Inspiration

CIPTAKAN SURGA DI HATIMU

Beberapa waktu lalu saya tergoda untuk bereaksi terhadap suatu peristiwa yang tidak mengenakkan. Saya emosi pada satu layanan percetakan kaos yang katanya sudah punya nama. Ternyata layanannya tidak sebagus yang saya harapkan. Barang yang dijanjikan selesai pada waktunya ternyata harus molor tanpa pemberitahuan. Kesan pertama saya menggunakan jasa pencetakan digital itu sangat mengecewakan. Saya sampai marah karena benda yang saya pesan itu seharusnya sudah jadi.

Saya mengomel sepanjang perjalanan pulang. Saya mengumbar kekecewaan dan kemarahan. Istri saya yang hanya diam akhirnya pun buka suara, “Mana surgamu? Ciptakan surga di hatimu. Jangan marah-marah yang tidak ada gunanya.”

Sontak saya terdiam seribu bahasa. Saya malu tapi masih menggerutu dalam hati, menghabiskan sisa kemarahan dalam hati. Setelah menarik nafas beberapa kali, saya pun terdiam. Hati dan pikiran yang keruh pun meluruh. Hening di sepanjang perjalanan. 

Saya sedang merenungkan kedalaman kata-kata yang disampaikan istri saya. “Ciptakan surga di hatimu” terngiang dan menggema di relung hati. Memang saya dulu pernah mengatakan dan membagikan tulisan bahwa sesungguhnya surga dan neraka itu bukan tempat yang jauh di negeri antah berantah seperti yang diyakini banyak orang. 

Surga dan neraka itu sangat dekat tempatnya. Bahkan Sang Buddha mengatakan bahwa letak surga itu berada lebih dekat daripada jarak mata dan alis. Sayang orang tidak pernah bisa melihatnya. Surga dan neraka itu memang dekat sekali, yaitu di hati dan pikiran kita. 

Kalau hati dan pikiran dipenuhi dengan hal-hal negatif, kemarahan, kekecewaan, kebencian, kedengkian, keirihatian, kesombongan, keserakahan, itulah gambaran neraka dengan api yang menyala untuk membakar nafsu angkara dalam diri manusia. Itu persis yang saya alami sore itu. Saya terbakar amarah karena kekecewaan saya gegara perkara sepele, pelayanan yang tidak memuaskan. Sesederhana itu alasan orang bisa masuk dalam neraka. 

Sebaliknya, surga bisa hadir dalam hati kita dengan segala kebaikannya saat hati dipenuhi rasa syukur, kelimpahan, kegembiraan, kebahagiaan, keramahan, dan kebaikan hati. Hati dan pikiran yang dijejali dengan perasaan semacam itu niscaya sedang mewariskan surga pada semua orang di rumah, di tempat kerja, di sekolah, di masyarakat, di tempat ibadah. Banyak orang beribadah mencari surga, tapi datang ke rumah ibadah dengan muka kusut penuh dendam. Rumah ibadah hanya dijadikan tempat untuk menguatkan nafsu dan kebencian yang akan diwujudkan setelah keluar dari rumah ibadah.

Maka tak heran kalau ada orang bijak mengatakan bahwa surga itu hanya diwariskan bagi orang yang memiliki surga di hatinya. Pikiran dan hati yang penuh cinta dan ketulusan untuk saling berbagi kebaikan pada sesama, itulah hakikat surga. Setiap senyum tulus, setiap tindakan baik, dan setiap kata yang penuh cinta adalah pancaran surgawi dari kecantikan jiwa manusia. 

“Bagaimana, sudah bisa menciptakan surga di hatimu sekarang?” tanya istri saya memecah lamunan saya.
“Sudah, ayo kita makan bareng di luar, yuk,” jawab saya sambil tersenyum dan menggandeng tangannya.

Saya serasa melompat untuk pindah ruang dari ruang neraka ke surga kecil bersama pasangan saya. Untung tadi hanya merasakan sedikit panasnya api neraka, belum tersulut apinya. Kini saya sedang menikmati hidup surgawi yang penuh cinta, pengertian, dan kasih di dalam keluarga, karena di sinilah surga itu ada.***

Foto dari https://churchleaders.com/pastors/431036-heaven-what-its-like-to-die.html

One thought on “Inspiration

Add yours

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑