Inspiration

BELAJAR CUEK

Hari-hari ini  saya baru didera oleh rasa jengkel pada seseorang, pada situasi. Persoalannya, ternyata tak hanya seseorang saja, tapi banyak orang dan banyak situasi yang membuat saya jengkel dan protes.

Ekspektasi, berharap, perfeksionis, itu akar penyebabnya. Semua itu diwakili oleh kata “Seharusnya, dia kan begini..”, “Seharusnya situasinya kan begitu …”. Lah, siapa elu kok ngomong ‘seharusnya’? Itu sisi lain pikiran saya. Benak saya penuh dengan  pikiran yang paradoks, bertentangan seperti itu. 

Dalam keseharian hidup kita disuguhi oleh fakta-fakta yang tak selalu sejalan dengan harapan kita. Maka sering muncul guyonan, ‘Hidup tak selalu seindah omongan Mario Teguh’. Memang, hidup tak selalu seturut keinginan kita. Semua fakta itu netral. Menjadi indah atau tidak ya karena kita pintar memberinya label baik buruk, jahat bagus, dan sebagainya. Penilaian dan persepsi ditambah ekspektasi menghasilkan kehidupan ruwet yang akhirnya kita alami sendiri.

Saya pun akhirnya mengakui, hidup tak selalu seindah tulisan-tulisan permenungan saya. Sampai kemarin sahabat saya mengatakan, “Lah, kamu sendiri menulis bagus, tapi tidak bisa menjalani. Apa perlu kubacakan lagi semua tulisan dan petuahmu, Mas?” Saya tertawa getir, sekaligus tertampar.

Ada saja alasan yang membuat saya jengkel. Saya jengkel dengan karakter seseorang yang egois tingkat dewa, jengkel dengan kepemimpinan seseorang di kompleks, saya jengkel dengan sikap plin-plan seseorang, saya jengkel dengan ketidakadilan yang menimpa pasangan saya. Ada banyak alasan yang membuat saya terjebak dalam kejengkelan. Semua berawal dari ekspektasi, harapan bahwa seseorang-seseorang itu seharusnya tidak seperti itu.

Siapa yang salah dan bodoh dalam hal ini? Ya, saya sendiri. Konon katanya, kalau kita memiliki ekspektasi, berarti kita sedang mempersiapkan kekecewaan. Dan ini betul sekali. Saya yang berharap, saya pula yang akhirnya kecewa. Saya tolol telah membuat hati dan pikiran saya menjadi ruwet dan kecewa. 

Bahkan sastrawan kelas dunia seperti Shakespeare pernah mengatakan, “Saya selalu merasa gembira. Anda tahu kenapa? Karena saya tidak berharap apapun dari siapapun. Harapan selalu membuat terluka.” Saya justru ‘terluka’ oleh kekecewaan karena harapan. Jadi saya tidak hepi. Itulah yang terjadi. 

Apakah kalau kekecewaan saya itu bisa mengubah karakter seseorang? Tidak sama sekali. Apakah harapan saya itu bisa mengubah keadaan, ketidakadilan, gaya kepemimpinan yang memble itu? Tidak juga. 

Saya merenungkan apa yang pernah saya tuliskan sendiri. Kalau kita berharap sesuatu, kita tak akan mendapatkannya. Tapi, kalau kita tidak mengharapkan sesuatu, justru kita akan mendapatkan sesuatu. Pepatah itu saya temukan melalui proses jatuh bangun bertahun-tahun. Sekarang saya malah melawannya sendiri. Saya memang tolol.

Saya mengikuti saran sahabat tadi supaya saya belajar cuek dengan apapun atau siapapun dalam kasus tertentu. Saya harus belajar melepaskan, demi kesehatan pikiran dan hati saya sendiri. Saya meyakini bahwa kedamaian hanya tercipta ketika kita mau melepaskan yang telah berlalu dan menerima apa yang ada saat ini. Melepaskan bukan berarti menghilangkan. Melepaskan berarti membiarkan sesuatu terjadi apa adanya. 

Berarti, saya harus belajar cuek dengan kesadaran, menerima keadaan apa adanya, tanpa berharap apapun, daripada harus menyakiti pikiran dan hati. Biarkan karakter egois itu jadi miliknya sendiri. Biarkan ketidakadilan itu jadi pengalamannya sendiri. Biarkan ia jadi pemimpin yang memble. Biarkan semua terjadi, toh semua hal datang dan pergi dengan sendirinya. Hapus kata “seharusnya” dalam diri. 

Untuk menjadi bahagia tidak berarti semua harus sempurna. Yang penting adalah bagaimana kita mau melihat di balik ketidaksempurnaan. Itu kata Gerard Way. Mari kita belajar cuek biar hati bahagia.***(Leo Wahyudi S)

Foto dari https://www.plimbi.com/article/172729/alasan-orang-tiba-tiba-cuek 

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑