Inspiration

IMAN TAK TERGOYAHKAN

Berbicara iman di bulan suci ini menjadi topik relevan. Tapi kalau bertanya kualitas keteguhan iman, itu yang jadi pertanyaan. Keteguhan iman itu saya bayangkan seperti sebuah pohon besar yang berdiri tegak di tengah padang luas yang kuat sekalipun ada badai. Ranting-rantingnya mungkin berderak, daun-daunnya mungkin berguguran, namun batangnya tetap kokoh. Di balik ketenangan itu, ada akar-akar yang mencengkeram bumi dengan penuh keyakinan. Pohon itu tidak sedang bertarung melawan angin. Dia hanya sedang menjadi dirinya sendiri, berpijak pada sesuatu yang tidak terlihat namun memberi kehidupan.

Hidup dengan iman atau keyakinan kuat serupa dengan akar tersebut. Banyak yang keliru menganggap bahwa beriman berarti melarikan diri dari kenyataan atau sekadar menghibur diri dengan angan-angan. Beriman dalam agama atau keyakinan seperti tempat pelarian. Namun, sejatinya, iman adalah bentuk penguasaan diri yang paling tinggi. Ia bukan tentang menyangkal bahwa ada badai di depan mata, melainkan tentang memiliki dasar yang begitu dalam. Ini adalah soal kekuatan batin yang penuh keyakinan. Bahkan sekalipun keyakinan itu hanya sedetik atau sekecil biji sesawi. Kecil tapi solid, itu sudah cukup. Dengan demikian tidak ada fakta lahiriah yang mampu menggoyahkan ketenangan batin kita.

Ketika kita memilih untuk hidup dalam iman, kita sebenarnya sedang memilih untuk merdeka. Kita merdeka dari rasa takut akan masa depan. Kita merdeka dari keraguan yang sering kali berujung kegagalan. Dengan beriman, sejatinya kita tidak membatasi hidup kita dengan penjara-penjara ketakutan yang dibuat oleh pikiran kita sendiri. Kita merdeka dari keterbatasan yang dipaksakan oleh dunia luar.

Sering kali, dunia meminta kita untuk melihat terlebih dahulu baru kemudian percaya. Kita terbiasa menuntut bukti nyata sebelum berani melangkah. Melihat sebelum percaya. Ini manusiawi. Namun, iman membalikkan logika itu. Kita percaya, maka kita akan melihat yang tak kelihatan sehingga bisa terlihat. Ini bukan sebuah trik pikiran atau sekadar akting di permukaan. Hidup seolah-olah sudah menjadi nyata seperti yang kita harapkan. Inilah ekspresi terdalam dari kepercayaan atau iman kita kepada Sang Pencipta. Kita diberi kekuatan dan potensi yang Dia titipkan dalam diri kita. Kita tinggal meyakini dan menggunakan kekuatan itu dengan keyakinan penuh. Bahkan iman bisa menjadi kekuatan yang tidak hanya menerima realitas, tetapi perlahan mengubahnya menjadi realitas yang kita imani.

Saat kita punya iman dan keyakinan teguh, kita bisa mengabaikan suara-suara keraguan yang bising di luar sana. Kita tidak akan membiarkan keraguan atau ketakutan itu mendikte keyakinan kita. Kita mulai mendengar suara yang lebih jernih di dalam hati. Iman adalah pondasi yang membuat kita tetap berjalan meski kabut belum sepenuhnya terangkat. Ia memberi kita keberanian untuk berkata, “Semua sudah terjadi dan menjadi kenyataan.” Dengan iman, kita berani meyakini bahkan sebelum tangan kita menyentuh hasilnya. Dengan iman, kita tidak lagi sekadar bertahan hidup. Kita berdaulat penuh atas kedamaian kita sendiri. Sebab pada akhirnya, tidak ada fakta yang lebih kuat daripada keyakinan yang telah mengakar di relung jiwa, persis seperti akar dan pohon yang kuat di tengah padang.

Hidup dengan iman adalah hidup yang bebas dari keraguan dan batasan diri. Ketika iman makin kokoh, fakta atau kenyataan di luar diri yang tidak sesuai doa atau mimpi kita tak akan menggoyahkan keyakinan kita. Sekalipun doa atau mimpi kita tertunda, itu adalah proses dari yang tak terlihat untuk segera terlihat dan terjadi seperti yang kita doakan. Yakin dan mengimani apa yang kita impikan seolah sudah terjadi adalah ungkapan iman yang terdalam. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑