Beberapa waktu lalu anak saya tiba-tiba mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan di tengah kesibukan kuliah dan kegiatannya di luar. Dia serasa dikejar-kejar. Akhirnya keluarlah pernyataan yang cukup mengejutkan akal waras. “Aku nggak bisa hidup dengan banyak tekanan,” katanya. Ia ingin hidup santai, tidur-tiduran. Itulah hidup yang layak dinikmati menurut dia.
Sontak abangnya tertawa terbahak mendengar pernyataan bodoh itu. Sementara saya dan bundanya hanya melongo, mencoba mencerna maknanya. Hidup tanpa tekanan apakah bisa? Permata akan makin berharga tinggi justru karena terpendam dalam tekanan bumi selama puluhan bahkan ratusan tahun. Banyak proses pembuatan sesuatu di dalam kehidupan harus melewati tekanan keras dan berat. Tapi, anak muda Generasi Z yang diwakili anak saya itu sangat mengejutkan.
Kita pasti pernah memperhatikan bagaimana hutan mempersiapkan diri sebelum musim semi yang rimbun tiba. Ada masa di mana pepohonan harus meranggas, membiarkan dedaunan yang pernah menjadi kebanggaannya menguning, kering, lalu jatuh berserakan di tanah. Bagi hutan, itu mungkin tampak seperti sebuah kehilangan dalam kesunyian. Namun bagi semesta, proses itu menjadi cara paling anggun untuk mengosongkan ruang bagi tunas-tunas baru yang lebih segar.
Hidup kita sering kali mengikuti ritme yang sama. Kita kerap kali merasa terpukul saat tantangan datang dan merenggut kenyamanan yang selama ini kita genggam erat. Perubahan tersebut mungkin terasa menyakitkan, seolah-olah dunia sedang bekerja melawan kita. Namun, mari kita tarik napas sejenak dan duduk dalam keheningan. Sadarilah bahwa sering kali, semesta harus menyingkirkan beberapa hal dari genggaman kita hanya untuk memastikan tangan kita cukup kosong untuk menerima sesuatu yang jauh lebih indah dan luar biasa.
Atau di kali lain hidup kita serasa diberi tekanan dengan beban yang seolah melebihi kemampuan kita untuk menanggungnya. Semua datang bertubi-tubi seolah tak menyisakan ruang bagi kita untuk bergerak. Apakah kita melihat semua itu sebagai tekanan berat atau kehampaan yang menakutkan, atau sebagai ruang tunggu bagi sebuah keajaiban? Kita tidak bisa mengontrol arah angin, tetapi kita memiliki kendali penuh terhadap aray layar. Jika saat ini Anda merasa sedang terbakar oleh ujian hidup, ingatlah ungkapan bijak ini: Kalau kita ingin bersinar seterang matahari, maka kita harus terlebih dahulu berani terbakar seperti matahari. Cahaya yang menyilaukan itu lahir dari proses pembakaran yang panas dan penuh tekanan.
Tantangan yang hadir dalam hidup kita saat ini sebenarnya adalah sebuah undangan. Tantangan, tekanan, kehilangan sebenarnya mengundang kita untuk melampaui batas diri yang lama. Mereka sedang menempa mental kita agar lebih tangguh dan memperluas kapasitas hati dan hidup kita. Sesuatu yang luar biasa tidak pernah datang ke dalam wadah yang sempit dan penuh dengan sisa-sisa masa lalu yang sudah tidak relevan. Maka, lepaskanlah apa yang memang harus pergi dengan keikhlasan. Ikhlaskan kalau memang kita sedang ditekan oleh beban kehidupan. Anggap saja mereka sebagai sebuah perubahan yang sedang bekerja untuk kebaikan kita.
Di balik tekanan, ada besi kuat yang telah tertempa dan terbentuk, sehingga bermanfaat untuk kehidupan. Di balik kehilangan dan rontokan daun kering, ada tunas baru yang siap bertumbuh. Di balik setiap keruntuhan, ada fondasi baru yang sedang dipersiapkan untuk gedung yang lebih megah. Di balik matahari yang terbakar, ada sinar yang siap memberikan cahaya kehidupan. Apakah kita siap dan ikhlas menjadi matahari kehidupan? ***

Leave a comment