Inspiration

OBROLAN DI PIRING

Bagi orang Indonesia dengan budaya ketimuran dan agamis, berdoa sebelum dan sesudah makan sudah menjadi praktik lumrah. Saking biasanya kebiasaan itu, bisa saja ritual doa sebelum makan itu menjadi ritual otomatis, tanpa ada kesadaran penuh atas apa yang diungkapkan.

Ketika saya akan makan siang dengan nasi, sayur, dan daging empal. Saya mencoba membayangkan, sesaat sebelum berdoa saya mendengarkan sebuah perbincangan hangat apa yang ada di piring saya.

“Aku bersyukur akhirnya bisa berada di piring ini. Perjalananku panjang sebelum sampai di piring ini. Aku tadi sebelumnya jadi beras yang dibeli dari seorang juragan beras. Juragan itu membeli murah dari para petani miskin. Tak jarang juragan itu juga curang ketika menimbang bobot beras. Petani yang telah setia menjaga padi dari benih sampai panen mendapatkan hasil kurang sepadan karena sering dibeli terlalu murah oleh juragan. Harapannya mendapat rejeki cukup akhirnya pupus. Padahal aku tahu petani yang menanam benihku waktu itu sedang memerlukan biaya besar agar anaknya bisa sekolah. Kasihan aku sebetulnya pada petani itu,” kata sebutir nasi.

Sayur lalu menimpali, katanya, “Aku tak jauh beda denganmu nasi. Perjalananku panjang sebelum dimasak dan disantap orang. Aku bukan ditanam di perkebunan seperti layaknya di kampung yang masih asri. Aku ditanam di lahan orang. Aku ditanam oleh seorang perantau yang gagal mendapatkan pekerjaan layak. Padahal ia harus menghidupi seorang anak dan istrinya di sebuah rumah petak tak jauh dari lahan orang itu. Orang itu tekun sekali menyirami aku tiap hari. Ia harus rela berpanas-panas dan menghirup debu jalanan di pinggir lahan itu. Ketika panen, aku dibeli pedagang dengan harga murah. Ketika sampai di pasar modern, aku dijual dengan mahal. Sangat tidak adil rasanya.”

Giliran terakhir, si daging empal yang sedari hanya diam, lalu berkata, “Aku boleh dibilang lebih beruntung dari kalian. Aku jarang dijadikan lauk sehari-hari, karena tak semua orang sanggup membeli lauk seperti aku. Aku hanya hadir di momen istimewa di kalangan rakyat jelata. Aku selalu diistimewakan. Tapi aku tidak menjadi menu istimewa di kalangan orang berduit. Mereka dengan gampang bisa membeli dan memakan aku setiap kali diinginkan. Tidak perlu menunggu momen istimewa. Tapi kalau ingat orang yang memelihara sapi di kampung-kampung, aku menjadi malu. Betapa mereka harus mencarikan aku makan jerami dan rumput setiap hari. Berpuluh-puluh kilometer pun dilakoni demi mencarikan aku makan. Biar aku gemuk dan enak jika dipotong. Kadang orang yang memelihara aku lebih memperhatikan makanku daripada makan keluarganya yang seadanya. Bahkan mereka tak pernah makan dagingku, kecuali Hari Raya Kurban.”

Ketika mendengarkan kisah nasi, sayur, dan daging empal itu saya tercenung sejenak. Saya ingin memaknai doa saya lebih dalam dan dengan kesadaran penuh. “Terima kasih, Tuhan, atas rejeki yang Kau berikan ini. Berkatilah semua orang yang telah mempersiapkannya bagiku. Berkatilah  orang-orang yang tidak dapat makan seperti kami, agar mereka Kau beri anugerah kemurahanMu saat ini. Siapkanlah semua sel tubuhku untuk menerima makanan ini sehingga tubuhku sehat dengan makanan yang kusantap hari ini. Terima kasih.”

Dengan doa dan penghayatan yang tulus bersama makanan yang terhidang, maka makanan menjadi energi positif yang membuat kita makin hidup. Kita harus menjaga hati, pikiran, dan mulut, untuk menghembuskan energi dan kekuatan positif dari makanan. Ketika kita mengumpat dan kecewa dengan makanan, maka energi negatif pun akan kembali ke mulut kita. Makanan yang kita sumpahi menjadi tak enak, dan tak jarang menjadi penyakit dan racun tubuh. Maka, berhati-hatilah dengan pikiran dan kata saat makan. 

Makanan adalah sesuatu yang mendasar bagi kehidupan. Maka, jadikanlah makanan sesuatu yang baik dengan rasa syukur yang tulus. Resep sebagus apa pun tak akan berjiwa sampai seorang juru masak memasaknya dengan hati dan cinta. Ada pepatah mengatakan, “Makanan adalah simbol cinta ketika kata-kata tak sanggup melukiskannya.”***(Leo Wahyudi S)

Foto dari https://www.rewireme.com/happiness/saying-grace-mealtime-blessings-around-world/

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑