“MBOK BEN” UNTUK MENYUCIKAN HATI
Anda pasti setuju bahwa kehidupan tidak selalu indah seperti yang kita impikan. Banyak hal bertolak belakang dengan segala hal ideal seperti yang didambakan. Harus diakui bahwa kehidupan tidak selamanya putih dan terang. Ada warna hitam kelam dan kegelapan. Dunia ini penuh ketidakadilan. Dunia penuh kejahatan, kebencian, kekacauan. Dunia seolah dipenuhi dengan semua hal negatif dan hal buruk.
Sayangnya kita harus hidup di dalam segala warna. Kadang putih dan terang. Kadang pula kita hidup dalam warna hitam dan kegelapan. Kita harus selalu bisa beradaptasi antara yang diharapkan dan kenyataan yang dialami. Hanya yang mampu beradaptasi yang dapat menemukan indahnya kehidupan. Mereka yang gagal akan lebih sering mengalami hidup sebagai penderitaan dan korban ketidakadilan. Semua akhirnya tinggal menjadi pilihan kita sendiri.
Saya menulis tentang “mbok ben” ini bukan tentang sosok ibu atau mbok-mbok. Saya terinspirasi dari seorang sahabat saya yang pernah mendapat dari guru spiritualnya dengan kata “mbok ben”. Kata dari bahasa Jawa ini artinya “sudah biarkan saja, biarin”. Frasa itu memiliki makna yang dalam ketika kita harus menyikapi sesuatu. Ungkapan itu adalah cara untuk membiarkan sesuatu terjadi yang berada di luar kendali kita tanpa harus memengaruhi hati dan pikiran kita.
Kehidupan kita selalu menyuguhkan banyak peristiwa yang tidak menyenangkan, bahkan menyakiti rasa keadilan. Kita yang menonton pun spontan akan menuding dan menilai, menghakimi, dan melabeli sebagai kejadian yang tragis, tidak adil, jahat, salah, buruk, memalukan, dan sebagainya.
Padahal sejatinya segala peristiwa di luar diri kita itu adalah netral. Tidak ada label jahat, buruk, jelek, tidak adil, baik, indah, dan sebagainya. Pikiran dan hati kitalah yang membuat semua peristiwa itu tidak netral lagi. Kitalah yang memberikan label baik atau buruk, jahat atau suci. Kitalah yang sibuk menghakimi, menilai, memberi cap. Setelah menghakimi orang lain, kita lalu berekspektasi, “Harusnya kan bukan begitu”, “Harusnya, dia sadar, dia baik, dia jujur, dia baik,” dan sebagainya.
Tragisnya, kitalah yang akhirnya terkena label itu. Dari kata “Harusnya, …bla bla bla” itu kita mulai masuk dalam ekspektasi. Kita masuk dalam pusaran kekecewaan karena ekspektasi kita tak kunjung terwujud. Kita jadi marah, protes, benci, atau bahagia, senang. Penilaian pada peristiwa di luar diri kita akhirnya masuk dan merusak pikiran dan hati kita. Kita masuk dalam siklus menghakimi, berekspektasi, lalu jadi benci, kecewa, dan akhirnya merusak pikiran dan hati.
Ungkapan “mbok ben” ini adalah obat manjur sesaat sebelum pikiran kita tergoda untuk menghakimi dan berekspektasi. Hal ini dapat kita latih. Contohnya banyak. Kalau kita melihat emak-emak berkendara motor di jalanan. Mereka adalah raja jalanan yang hanya tahu berkendara tapi tak punya etika. Belok kanan dengan lampu sign kiri. Memotong jalan tanpa menoleh kanan kiri. Hanya dia dan Tuhan yang tahu kapan dia belok. Para pengguna jalanan yang normal pasti akan marah. Saya pun pasti ngomel dan menghakimi saat mengalami situasi semacam itu. Hati jadi panas karena kaget dan membahayakan keselamatan.
Di saat seperti itu, cobalah mengatakan “Mbok ben” saat mulut dan hati kita tergoda dan mau bereaksi negatif. Rasakan sendiri efeknya. Ekspektasi tidak akan sempat muncul. Rasa dongkol urung tampil. Menghakimi pun tak jadi keluar. Kata makian dan umpatan juga gagal unjuk gigi. Hasilnya kita santai dan mungkin tersenyum sambil terus berkata “Mbok ben”.
Hal ini juga berlaku di saat kita melihat banyak kejahatan dan ketidakadilan di sekitar kita. Kalau kita sibuk menghakimi, hati kita tak bakal merasa damai. Hati dan pikiran kita akan merasa damai kalau kita tidak membiarkan orang lain atau peristiwa di luar diri kita mengendalikan emosi dan pikiran kita. Kata “mbok ben” itu adalah pintu dengan tanda larangan agar hal-hal di luar diri kita tidak merusak rasa damai dalam diri.
“Mbok ben” adalah ungkapan agar kita tidak mudah menghakimi atau iri hati. Saya ingat pesan Mahatma Gandhi, “Jangan menghakimi orang lain. Jadilah hakim untuk dirimu sendiri agar kamu bahagia. Kalau kamu tetap mencoba menghakimi orang lain, maka kamu sedang membakar ujung jari-jarimu.” Maksudnya, ketika kita menghakimi dan menunjuk orang lain, kita sedang membakar hati dan pikiran kita.
“Mbok ben” akan membantu pikiran dan hati kita jadi suci dan damai karena tidak mudah tergoda untuk menghakimi. Tak seorang pun sempurna. Maka, saat kita tergoda untuk menghakimi, mengritik, menilai orang lain, berhentilah sejenak. Pikirkan tentang kedamaian diri kita. Pikirkan juga bahwa orang lain mungkin sedang berjuang untuk hidupnya sendiri yang kita tidak tahu. Itu pesan orang bijak. ***

Leave a comment