Belakangan ini saya sedang belajar untuk mengalami hidup, bukan sekedar menikmati. Ternyata tak seindah yang diucapkan. Padahal hanya “sekedar” mangalami bahwa kita masih hidup dan bernafas dengan penuh kesadaran. Kalau hanya menikmati hidup, itu relatif lebih mudah. Mengerjakan apa yang kita suka, pergi belanja, jalan-jalan, healing, hangout, nongki, dan sebagainya.
Terinspirasi oleh pelaku spiritual Buddha, Thich Nath Hanh, saya mencoba melatih untuk mengalami hidup itu. Kalau bahasa kerennya, walking meditation, meditasi sambil berjalan. Kalau orang jaman dulu ada istilah tapa ngrame. Orang yang berjalan tapi masuk dalam keheningan batinnya meskipun di tengah keramaian.
Setiap kali saya berjalan kaki, saya mulai menyadari setiap langkah kaki, tangan, dan tubuh saya penuh kesadaran. Sambil merasakan setiap tarikan dan hembusan nafas sendiri. Setiap menarik saya katakan, rileks, damai, dan setiap keluar, saya tersenyum. Sambil berjalan dengan merasakan sentuhan kaki di jalan yang kita lewati. Ketika itu saya sadari betul-betul, saya kaget. Pasalnya saya masih bisa mendengar langkah kaki saya di pinggir jalanan yang ramai lalu Lalang kendaraan.
Saat mengalami hal itu, rasanya indah sekali karena saya bisa menguasai pikiran agar tidak nongkrong di masa lalu dan mengembara di masa depan. Setiap nafas yang kita rasakan dan sadari itulah yang mengerem dan menjinakkan pikiran agar betah tinggal di saat ini sekarang ini. Itulah hidup yang sesungguhnya.
Apakah selama ini kita menyadari bahwa kita kalau berjalan cenderung cepat agar cepat sampai tujuan. Bahkan berjalan pun terburu-buru setengah berlari. Kalau kita berjalan seperti itu, kita artinya sedang meninggalkan jejak-jejak kaki yang penuh kekhawatiran, ketergesaan, dan kesedihan bagi Bumi. Betapa kita selama ini telah turut ambil bagian dalam merusak planet biru yang kita huni ini dengan ketergesaan dan segala kekhawatiran.
Tapi kalau kita berjalan agak pelan, sambil menyadari setiap langkah dengan penuh rasa damai dan gembira, kita sedang meninggalkan jejak langkah kaki yang indah pada Bumi yang kita pijak. Kita telah ikut menciptakan suasana damai dan bahagia bagi seluruh umat manusia di Bumi. Berjalanlah agak lebih pelan dari biasanya dengan penuh kesadaran. Mengalami setiap langkah yang kita ayunkan. Itu saja.
Guru spiritual itu mengajarkan agar kita menyadari setiap sentuhan antara kaki dan permukaan tanah yang kita pijak. Berjalan sambil membayangkan kita sedang mencium Bumi dengan telapak kaki kita. Inilah saatnya bagi kita untuk merawat Bumi kita dengan kesadaran. Kita sedang membawa kedamaian dan cinta ke permukaan tanah. Yakinlah bahwa setiap langkah yang kita ayunkan akan menciptakan suasana jiwa dan raga yang lebih sejuk, damai, tenang, dan bahagia.
Itulah praktik meditasi sambil berjalan. Menyadari setiap tarikan dan hembusan nafas dengan penuh rasa syukur sambil menyadari setiap ayunan langkah kaki. Katanya, meditasi yang sesungguhnya bukan tentang banyaknya kesenangan dan hiburan yang kita temukan dalam hidup. Tetapi, seberapa dalam kita mengalami dan merasakan hidup saat ini di sini. Kebahagiaan bukan terletak pada hasil, tetapi justru pada proses untuk mewujudkan dan mengalami hidup saat ini di sini. Cobalah kalau Anda penasaran, agar dapat mengalami hidup. Bukan sekedar hidup dan menikmati hidup.***(Leo Wahyudi S)
Foto dari https://www.thechannel46.com/health/well-being/walking-meditation-benefits-ways-you-can-practise-it/

Leave a comment