Inspiration

BELAJAR DARI BANTENG

Setelah kita belajar dari nyamuk, kali ini kita akan belajar tentang makna kehidupan dari seekor binatang fenomenal, banteng. Saya tidak sedang ikut memanas-manasi suhu politik yang mulai memanas menjelang Pemilu 2024 mendatang. Tulisan ini murni sebuah permenungan hidup. Tapi kalau ada hal yang bisa diambil sebagai benang merah dan digoreng sedikit agar pas dengan tahun politik, ya itu kebetulan saja.

Seperti diketahui oleh khalayak luas, banteng identik sebagai binatang liar, buas, dan suka menyerang apapun atau siapapun yang berwarna merah. Tapi betulkah demikian? Ternyata menurut penelitian banteng menyerang bukan karena kain warna merah. Banteng ternyata binatang yang buta warna. Sudah berapa lama kita selama ini terkecoh oleh opini bahwa banteng benci warna merah.

Sekedar pengetahuan, dalam penelitian Discovery Channel 2007 ditemukan bahwa banteng menjadi agresif karena ada pergerakan. Dalam percobaan itu ada tiga orang yang berdiri di dalam arena dengan warna berbeda. Orang yang berpakaian merah hanya diam di dalam arena. Sementara dua orang lain dengan warna pakaian berbeda bergerak untuk memprovokasi banteng. Alhasil, orang berpakaian merah yang diam tidak diserang. Tapi, dua orang lain yang berpakaian selain merah dan bergerak itulah yang diserang. Kesimpulannya, banteng bereaksi agresif terhadap gerakan, bukan karena warna merah.

Saya tidak akan membahas perilaku binatang kekar seberat 640 kilogram ini. Saya justru tergelitik saat saya berbincang dengan bos saya yang orang Minang. Ia begitu bangga dengan darah Minang dan segala kulturnya yang penuh kesantunan. Ada banyak kearifan lokal yang selalu dibawanya sebagai falsafah hidupnya sebagai seorang pemimpin. Salah satunya adalah pesan mendiang ayahnya. “Kadang kening harus kotor agar tanduk bisa menusuk,” katanya. 

Bagi saya, pesan orang tua itu sangat dalam artinya dalam pemaknaan hidup. Betapa orang di abad modern yang serba instan ini orang sibuk berusaha menancapkan tanduknya di segala lini. Seruduk sana seruduk sini. Tak peduli itu keluarga, teman, kolega, atau orang lain. Ada saja yang dijadikan alasan untuk menjadikan kita agresif. Rasa cemburu, iri hati, dengki, benci, serakah, ambisi, obsesi, haus pengakuan, gila jabatan, gila hormat. Motif-motif itu sudah cukup menjadi alasan kita untuk berperilaku seperti banteng liar. 

Saat tanduk kita keluar, kita lupa bahwa tidak ada yang datang dengan tiba-tiba di dunia ini. Sang Maha Penyulap pun tak pernah mempertontonkan kehebatannya untuk menyulap, karena Dia selalu menghargai proses. Ingat pepatah “No pain, no gain”. Tak ada satupun yang bisa dicapai tanpa pengorbanan dan kerja keras. Ada proses jatuh dan bangun untuk menggapai mimpi sampai terwujud.

Nama besar, kesombongan, keangkuhan saja tidak cukup untuk menancapkan tanduk ambisi. Muka banteng harus menunduk, kalau perlu sampai nyungsruk ke tanah agar tanduknya menancap semakin dalam ke targetnya. Kita pun sering bersikap begitu. Tidak mau tangan, apalagi kening, muka, sampai kotor demi memperjuangkan sesuatu. Rasanya tanduk kita bisa terbang, lepas dari kepala, dan menusuk ke sasaran. 

Dalam pesan kawan tadi jelas maknanya. Kita harus rela dan berani berjuang, sekalipun kening harus sampai kotor terkena lumpur dan tanah. Kita harus berani nyungsep agar tanduk kita menancap pada target yang kita inginkan. Saat nyungsep itu berarti muka kita harus turun dan tunduk. Bersikap rendah hati dan menunduk demi perjuangan mewujudkan impian. Menjadi rendah hati sejatinya adalah menyadari bahwa kita hidup di dunia ini tidak untuk menunjukkan betapa pentingnya kita di mata orang lain, tetapi untuk melihat bagaimana kita bisa menciptakan perbedaan dalam hidup orang lain. 

Kita menunduk dan rendah hati tidak harus diartikan kalah. Tapi strategi untuk menancapkan tanduk panjang impian kita. Belajarlah dari banteng. Tapi bukan banteng yang agresif terhadap pergerakan. Bukan pula banteng yang buta warna. Tapi banteng kuat yang berakal budi. Jadilah kuat, tapi tidak kasar. Jadilah ramah, tapi tidak lemah. Jadilah berani, tapi tidak meremehkan. Jadilah rendah hati, tapi tidak jeri. Jadilah bangga, tapi tidak arogan. Begitu pesan orang bijak.***(Leo Wahyudi S).

Foto dari https://nationalgeographic.grid.id/read/133430295/dunia-hewan-benarkah-banteng-benci-warna-merah-apa-penjelasannya?page=all 

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑