Rasanya dalam kehidupan sehari-hari kita kerap berasumsi, berandai-andai, mengandaikan sesuatu seperti yang kita harapkan. Entah itu terhadap orang lain, anggota keluarga, atau suasana tertentu. Berasumsi atau berandai-andai itu merupakan pernyataan yang kita terima atau kita yakini apa adanya tanpa ada bukti kuat. Tentu asumsi ini yang sifatnya negatif yang belum tentu ada kebenarannya.
Pernah ada sebuah cerita tentang seorang biksu yang bertapa di sebuah gunung. Ia hidup bersama seorang anak perempuan yatim piatu yang diasuhnya dari kecil. Anak perempuan itu dididik dengan penuh keutamaan seorang biksu. Anak itu pun makin berkembang menjadi wanita dewasa.
Suatu kali, terjadi kehebohan. Anak gadis yang hidup bersama biksu itu hamil. Mengetahui hal tersebut, penduduk desa di kaki pegunungan yang sering memberi sedekah kepada sang biksu marah. Mereka telah berasumsi bahwa biksu itu ternyata bejat karena telah menghamili anak asuhnya. Mereka lalu mendatangi biksu itu dan menghajarnya sampai babak belur.
Anak gadis yang hamil itu hanya diam dan takut. Ia berasumsi sang biksu sudah mengetahui dengan siapa dirinya hamil. Sampai akhirnya perempuan muda itu mengakui perbuatannya bahwa ia hamil dengan salah seorang penduduk desa. Sang biksu yang babak belur itu hanya diam dan bersyukur atas kebenaran yang ia dengarkan. Penduduk desa pun langsung bersujud dan meminta maaf atas asumsi keliru terhadap sang biksu.
Kita pun sering bersikap seperti penduduk desa dan perempuan muda itu. Kita hanya diam, menikmati, dan meyakini asumsi terhadap orang lain. Padahal asumsi itu keliru. Asumsi bisa mencelakakan seperti dalam cerita tadi. Semua hanya berangkat dari pengandaian tanpa pernah dibuktikan atau ditanyakan.
Dalam keseharian pun kita tak jarang pula kita sering mengatakan, “DIa itu orangnya anu, kan seharusnya dia bisa anu”, “Dia sepertinya begini, maka harusnya kan bisa begitu.” Dan masih banyak lagi ungkapan pengandaian. Kita sangat pintar dalam berasumsi dengan mengandaikan orang lain bisa melakukan atau menjadi seperti yang kita harapkan. Asumsi semacam itu ujung-ujungnya hanya memunculkan rasa gusar, kemarahan, kebencian, kejengkelan, dan kekecewaan, karena tidak pernah terbukti atau terjadi.
Paling tidak itu yang saya alami. Keluarga besar saya sangat jago dalam membangun asumsi. Ketika terjadi suatu peristiwa yang tidak mengenakkan, ibu saya sering mengatakan, “Kan dia udah dewasa, harusnya kan bisa mikir sendiri, mana yang benar dan yang tidak.” Dari ungkapan itu lalu muncul lagi pengandaian-pengandaian tak berdasar, “Harusnya kan dia begini… harusnya ini kan tidak terjadi… harusnya kan dia tahu sendiri….bla bla bla…”. Akhirnya satu keluarga terseret dalam permainan asumsi. Hasil akhirnya adalah rasa gondok, jengkel, marah, tapi tidak pernah diungkapkan secara terbuka. Jika dibiarkan berlarut-larut, asumsi semacam itu akan mengakibatkan perpecahan.
Asumsi atau pengandaian itu seringkali menyesatkan. Asumsi yang salah, tidak akurat justru akan membawa ke kesimpulan yang salah dan hasil akhir yang tidak sesuai harapan. Asumsi membawa dampak yang mudharat daripada manfaat. Efeknya sangat menyebalkan dan membuat ganjalan-ganjalan dalam berelasi. Bahkan sebuah relasi bisa pecah gegara asumsi tak berdasar itu.
Saya setuju dengan ungkapan Henry Winkler, seorang aktor Amerika, yang mengatakan, “Asumsi itu bagaikan rayap-rayap dalam sebuah relasi.” Rayap itu binatang kecil yang dapat menggerogoti perlahan-lahan sampai menghancurkan sebuah rumah megah. Di keluarga besar saya rayap-rayap asumsi itu dibiarkan berkembang biak, beranak pinak. Bangunan relasi keluarga lama kelamaan digerogoti dengan kejengkelan dan kemarahan tersembunyi gegara asumsi.
Praktik berasumsi dan berandai-andai ini harus diberantas. Kalau tidak, asumsi tidak sehat ini akan menghancurkan relasi sosial persis seperti kelakuan rayap. Ada orang pintar yang menyarankan. Jangan pernah untuk membuat asumsi atau pengandaian. Bangkitkan keberanian untuk bertanya dan mengungkapkan apa yang kita inginkan sebenarnya. Artinya, dalam sebuah relasi harus dibangun sebuah komunikasi yang baik. Komunikasi dua arah. Dengan komunikasi yang baik maka kita akan terhindar dari kesalahpahaman, sesat pikir, kekecewaan, kemarahan, dan drama-drama yang tidak penting dalam kehidupan sehari-hari. Mulai sekarang, mari kita singkirkan asumsi dengan komunikasi terbuka.***(Leo Wahyudi S)
Foto dari https://tyonote.com/prejudice/

Leave a comment