Saya sengaja memilih judul ini karena keprihatinan saya. Persoalan kentut atau buang gas, punya nama keren, karena bahasa kedokterannya flatulensi, dan bahasa Inggrisnya farting. Tapi fakta tak seindah nama asingnya. Kentut ini selalu mendapat tempat yang tidak mengenakkan dalam kehidupan sehari-hari. Mau bukti? “Pergi lu, kentut bau juga”, “Dasar tukang kentut, lu”, “Kentut doang lu”, “Kampret, bauk, siapa sih yang kentut?” Ungkapan-ungkapan yang lazim ini sudah cukup jadi bukti kalau persoalan kentut selalu dianggap negatif dan tak mendapat tempat layak.
Di rumah pun saya juga kena stigma tukang kentut. Pasangan saya seolah hidupnya menderita kalau dengar saya kentut. Dia protes keras. Saya sekali satu paket kentut bisa dipilah sampai enam nada berbeda. Padahal pasangan saya sekali bersin biasanya satu paket isi delapan kali. Saya nggak protes. Tapi kalau saya kentut kok diprotes. Heran juga saya.
Saya ingin mengangkat kentut ini dari perspektif yang berbeda. Tepatnya, mengangkat harkat kentut sebagai sesuatu yang kayak dihargai dan disyukuri dalam hidup. Bukankah hidup selalu mengandung dualitas yang harus diterima semua? Ada sehat, ada sakit. Ada senyum, ada tangis. Ada bau nafas wangi, ada bau kentut busuk. Ada gembira, ada duka. Dualitas itu yang membuat hidup menjadi sebuah kehidupan utuh.
Disadari atau tidak, bagi orang yang hidup di kota besar, semua serba berbayar. Mulai dari jalan, lari, berkendara, makan, tidur, buang air besar, pipis, sakit, mati, semuanya tak ada yang gratis. Hanya meludah dan kentut yang gratis di kota besar seperti Jakarta. Kita bisa meludah dan kentut bebas dan free alias gratis. Hanya persoalan tempat dan waktu saja yang patut dipertimbangkan. Waktu dan tempat yang salah untuk kentut, itu selalu jadi masalah untuk orang lain. Itu catatannya.
Kadang saya berpikir licik. Di saat naik kereta setelah pulang kerja, biasanya penumpang berjubel tiada tara. Gerbong kereta yang besar itu hanya memberikan ruangan sebesar dua telapak kaki kita. Bisa dibayangkan penuhnya. Belum lagi bau keringat dan pakaian orang setelah pulang kerja di metropolitan yang bercampur dari beragam kelas sosial dan kantoran. Luar biasa. Kalau ingin membubarkan himpitan dan jubelan para penumpang itu mudah. Kentutlah perlahan, jangan sampai bersuara. Niscaya kerumunan itu akan perlahan mulai risih, persis seperti lebah madu yang diberi asap yang akan menyingkir pelan-pelan. Akhirnya ada ruang yang lebih lega sedikit untuk saya.
Kembali ke persoalan kentut. Pesan saya, jangan munafik, sok suci, sok bersih, sok sopan dalam hal kentut mengentut. Alam memberikan anugerah tersembunyi dari kentut. Kentut itu berkah kehidupan. Jangan dianggap remeh. Bersyukurlah selagi masih bisa kentut. Orang yang habis menjalani operasi dan pembiusan biasanya ditunggu kentut dulu agar bisa minum. Saat diare sampai belasan kali, apa yang ditunggu? Kentut tulen. Kentut yang hanya gas, tanpa temannya. Rasanya luar biasa. Tiada kata syukur yang lebih nikmat daripada saat bisa kentut normal ketika diare.
Kata pakar kesehatan, normalnya orang buang angin atau kentut itu bisa 12 kali sehari, dalam skala kecil, sedang, atau besar. Kalau kurang dari itu, bisa jadi menandakan penyakit tertentu. Intinya, kalau kurang atau tidak kentut, hidup akan tidak nyaman. Demikian pula kalau berlebihan. Pasti ada sesuatu yang salah dengan tubuh kita.
Menurut penelitian, bau kentut dapat menyehatkan. Ada senyawa hidrogen sulfida dalam jumlah kecil yang dihasilkan. Senyawa yang baunya busuk itu berasal dari gas pencernaan. Ternyata bau busuk ini dapat mencegah kerusakan sel dan mencegah stroke dan serangan jantung. Tapi kalau jumlahnya terlalu banyak sifatnya akan beracun. Persoalannya, siapa yang mau, ikhlas, dan sadar menyerap bau kentut busuk itu?
Kentut juga menyehatkan, karena mengurangi kembung, menyehatkan usus besar, menandakan konsumsi makanan yang seimbang, serta menunjukkan saluran pencernaan yang sehat. Dengan fakta-fakta ini, mari kita syukuri setiap kali kita kentut. Sama halnya dengan orang Barat selalu mengatakan, “God bless you”, saat bersin. Bersyukur bisa bersin, dan berharap orang lain tetap sehat. Saya kini membiasakan pula saat kentut untuk bersyukur, “Puji Tuhan, alhamdulillah, saya bisa kentut.”
Ada pepatah mengatakan, cinta itu seperti kentut. Apapun yang kau lakukan akan sulit untuk disembunyikan. Ketika kau lepaskan, semua orang akan tahu, meskipun kau tidak mengaku. Maka, tak perlu kita malu mengakui kalau kita kentut saat buang air. Itu satu paket. Toh tak ada hujan tanpa petir. Selamat merenungkan perkentutan.***(Leo Wahyudi S)
Foto dari https://nypost.com/2018/04/25/heres-your-guide-for-defense-against-the-dark-farts/

Leave a comment