Alkisah, ada seekor katak yang berniat untuk memanjat ke sebuah puncak pohon yang tertinggi. Mengetahui niatnya itu, kawan-kawan katak pun sontak mengatakan itu tidak mungkin. “Itu rencana gila. Tidak mungkin kamu bisa. Tidak mungkin!” kata teman-temannya. Tapi katak tadi tetap memegang teguh niatnya. Singkat cerita, katak itu akhirnya benar-benar bisa mencapai puncak pohon, persis seperti yang diniatkannya.
Teman-teman katak pun heran. Apa rahasianya? Ternyata katak yang berhasil itu mengaku kalau dia tuli. Ia hanya berpikir bahwa teman-temannya tadi meneriakkan kata-kata semangat agar ia segera naik ke puncak pohon. Maka, jadilah tuli terhadap segala pikiran negatif, dan setialah pada tujuan dan impian. Itulah pesan moral dari cerita ini.
Dalam kehidupan nyata, Anda dan saya termasuk golongan yang mana? Kalau saya cenderung menjadi katak yang mencemooh perjuangan temannya. Katak yang suka meremehkan mimpi katak lain. Saya juga bukan katak yang tuli, karena saya berkuping tipis. Artinya, segala cerita, gosip, berita saya dengarkan tanpa pernah memilah dan memilih kebenarannya. Sebetulnya masih mending menjadi katak tidak tuli, tapi berkuping tebal. Karena jenis kuping tebal ini tidak mudah mendengarkan segala omongan, masukan, berita negatif. Sayang, kuping tebal ini efeknya bisa bebal dan sombong, karena tidak pernah mau mendengarkan masukan atau usulan.
Semua orang punya mimpi, tujuan, dan keinginan. Semua orang berhak memperjuangkan impian dan tujuannya. Semua orang juga memerlukan dukungan dan semangat demi memompa semangat juang. Kita perlu keteguhan dan keyakinan diri yang kuat untuk mencapai tujuan.
Tapi dalam banyak fakta, kadang kita justru terpuruk karena tidak mendapatkan dukungan. Kita jadi patah arang. Tidak ada orang lain atau teman yang memberikan semangat. Akhirnya tujuan dan mimpi kita pun tinggal impian yang tak pernah terwujud, lantaran kita sudah loyo dan ambruk di tengah jalan gegara kita dicemooh, diremehkan, disepelekan, dan tidak didukung.
Hidup kita tidak selalu dikelilingi oleh orang-orang tulus yang selalu memberikan dukungan dan semangat. Sebaliknya, justru orang-orang terdekatlah yang kadang membuat kita jatuh dan tak berhasil menggapai mimpi kita. Kita dikelilingi cibiran dan cemoohan yang melemahkan semangat.
Dalam hal ini saya tertarik dengan ajaran Buddha yang mengatakan agar kita jangan pernah dibuat sedih atau terpuruk oleh orang atau situasi di sekitar kita. Toh mereka itu tidak punya kekuatan apa pun untuk menghancurkan kita asalkan kita tidak bereaksi. Justru reaksi kita terhadap mereka itulah yang membuat kita jatuh. Reaksi kita terhadap orang dan situasi yang toksik itulah yang membuat kita menjadi lemah.
Akan lebih baik kalau kita bersikap seperti katak tuli. Kita tidak mendengar dan mendengarkan apa kata orang. Jangan biarkan kita jatuh karena kata-kata negatif di luar diri kita. Dengan menganggap tuli, maka kita tidak akan mudah bereaksi serampangan. Anggap saja cemoohan orang sebagai kata-kata yang selalu menyemangati kita. Buatlah tuli demi mengejar mimpi.***(Leo Wahyudi S)

Leave a comment