Musuh si Iman bisa banyak namanya. Dan yang seperti sering terjadi, orang yang berani menggoyahkan atau mempertanyakan iman, musuhnya bisa berjilid-jilid banyaknya. Tapi, musuh iman hanya satu, yaitu keraguan. Saya tidak akan membuat musuh, karena tulisan ini hanya merupakan ajakan bagi semua orang yang mengaku beriman untuk merenungkan kembali esensi iman dan gaya keberimanan yang dijalaninya, terlepas dari agama atau keyakinan apa pun.
Konsep iman atau keyakinan itu muncul karena adanya agama. Iman menjadi dasar batiniah seseorang yang memercayai kekuatan supranatural yang maha atau Tuhan. Lalu agama adalah bentuk formal yang menjadi wadah bagi sistem atau aturan yang memasilitasi praktik iman. Menurut, Yuval Harari dalam bukunya “Homo Sapiens” yang terkenal itu, awal munculnya kepercayaan religius terhadap entitas yang tidak nyata secara fisik itu muncul sekitar 70 ribu tahun silam. Manusia mengalami perubahan kemampuan otak untuk membayangkan hal yang tidak terlihat dan mampu menciptakan cerita bersama tentang roh, dewa, leluhur, kekuatan alam.
Semenjak itu orang mulai berlomba untuk meyakini sebuah kekuatan ilahi yang jauh melampaui manusia dengan ritual dan keyakinan. Orang berlomba untuk beriman agar mendapat balasan dan pahala. Tapi yang lucu, alih-alih menguatkan iman, banyak juga yang tanpa sadar membesarkan keraguan sekaligus. Dan ironisnya, keyakinan dan keraguan ini dipelihara sekaligus melalui ritual doa yang kusyuk. Dengan kata lain, kekusyukan doa itu sebenarnya untuk menambal keraguan yang sangat kuat.
Orang yang penuh keraguan itu bukan berarti tak beriman. Orang yang penuh iman juga belum tentu bebas dari keraguan. Keduanya saling antri untuk unjuk diri. Orang yang merasa imannya kuat dan tebal akan penuh percaya diri mengatakan, “Tuhan pasti akan menyelesaikan masalahku.” Di saat yang sama, ia mengatakan, “Tapi Tuhan tahu kalau aku lagi punya banyak masalah.” Pikiran dan perasaannya dipenuhi oleh kepenatan dan kebuntuan karena ditimpa masalah bertubi-tubi. Ada dua kutub yang saling adu kuat. Yang satu yakin dan berharap masalah selesai. Yang satu lagi belum terlalu yakin masalah selesai.
Iman bukan harapan yang mudah patah atau optimisme buta. Iman adalah pemahaman dan keyakinan yang dalam bahwa sesuatu terjadi. Iman itu merasakan kepastian dan tidak perlu bukti atau validasi. Hanya yakin semuanya terjadi. Sementara keraguan adalah respons terhadap kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Keraguan selalu butuh bukti nyata dari yang belum terlihat. Kita butuh bukti agar kita yakin. Tapi, di sisi lain, kita butuh keyakinan dan iman agar bisa punya bukti. Kita sering terjebak pada situasi semacam ini.
Keraguan itu manusiawi. Apalagi belum ada bukti. Keraguan itu kecil, tak punya akar, tak berbobot, tidak bisa tumbuh, bahkan tak punya kekuatan apa pun. Tapi, ketika keraguan itu kita beri perhatian, kita pikirkan, maka keraguan itu bagaikan benih yang jatuh di tanah subur. Semakin kita memperhatikan, mendengarkan, membahas, mempertanyakan, dan memaksanya untuk tunduk, maka keraguan itu semakin mendapatkan pupuk yang mempercepat akarnya untuk tumbuh. Tak perlu berhari-hari, bahkan dalam hitungan jam keraguan yang tumbuh subur itu akan menjelma seperti sebuah kebenaran yang kita yakini. Iman pun runtuh dan terbelokkan oleh keraguan yang tampil seperti kebenaran.
Semakin kita melawan keraguan, semakin kita meyakini bahwa apa yang kita ragukan menjadi kenyataan. Keraguan itu menang bukan karena dirinya kuat. Ia menang karena kita terus melawan dan bernafsu untuk mengalahkannya. Melawan keraguan itu sama saja berperang melawan bayang-bayang. Padahal, keraguan itu takkan berarti apa pun, kalau kita tidak memikirkan dan memperhatikannya.
Agar benih keraguan mati, maka jangan kita memberi perhatian sedikit pun. Mengabaikan keraguan bagaikan memotong akarnya agar tidak tumbuh lebih besar. Kalau kita mengabaikan keraguan, maka benih keraguan itu seperti jatuh di permukaan beton yang akan membuatnya kering dan gagal tumbuh.
Dengan memberi perhatian pada keraguan satu detik, kita sedang mengurangi iman kita satu detik. Iman menjadi tidak utuh lagi. Padahal iman yang solid adalah keyakinan penuh pada satu kepastian sekalipun itu hanya satu detik dan tanpa ragu sepersekian detik pun.
Iman itu kekuatan yang dinamis. Iman mengalir dari keyakinan yang tidak mudah tunduk pada kenyataan. Iman itu meyakini bahwa yang tidak terlihat akan menjadi terlihat, yang tidak terjadi akan benar terjadi. Iman itu percaya pada kepastian. Keyakinan utuh itu melampaui akal, melampaui bukti, dan melampau apa yang dianggap tidak mungkin. Iman itu melampaui realita dan tidak dibatasi ruang dan waktu.
Pikiran kita yang dibungkus iman memiliki kekuatan dan daya cipta. Apa yang kita imani dan yakini dalam pikiran akan menentukan siapa dan apa yang terjadi pada hidup kita sesungguhnya. Dari pikiran lahirlah kata-kata dan rasa. Kita harus mengimani bahwa kata adalah doa. Kata bisa menjadi jembatan ke realita. Seperti pada awalnya adalah sabda yang kemudian menjelma menjadi semesta. Maka kita harus berhati-hati dengan kata-kata agar tidak mencipta yang bisa berbahaya.
Baik iman maupun keraguan, keduanya butuh keyakinan agar tumbuh subur. Hanya dengan kesadaran dan keyakinan seperti ini, maka keraguan tidak akan memperoleh panggung. Kita jangan memberi perhatian pada keraguan sedetik pun meski keraguan suka caper. Saat membiarkan, bukan melawan, keraguan, maka kita sedang menumbuhkan keyakinan dan iman.***

Leave a comment