Beberapa waktu lalu sahabat sekaligus mentor saya pernah berkisah tentang masa lalunya. Ia terjebak dalam kondisi yang membuat dirinya jatuh dalam jeratan hubungan yang tak sehat. Kebaikan dan ketulusannya dimanfaatkan oleh seorang perempuan yang nekat. Padahal perempuan itu pernah menjadi sahabat istri sahabat saya.
Ceritanya dramatis dan tragis. Persis seperti kisah di sinetron. Semenjak kejatuhannya, dia merasa semakin terjerat dalam jebakan yang membuat dia tersandera. Dia sampai merasa tidak punya pilihan saat menghadapi buah simalakama yang penuh dilema. Dia ingin lepas, rumah tangga dan reputasinya bisa hancur. Kalau dia bertahan, dia hanya dimanfaatkan dan dijadikan sapi perah. Untunglah akhirnya dia berani membuat keputusan termasuk berani menanggung segala risikonya dalam keluarga dan tetangganya.
Beberapa tahun kemudian, sahabat saya mulai dapat mengendalikan situasi di keluarga maupun di masyarakat. Dia mulai membuka diri dan berdamai dengan semua orang. Dia mulai membangun kembali reputasi dan nama baiknya. Maklum, selama ini dia dikenal sebagai orang yang santun dan alim. Orang tidak akan percaya kalau dia yang sebegitu baik bisa terjatuh dalam jebakan hubungan yang tidak sehat.
Sayangnya, ketika istri, keluarga, dan masyarakat sudah bisa memaafkan dosa masa lalunya, dia justru merasa terseok-seok saat harus berdamai dengan dirinya. Saya sudah meyakinkan dirinya bahwa manusia itu harus pernah jatuh dalam kesalahan, karena dari kesalahan itu orang akan belajar tentang kebenaran. Dari jatuh orang akan belajar tentang rasa sakit dan ketinggian. Dari kegagalan orang akan belajar akan arti kebangkitan dan keberhasilan.
Saya lalu teringat spion, cermin yang sangat bermanfaat untuk keselamatan berkendara. Kaca spion mobil pertama kali digunakan secara fungsional dalam dunia balap oleh Ray Harroun pada ajang Indianapolis, Amerika Serikat, 500 tahun pada 1911. Meskipun terinspirasi dari penggunaan cermin pada kereta kuda sejak 1904, penggunaan massal dan paten spion sebagai komponen keamanan baru dikembangkan oleh Elmer Berger pada tahun 1921. Kemudian pada 1930, kaca spion digunakan sebagai standar keamanan berkendara hingga kini.
Saya mengibaratkan sahabat saya ini sedang mengemudi mobil kehidupannya, tapi matanya hanya tertuju pada spion mobilnya. Dia sibuk melihat apa yang sudah lewat atau apa yang akan lewat di belakangnya. Sampai-sampai dia sendiri lupa bahwa ia harus melihat jalan agar dia bisa berkendara dengan aman.
Saya jadi teringat pada kisah Aurelie Moeremans dengan kisah nyata yang ditulis di bukunya, “Broken Strings”. Ia berusaha kuat untuk sembuh dari luka-luka masa lalunya yang kelam karena pelecehan seksual, pernikahan anak, dan kekerasan dalam rumah tangga. Saya mengutip tulisan kisahnya, “Kamu akan menemukan jalan pulang, tidak sekaligus, tapi perlahan, seperti cahaya pagi yang menyelinap lewat tirai yang dulu kamu tutup rapat. Kamu akan membangun dirimu kembali dari serpihan-serpihan yang pernah ia hancurkan. Kamu akan belajar bahwa penyembuhan bukan berarti melupakan, tapi memaafkan dirimu sendiri atas hal-hal yang kamu lakukan demi bertahan.” Aurelie kini sudah bisa berdamai, memaafkan, melupakan dan menjalani hidupnya yang baru sebagai seorang selebriti yang berani belajar dari masa lalunya.
Hidup sejatinya adalah saat kita memegang kemudi, mengontrol rem, pedal gas, sambil mengarahkan stir. Jalanan di depan adalah bonus dari pikiran dan kesadaran yang fokus. Apa yang dilihat di belakang melalui spion hanya sebuah kondisi agar kita bisa mengantisipasi kemudi. Hidup harus bergerak maju. Tengoklah sesekali spion agar tetap aman melaju. Jangan hanya menatap spion demi mengingat masa lalu yang tak pernah membuat kita berani maju.
Kata orang bijak, Roy T. Bennett, “Masa lalu adalah tempat yang bisa dirujuk, bukan tempat untuk tinggal. Masa lalu adalah tempat untuk belajar, bukan tempat untuk menjalani hidup.” Teruslah maju, sahabatku. Kalau ingin maju, jangan hidup di masa lalu karena itu hanya jadi monumen waktu. ***

Leave a comment