Inspiration

PUASA KECEWA ALA PAUS FRANSISKUS

Tahun 2025 menjadi tahun istimewa. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa bulan suci Ramadhan bagi umat Islam tahun ini bersamaan dengan masa aksi puasa pembangunan umat Katolik. Masa puasa dan pantang umat Katolik dilakukan selama 40 hari untuk menyambut Hari Raya Paskah. Jadi, masa ini menjadi istimewa karena ada jutaan orang bermatiraga dan berpuasa menahan hawa nafsu. Gereja selalu dipenuhi umat, apalagi saat Pekan Suci menjelang perayaan Paskah. Saya kadang tercenung melihat sebegitu banyak orang Katolik kalau pas hari-hari besar. Kalau hari-hari biasa, jumlahnya ya biasa-biasa saja. 

Suatu hari saya kaget ketika menemukan sebuah unggahan di sebuah media sosial. “Banyak orang pergi ke gereja bukan untuk bertemu dengan Tuhan tetapi untuk menunjukkan bahwa mereka beragama. Sebenarnya Tuhan tidak tertipu, tetapi mereka menipu diri sendiri.” Begitu tulisan dalam unggahan tersebut. Lama saya merenungkan kata-kata yang menohok itu. 

Saya lalu mencoba mengingat kembali pengalaman-pengalaman saat beribadah di gereja. Saya melihat banyak sekali orang atau umat Katolik menghadiri misa, mungkin, hanya demi memenuhi kewajiban. Atau, kalau anak atau remaja pergi ke gereja, mereka hanya demi menuruti keinginan orang tua. Wajarlah kalau mereka di gereja pakaiannya pun hanya ala kadarnya. 

Saya pernah melihat umat, kelihatannya satu keluarga. Bapaknya dan kedua anak laki-lakinya hanya mengenakan kaos olahraga, celana pendek, sandal jepit, atau T-shirt, rambutnya pun tak rapih. Datangnya pun di pertengahan misa. Mereka duduk santai, tanpa ada rasa risih atau malu. Lalu mereka mengeluarkan hape masing-masing dan berselancar di dunia maya. Saya mengamati mereka kelihatannya melakukannya dengan tulus dan tanpa merasa sungkan sedikit pun. 

Saya punya keyakinan bahwa dilihat dari tampilan fisiknya, mereka berasal dari keluarga kaya. Saya punya dugaan kalau penampilan bapaknya pasti necis, wangi, berdasi, dan parlente saat ke kantor. Anak-anaknya pun pasti wangi dengan seragam dan sepatu mahal saat pergi ke sekolah. Tapi giliran beribadah di gereja, penampilannya seperti orang mau berolahraga, tapi mampir dulu ke gereja untuk misa agar kelihatan beragama Katolik. 

Saya jengkel sendiri, kenapa saya harus mengurusi dan menghakimi orang lain di saat yang seharusnya saya sendiri melakukan ibadah. Tapi pemandangan itu sangat mengganggu (sebetulnya salah mata saya sendiri juga sih). Betapa orang-orang kaya dan kelihatan berpendidikan semacam itu tidak punya rasa hormat sedikit pun di tempat ibadah yang sakral seperti di gereja. Alhasil, niat ibadah saya pun batal karena sibuk menghakimi fakta semacam itu. 

Saya kecewa. Tapi mau sampai kapan kalau pemandangan itu kini makin jamak terjadi di gereja Katolik di kota-kota besar. Fenomena itu selalu terjadi saat misa hari Minggu atau hari raya lainnya. Bagi mereka, mall, pusat perbelanjaan, dan tempat pesta jauh lebih layak dihormati daripada rumah ibadah. “The Church right now has more fashion than passion,” kata seorang penginjil dan pengarang Inggris, Leonard Ravenhill. Gereja sekarang lebih punya banyak gaya, mode, fesyen, daripada gairah, semangat untuk menggereja. Gereja hanya dipenuhi oleh orang-orang yang ingin dianggap beragama, bukan panggilan hati untuk bertemu dengan Tuhannya. 

Tapi saya lalu teringat, ini masa pantang dan puasa bagi umat Katolik. Ada beberapa pesan dari Paus Fransiskus. Sebenarnya ada lebih dari 10 anjuran. Tapi beberapa yang aktual saja yang saya tuliskan. Puasalah terhadap rasa kecewa atau tidak puas. Penuhilah hati dan dirimu dengan rasa syukur. Puasalah untuk tidak meratap atau mengeluh. Tapi nikmatilah hal-hal sederhana dalam hidupmu. Puasalah untuk tidak berbicara banyak, tapi penuhilah dirimu dengan keheningan dan kesiapan untuk mau mendengarkan orang lain.

Hanya dengan sikap batin semacam itu saat berpuasa, maka kita bisa merawat rumah kita bersama. Demikian anjuran Paus Fransiskus. Puasa kecewa dan mengeluh itu lebih sulit dibanding pantang daging atau kesenangan kita. Mari kita fokus pada ibadah diri kita sendiri agar tidak sibuk menghakimi orang lain saat menghadiri misa di gereja. Semoga tidak batal di tengah jalan. ***

Foto dari https://www.capecodtimes.com/story/lifestyle/faith/2008/08/30/sunday-best-is-casual-dress/52284837007/

3 thoughts on “Inspiration

Add yours

  1. dibiarkan mengganggu, tidak dibiarkan malah merasa bersalah.. trus kudu piye, terhadap orang-orang yang tidak punya risih?? assyuuu tenan guk…guk..

    Like

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑