Inspiration

AKSI DUA MENIT

Di musim hujan, kita mungkin pernah memperhatikan butiran embun yang menggantung di ujung daun saat fajar. Embun itu  tampak begitu kecil, nyaris tak berarti di tengah lautan dedaunan. Namun, embun itu tidak pernah ragu untuk jatuh. Ia tidak menunggu menjadi aliran sungai yang besar untuk mulai bergerak membasahi tanah. Ia hanya melakukan tugas kecilnya, yaitu jatuh, meresap ke tanah dan memberi kehidupan. 

Begitulah seharusnya ketika kita menyadari niat-niat besar yang sering kali hanya menggantung di kepala tanpa pernah menyentuh bumi. Kita sering terjebak dalam angan dan mimpi. Kita berpikir bahwa untuk memulai sesuatu yang bermakna, kita butuh momentum yang megah atau keberanian yang meledak-ledak. Padahal, musuh terbesar dari pertumbuhan bukanlah kegagalan, melainkan keheningan yang mandeg. Kita terlalu lama menimbang. Bukan melakukan aksi. 

Mimpi besar kita bagaikan sebuah lokomotif tua yang berat. Bagian tersulit bukanlah saat ia melaju kencang, melainkan saat pertama kali roda besi itu bergesekan dengan rel untuk sekadar bergeser satu sentimeter. Kalau Anda ingin menulis buku, jangan bayangkan ratusan halaman yang melelahkan. Cukup duduk dan menulislah selama dua menit pertama. Selanjutnya, durasi dua menit itu akan menjadi sebuah awal dari ratusan bahkan ribuan jam berikutnya.  Jika Anda ingin hidup lebih sehat, jangan bayangkan lari maraton. Cukup ikat tali sepatu Anda dan melangkahlah keluar pintu selama dua menit.

Saya sering mengalaminya. Saat ada banyak ide untuk menulis atau melukis, rasanya semangat menggebu-gebu untuk segera mewujudkannya. Tapi yang terjadi justru saya hanya terdiam, tenggelam dalam mimpi dengan ide-ide besar. Semuanya aman dan mengendap dalam kenyamanan. Dengan mimpi besar itu seolah saya langsung jadi besar. Padahal, mimpi itu hanya angan-angan yang tidak membuat kita bergerak ke arah yang kita impikan. Saya terjebak dalam kenyamanan lamunan dan mimpi, tanpa melakukan aksi. 

Saya lupa bahwa setelah bermimpi diperlukan aksi. Tanpa berani melakukan aksi, mimpi hanya sekedar angan-angan, sebesar apa pun mimpinya. Untuk mewujudkan mimpi, rahasianya bukan pada durasinya, melainkan pada keberanian untuk menjadi orang yang memulai. Saat kita melakukan sesuatu dalam dua menit, kita sedang mengirim sinyal pada diri sendiri bahwa kita bukan lagi seorang pemimpi, melainkan seorang pelaku. Kita sedang beraksi, bukan sekedar bermimpi. Kita sedang menghancurkan dinding keras yang selama ini membuat kita nyaman dan tak berani bergerak.

Kita tak usah berhenti menunggu waktu yang sempurna, karena kesempurnaan sering kali hanyalah topeng dari rasa takut. Kesempurnaan itu hanya ada dalam mimpi. Aksi adalah cara berani untuk menuju kesempurnaan melalui proses yang tidak pernah sempurna. Hidup ini tidak dibangun dari lonjakan besar yang sesekali, melainkan dari ribuan langkah kecil yang konsisten. Keajaiban tidak terjadi saat kita sampai di garis finis, melainkan saat kita berani memutuskan untuk memulai. Aksi kecil itu sesederhana embun yang jatuh tanpa ragu. Aksi dua menit itu ibarat embun yang berani jatuh ke tanah untuk memberikan kesuburan. Mari kita beraksi untuk mewujudkan mimpi, sekalipun hanya dua menit. Paling tidak kita sudah berani untuk memulai sebuah aksi pertama demi sebuah mimpi besar. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑