Saya kemarin naik kereta komuter dan terjepit di antara puluhan orang tanpa menyisakan ruang setapak pun untuk bergerak. Persis seperti genangan cendol. Celakanya saya berdempetan dengan salah seorang penumpang dengan bau badan yang menyengat. Tangannya berpegangan erat pada tali kereta dan ketiaknya pas berada di dekat muka. Bisa dibayangkan baunya selama perjalanan dengan ruang gerak yang nyaris tidak ada.
Perjalanan saya hanya 30 menit. Tapi waktu jadi terasa sangat lama ketika kita berada atau mengalami sesuatu yang tidak kita sukai. Apalagi berdekatan dengan penumpang kereta komuter dengan bau badan menyengat, jarak yang pendek pun akan terasa sangat panjang. Tidak ada cara lain kecuali berdamai dengan keadaan daripada mood saya rusak di pagi itu.
Saya teringat sebuah ilmu sederhana yang saya peroleh saat saya dulu sering meliput di kamar mayat di sebuah rumah sakit terkenaldi Jakarta. Setiap hari saya harus memelototi papan nama dan mengecek jenazah yang kebanyakan meninggal secara tidak wajar di ruang pendingin kamar jenazah. Awalnya saya merasa jijik dan mual saat melihat kondisi jenazah yang kadang baunya melebihi bau bangkai binatang. Sensasi itu bisa terbawa sampai beberapa hari.
“Mas, cobalah menelan ludah saat melihat mayat atau mencium bau yang busuk,” kata salah seorang petugas kamar mayat yang sudah senior pada saya suatu hari. Saya kaget dengan saran tersebut. Karena pada umumnya orang akan membuang ludah saat mencium bau busuk. Membayangkan kita menelan ludah saat mencium bau busuk pun rasanya sudah bikin mual. Tapi, akhirnya saya pun memraktikkan tips tersebut. Ternyata benar, dan ada efeknya. Menelan ludah bisa menghilangkan rasa mual, jijik, dan keinginan untuk meludah. Saya lalu terbiasa, bahkan melihat jenazah atau mencium bau busuk sambil minum atau makan permen pun bisa saya lakukan dengan enteng. Tidak ada lagi memori mual, jijik, dan kebauan yang terus menghantui hidung saya.
Hidup dan kehidupan tidak selalu indah seperti yang dibayangkan. Hidup tidak selalu dipenuhi aroma wewangian dan kemewahan. Hidup tidak selalu penuh dengan sinar matahari dan cahaya pelangi. Ada hari yang terasa berat, sulit, dan membuat sedih yang tak berkesudahan. Bahkan kerasnya hidup kadang sampai membuat kita berlutut dan menyerah.
Bagaimana belajar menyikapi hidup yang tak selalu sempurna dan penuh bau menyengat? Saya menemukan keutamaan hidup yang sepele. Saya belajar untuk berdamai dengan menelan ludah ketika berhadapan bau. Karena kalau saya menolak bau dan jijik, saya akan meludah. Semakin ditolak, semakin menyengat baunya, dan kita semakin ingin meludah sesering mungkin.
Bagi saya meludah itu simbol penolakan dan bahasa tubuh sederhana yang justru memicu hal negatif. Ketika kita membau sesuatu yang busuk, meludah pun tak akan menyelesaikan masalah, atau mengubah bau menjadi wangi seperti yang kita mau. Kalau tidak percaya silakan praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Saat berpapasan dengan truk sampah, atau bau sampah atau bangkai binatang, semakin kita meludah, bau itu rasanya semakin menempel di ujung hidung. Hidup jadi tidak nyaman karena kita membawa sensasi jijik dan bau itu ke mana pun kita pergi. Semakin menolak, semakin menempel sensasi bau itu di memori.
Kita hanya bisa berdamai dengan bau busuk itu, yaitu dengan menelan ludah. Berdamai berarti menerima apa adanya. Sejak saat itu, menelan ludah di saat tercium bau busuk menjadi simbol sederhana untuk berdamai dengan keadaan yang tidak kita sukai.
Kehidupan memerlukan perdamaian dan penerimaan atas apa yang tak bisa kita kendalikan. Saat hujan dan badai datang, mampukah kita menolak dan mengubahnya? Saya rasa tidak. Kita harus mau menerima hujan dan badai sebagai realitas yang kita hadapi. Hidup sebenarnya bukan soal menunggu badai dan hujan reda, tetapi kadang tentang cara kita berjalan atau bahkan menari di saat hujan, sekalipun tubuh kita harus basah.
Jangan melawan realitas, tapi terimalah realitas apa adanya. Ini bukan sikap menyerah, tetapi sebuah strategi untuk menyikapi kehidupan agar kita tidak menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan energi untuk sesuatu yang tidak bisa kita ubah. Begitu pesan orang bijak. Menelan ludah adalah cara sederhana untuk menerima realitas agar pikiran kita tidak membawa bau busuk dalam kehidupan kita. Hapuslah memori tentang bau busuk, niscaya kita akan mencium aroma wangi kehidupan. ***

Leave a comment