Inspiration

MENGOREK LUKA LAMA

“Orang bodoh tidak bisa memaafkan maupun melupakan. Orang naif bisa memaafkan dan melupakan. Orang bijak bisa memaafkan tetapi tidak dapat melupakan”. Sangat menyakitkan ketika saya membaca kalimat itu. Ternyata saya masih dalam kategori orang bodoh yang tidak (tepatnya ‘belum’) bisa memaafkan maupun melupakan. Kalau Anda berada di kategori mana? Inilah tantangan pertama untuk orang yang masih punya rasa sakit hati terhadap seseorang.

Tantangan kedua bagi saya adalah memberanikan diri menguak luka lama, sakit hati kita, dengan mengingat kembali peristiwa dan orang yang telah menyakiti hati kita. Kita seolah menonton kembali video sakit hati di masa lalu dengan tokoh utama kita sendiri yang menjadi ‘korbannya’. Jelas ini butuh nyali. Bayangkan Anda sedang punya luka yang mau kering, tapi belum sembuh benar, lalu sengaja dikopek-kopek. Pasti akan bikin nyeri. 

Tantangan ketiga, kita memilih untuk menjadi orang berjiwa besar atau berjiwa kerdil dan pengecut. Sesuai anjuran Mahatma Gandhi, orang berjiwa besar adalah orang yang berani memaafkan, mengampuni. Saya berusaha meyakinkan diri saya untuk memilih jenis manusia yang kedua ini, sesulit dan seberat apapun. 

Dengan pilihan itu, saya lalu mengadopsi pemikiran filsuf Yunani, Epictetus, yang mengatakan bahwa yang penting itu bukan apa yang terjadi pada Anda, tetapi bagaimana Anda bereaksi terhadap apa yang terjadi itu. Jadi, sudah saatnya saya harus bereaksi bijak terhadap rasa sakit hati dan orang yang kita benci atau tidak kita sukai. Saya yakin bahwa kemarahan, kebencian, justru akan membuat kita makin kerdil. Sebaliknya, pengampunan, memberikan maaf akan membuat kita makin bertumbuh dan dewasa secara spiritual. 

Kalau kita mendapati diri dalam situasi yang negatif dengan seseorang di dalam hidup kita, luangkan beberapa menit setiap hari untuk merasakan cinta untuk orang itu dalam hati Anda, kemudian kirimkan kepada Semesta. Hanya dengan melakukan ini, Anda terbantu menyingkirkan semua dendam, kemarahan, atau negativitas kepada orang itu.

Tidak mudah mencerna, apalagi melakukan anjuran bijak itu. Saya mencoba memutar ulang video pahit hidup saya itu. Saya beranikan untuk menatap orang-orang yang tidak saya sukai, yang pernah menyakiti hati saya. Tentu awalnya harus berpura-pura berjiwa besar. Lambat laun keyakinan positif bahwa kita berjiwa besar, kita ingin sembuh, kita ingin netral, akan memuluskan upaya untuk memaafkan orang-orang tersebut. Biarkan berproses, sekalipun lamban, karena ujungnya kita akan menemukan kedamaian.

Kita harus ingat bahwa perasaan dendam, marah, atau setiap emosi negatif menarik kembali semua emosi negatif itu kepada kita. Merasakan cinta akan menarik cinta kembali kepada kita. Apa yang kita rasakan kepada orang lain, sebenarnya kita datangkan sendiri kepada diri kita. Kalau kita mengampuni, maka kita akan sembuh. Kalau kita membiarkan kesakitan dan kebencian itu berlalu, maka kita akan tumbuh. 

Setelah mengalami perjuangan perasaan yang tak mudah, akan ada saatnya kita merasa lega, plong, tuntas, dengan rasa sakit hati. “Pengampunan yang sejati adalah ketika Anda dapat mengatakan ‘Terima kasih atas pengalaman yang Anda berikan’,” kata Oprah Winfrey. Dan, saya pun berkata, “Terima kasih, Oprah, kau sudah membuatku belajar untuk memaafkan dan mengampuni.” *** (Leo Wahyudi S) 

Foto diambil dari https://www.eastsidechristiancounseling.org/blog/2020/1/29/four-pillars-of-radical-forgiveness

3 thoughts on “Inspiration

Add yours

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑