.
Memang tidak salah, ngotot mengejar mimpi dan harapan. Bahkan kita selalu dicekoki dengan pepatah agar kita mengejar mimpi. Mimpi yang dikejar itu malah seperti kucing. Semakin dikejar, kucingnya makin berlari kencang. Demikian pula kalau kita ngotot berharap, kita hanya capek dengan harapan. Saking ngototnya sampai lupa bahwa harapan itu harus diwujudkan.
Belajar dari pengalaman itu, saya membuat peribahasa sendiri sebagai monumen pengingat kebodohan saya dalam hidup. “Jangan pernah berharap. Semakin kita berharap akan sesuatu, maka kita tidak akan mendapatkan apa pun. Semakin kita tidak mengharapkan sesuatu, maka kita akan mendapatkan sesuatu”. Saya pernah membuat tulisan agar kita tidak berharap.
Saya tergelitik dengan pendapat pakar spiritual Jawa, Dhimas Tunjung. Dalam unggahannya di medsos ia mengatakan bahwa semakin kita mengejar apa yang kita inginkan, maka kita tidak akan mendapatkan apapun. Yang muncul hanya kekecewaan, bukan kenyataan seperti yang kita harapkan.
Maka, ketika kita menginginkan sesuatu dengan tulus dan kuat, niatkan dalam doa dan kemudian lepaskan. Lupakan. Mengapa harus dilupakan? Karena pikiran kita sudah mengirimkan frekuensi harapan ke semesta. Kalau mengingat-ingat dan berharap-harap, artinya kita memberi beban pada frekuensi harapan itu. Sinyal harapan itu jadi terganggu. Alih-alih kita mendorong untuk mendapatkan hasil positif dari harapan, kita justru sedang memancarkan energi negatif. Energi ini muncul dari sikap kita yang ngotot, mendikte arah dan tujuan harapan, mendikte kapan harapan jadi kenyataan. Ketika kita ngotot, kita justru sedang memberi api yang akan membakar habis harapan itu. Hasilnya bukan positif, tapi negatif seturut nafsu ngotot yang kita pancarkan. Percaya atau tidak, silakan praktikkan. Saya sering mengalami sendiri kegagalan akibat sikap saya yang ngotot.
Semakin kita ngotot mengejar uang, semakin sulit uang diperoleh. Itu kata pepatah. Persis seperti saat kita mengejar kucing di jalanan. Semakin kita kejar, semakin kencang kucing berlari. Demikian pula dengan harapan untuk mengejar kebahagiaan, impian, keinginan. Kebahagiaan itu seperti kupu-kupu. Semakin kita kejar, kupu-kupu itu akan lari menghindar. Tapi ketika perhatian kita tertuju pada hal-hal lain, maka kupu-kupu itu akan datang sendiri dan pelan-pelan akan hinggap di bahu atau tangan kita.***(Leo Wahyudi S)
Foto dari https://tinybuddha.com/blog/how-to-keep-going-when-your-dream-seems-far-off/

Leave a comment