Inspiration

BUDAYA LATAH DAN IKUT ARUS TANPA LOGIKA

Media sosial menjadi sumber kebaikan sekaligus sumber kesesatan. Dari konten yang bermutu sampai yang sangat tidak bermutu dan tidak lucu, semua ada. Orang bebas mengunggah apa pun di konten dan saking bebasnya banyak warganet yang kebablasan. Konten seolah tidak ada filter lagi. 

Media sosial bukan lagi menjadi sumber informasi yang berguna, sekalipun konten-konten bermutu dan mencerahkan banyak bertebaran. Banjir informasi, misinformasi, disinformasi, sampai malinformasi saling berlomba untuk disajikan di layar dunia maya. Semua hampir tak bisa dibedakan mana yang benar, mana yang salah, mana yang bohong, mana yang menyesatkan. 

Tak cukup di sini, kini tayangan media sosial juga menjadi simbol ketenaran dan pengakuan yang dikejar mati-matian dengan mencari likes, comments, followers, dan subscription. Semakin unik, provokatif, semakin berpotensi untuk viral dan terkenal. Warganet yang sering berselancar media sosial yang kebanjiran informasi setiap detik sampai kesulitan untuk membuka ruang berpikir logis dan penuh kesadaran.

Tak heran kalau warganet mudah bereaksi pada suatu informasi atau unggahan yang viral tanpa harus berpikir benar atau salah. Ketika ada kejahatan, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, warganet langsung bereaksi keras dengan menyuarakan, meneriakkan, menyebarkan, dan memviralkan konten tersebut. Penyebaran informasi ini pun akhirnya merambah tak hanya dunia maya, tapi sampai dunia nyata untuk melawan ketidakadilan, diskriminasi, atau kejahatan. Ambil contoh yang baru-baru ini tentang ujaran kebencian yang diucapkan oleh seorang content creator yang menghina suku Sunda. Atau, komplain seorang penumpang kereta yang kehilangan tumbler sampai menyebabkan hukuman bagi karyawan PT KAI.

Lalu muncullah apa yang disebut cancel culture, budaya membatalkan. Fenomena ini terjadi ketika sekelompok orang atau warganet terutama di media sosial secara massal menghakimi, menghujat, menarik dukungan terhadap seseorang yang dianggap telah melakukan atau mengatakan sesuatu yang sifatnya merendahkan, melecehkan, melanggar norma sosial atau kontroversial. Orang yang diserang bisa orang biasa, pemimpin, figur publik, selebriti, atau tokoh lain. Secara sederhana, cancel culture ini menolak atau menghukum seseorang di dunia digital. 

Media sosial menjadi “ladang subur” bagi cancel culture karena sifatnya yang cepat menyebar, anonim, dan memungkinkan aksi kolektif instan. Media sosial seperti Twitter (sekarang X), Instagram, TikTok, dan Facebook memudahkan viralnya suatu isu. Satu postingan atau video bisa memicu ribuan orang untuk ikut serta dalam waktu singkat.

Di Indonesia, cancel culture sering terjadi karena jumlah pengguna media sosial yang sangat besar, yaitu sekitar 180 juta pengguna hingga Oktober 2025. Warganet Indonesia dikenal aktif dan solidaritasnya tinggi, tapi kadang berujung pada mob mentality atau ikut-ikutan tanpa verifikasi fakta.

Mental ikut-ikutan, latah, ikut arus dalam menghakimi dan menghukum orang lain tanpa berpikir inilah yang kadang cukup memprihatinkan. Tanpa sadar kita sudah melatihnya setiap hari lewat WhatsApp. Misalnya, ada kabar dari grup yang sedang ulang tahun, berduka cita. Sontak semua anggota grup mengucapkan selamat bahagia maupun empati duka. Padahal, ternyata orangnya tidak ada di grup tersebut. Jari menjadi otomatis, latah, tanpa berpikir, apakah memang ada orangnya yang akan diberi ucapan. 

Budaya latah pun bisa terjadi ketika ada hujatan, kebencian, penghakiman pada seseorang lewat media sosial. Asal ikut, asal menghujat, asal menghakimi, agar kita seolah solider sebagai warganet. Secara sosiologis, cancel culture ini menjadi semacam kontrol sosial. Tapi jika dilakukan dengan latah, ngawur, tanpa sadar, tanpa mikir, hal ini bisa menyebabkan perpecahan, polarisasi, dan alat mobilisasi massa demi ujaran kebencian. 

Maka ada baiknya kita menyadari kembali bahwa kita diberi kemampuan untuk berpikir dan berkesadaran. Menghakimi orang itu tidak berarti mendefinisikan orang yang kita hakimi seperti yang kita nilai, tapi justru menunjukkan seperti apa dan siapa diri kita sebenarnya. Kita perlu mempelajari fakta sebelum membangun prasangka. Kita perlu memahami sebabnya sebelum menghakimi. Kita harus belajar merasakan sebelum melukai hati orang lain. Kita harus berpikir jernih sebelum berucap atau mengetik di layar digital. ***

One thought on “Inspiration

Add yours

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑