Dalam dunia yang bergerak serba cepat seperti saat ini, sesuatu yang lamban, atau proses sampai berhenti, bakal menjadi sumber gerutuan dan kejengkelan. Tidak percaya? Coba Anda ingat-ingat dalam satu hari ketika Anda mengalami ketika sebuah proses atau perjalanan, apa yang Anda lakukan? Contoh mudah. Saat berkendara di jalan tol yang katanya bebas hambatan, tapi justru makin bertumbuk hambatannya, sehingga kendaraan Anda harus pelan, bahkan stop and go. Berhenti, bergerak, alias pamer, padat merayap.
Atau, ketika Anda sedang terburu-buru, lalu terhenti di lampu pengatur lalu lintas. Durasi nyala lampu merahnya tidak sebanding dengan lampu hijau, bahkan tak jarang lampu merahnya jauh lebih lama. Anda awalnya sabar. Tapi lama kelamaan, ketika kendaraan makin padat di sekeliling Anda, panas terik makin menyengat, maka pelan-pelan emosi Anda pun mulai meningkat. Minimal menggerutu, gelisah, khawatir terlambat, tidak sabaran.
Ketika kita sedang membuka saluran media sosial untuk menikmati unggahan di YouTube, TikTok, atau Reel Instagram, lalu tiba-tiba ada tanda bulat berputar-putar, alias buffering, atau loading. Bagaimana rasanya? Jengkel, ngomel? Padahal mungkin jaringan atau koneksi wifi sedang lemot. Atau, Anda lupa mengisi kuota data sehingga menjelang fakir bandwidth, jaringan jadi melambat.
Seorang atlet olahraga sehebat apa pun, tidak mungkin dirinya akan bisa memacu diri tanpa henti. Pasti ada banyak jeda dalam setiap latihan atau pertandingan. Mesin secanggih apa pun, tak mungkin langsung menyala, pasti ada saatnya mati atau berhenti. Menyala dan berhenti, hidup dan mati, bergerak dan stop, memulai dan rehat, itu adalah dualitas hidup yang tak terpisahkan. Begitu pula jeda adalah bagian berhenti dari sebuah proses yang sedang berjalan.
Jeda itu selalu ada maksudnya. Misalnya, Anda sedang terburu-buru berkendara, lalu tiba-tiba ban bocor, atau terjebak macet parah. Kalau kita menyikapi dengan pikiran negatif, tentu perhentian itu membuat kita marah dan menggerutu tak karuan. Tapi kalau kita menyikapi dengan pikiran positif, jeda itu justru, mungkin Semesta atau Tuhan sedang menyelamatkan kita dari sesuatu, seseorang, atau kejadian yang tak mengenakkan yang akan menimpa kita. Beruntung kita dibuat berhenti sejenak, jeda, dan di-pause sejenak lewat ban bocor atau kemacetan.
Saya sedang belajar menikmati masa jeda dalam kehidupan. Saya belajar untuk sabar, menerima, dan menyadari ketika menunggu di lampu merah yang hijaunya lama. Selalu ada godaan untuk jengkel. Tapi saya mencoba menyadari pengalaman itu agar pikiran tetap tertahan dan menikmati, menerima pengalaman itu apa adanya. Tanpa protes. Hanya mengalami dan merasakan, sekalipun itu panas terik. Toh kita hanya berhenti sejenak, jeda sebentar sebelum lampu hijau. Sepele, tapi tidak mudah juga. Hanya butuh kesadaran agar tidak mengikuti pikiran dan perasaan yang liar yang selalu lari jauh ke masa depan.
Ada nasihat orang bijak tentang masa jeda itu. Mungkin kita bisa melatihnya. Saat berada dalam keraguan, berhentilah sejenak. Saat dilanda kemarahan, berhentilah sejenak. Saat kita capai, berhentilah sejenak. Saat kita merasa stres, berhentilah sejenak. Dan pada saat Anda berhenti sejenak, berdoalah, atau merenunglah, atau terimalah pengalaman jeda apa adanya dengan kesadaran.***(Leo Wahyudi S)
Foto dari https://www.istockphoto.com/id/search/2/image-film?phrase=pause

Leave a comment