Beberapa waktu lalu saya ngomel ke anak saya. Pasalnya dia selalu mengeluh. Hidup dan mulutnya selalu dihiasi keluhan. Ada saja alasannya untuk mengeluh. Tidak ada makanan kesukaannya. Tidak ada baju yang bagus. Tidak punya sepatu yang cocok. Dan, masih seabreg alasan yang membuatnya semakin mahir untuk mengeluh.
Padahal kenyataannya, di rumah selalu ada camilan dan makanan ringan kesukaannya. Bajunya pun tak terhitung banyaknya. Ironisnya, masih banyak yang hanya dibeli dan belum pernah dipakai. Sepatu apa lagi. Dia sudah punya lebih dari sepuluh pasang sepatu, mulai sepatu santai, sepatu berhak, sepatu resmi, sepatu lari, sepatu taekwondo, sepatu kets.
“Kamu itu tidak mengenal kata syukur karena kamu selalu melihat dan menginginkan yang tidak ada. Hidupmu penuh keluhan karena tidak bersyukur atas apa yang sudah ada. Hidupmu nggak membuatmu hepi, karena selalu merasa kurang terus,” kata saya sewot. Masih ada sederet ocehan lagi yang saya lontarkan. Anak saya pun terdiam dengan bibir maju dan dahi mengerut tanda tak suka.
Saya sendiri sedang dan masih terus belajar untuk memaknai dan mengamini rasa syukur itu. Ternyata ini bukan proses yang gampang. Rasa syukur itu mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan ketika berbenturan dengan realitas, kenyataan, nafsu keinginan, dan terutama permainan pikiran kita sendiri yang cenderung menghakimi.
Saya sadar dan tahu bahwa saya punya pengetahuan tentang bersyukur. Saya tahu bahwa saat kita bersyukur sesungguhnya kita sedang membuka gerbang ruang harta karun semesta yang tak terkira. Saya pun tahu bahwa berdoa itu sesungguhnya adalah bersyukur agar bisa terkabul. Saya juga tahu kalau kita berdoa hanya meminta, maka yang dikabulkan dan diamini Tuhan dan semesta adalah situasi kekurangan. Logikanya kalau kita minta berarti kita tidak punya. Yang kita dengungkan adalah keinginan dan permintaan yang berangkat dari rasa kekurangan dan tidak ada. Rasa kurang itulah yang menjadi energi yang kita getarkan ke semesta. Dan, energi kekurangan dan kekuatiran itulah yang akan kembali sebagai jawaban doa kita.
Hidupmu sejalan dengan pikiranmu. Saya masih terus belajar meyakini dan mengamini kata-kata itu. Senyatanya memang demikian. Pikiran kita yang menentukan hidup kita mau seperti apa. Kalau kita berpikir hidup kita miskin dan kurang, maka itulah yang terjadi. Demikian pula sebaliknya. Realitas hidup kita adalah cerminan apa yang kita pikirkan dan rasakan.
Bersyukur sejatinya adalah wujud pikiran dan perasaan kita atas keberkahan, kelimpahan, kepemilikan, anugerah yang sudah kita alami dan rasakan. Kata pakar spiritual, bersyukur itu didasarkan pada apa yang sudah terjadi, apa yang sedang kita alami, dan apa yang akan kita terima di masa depan. Bersyukur atas apa yang sudah dan sedang kita alami itu mudah. Tapi bersyukur untuk masa depan itu yang agak sulit. Kita harus berpura-pura seolah-olah apa yang kita inginkan sudah terjadi. Maka, itulah yang akan terjadi pada hidup kita. Inilah hakikat dari doa. “Mintalah seolah-olah kamu sudah menerima, maka apa yang kamu minta akan diberikan,” kata Yesus dalam Kitab Suci.
Menurut saya, bersyukur adalah wujud doa yang sebenarnya. Bersyukur adalah permainan pikiran dan perasaan yang dapat menciptakan realitas. Apa yang kita pikirkan, rasakan, dan kita syukuri akan terjadi, itulah yang terjadi. Saya sedang mencoba memraktikkan sebuah latihan syukur itu. Saya bersyukur saya hidup berkelimpahan meskipun kenyataannya saya sedang tidak berkelimpahan. Pikiran kita menilai kenyataan bahwa kita sedang berkekurangan. Tapi pikiran itu bisa dilawan dengan rasa syukur seolah-olah kita sedang berkelimpahan. Pikiran dan rasa itulah yang akan menggetarkan energi ke semesta.
Saya sedang meyakini bahwa dalam ungkapan syukur kita sedang menciptakan realitas yang kita impikan. Syukur itu ibarat kunci pembuka pintu ruang harta karun dan segala kelimpahan semesta. Syukur itu menyelaraskan energi positif kita ke energi kebaikan semesta. Dalam konteks rasa syukur itulah sebuah doa akan dikabulkan. Inilah yang sedang saya amini dan saya latih sehingga pikiran tentang kekurangan dan kekuatiran itu terkalahkan. ***
Foto dari https://shannonjamescoaching.com/more-gratitude-more-success/

Leave a comment