Inspiration

PELIT

Dalam beberapa kesempatan saya mendengarkan cerita atau celotehan dari beberapa orang. Semua cerita yang saya dengar kebetulan senada, orang pelit. Pernah ada seorang bapak bercerita dengan ringan tentang anaknya yang masih SD. Ia mengeluhkan nafsu makan anak laki-lakinya. Yang ada di pikirannya hanya lapar dan makan. Dan ternyata, bapak itu pun hanya sekedar cerita dan mengeluh. Karena dia dengan bangga mengaku tidak pernah membelikan apa yang diinginkan anaknya, sekalipun itu jajanan, apalagi makan. 

Di kali lain, saya mendengar seorang anak juga mengeluh. Ia tidak bisa beli makan yang dia inginkan. “Mama mah selalu liat harga. Kalau mahal gak pernah dibeli. Kalau murah, dibeli, meski kadang nggak enak,” kata anak itu pada saya. Miris saya mendengar dan melihat kenyataan semacam itu. 

Di lain tempat, saya melihat sendiri bagaimana seorang ibu hanya bergeming ketika anaknya yang di sekolah kejuruan. Ia memerlukan alat-alat untuk praktik dan semua perangkat pendukung belajarnya. Dari hape, laptop, kamera, dan segala temannya memang diperlukan. Saya hanya melihat betapa ekspresi ibunya tampak dingin. Padahal saya tahu perputaran uang di usahanya sangat besar. Membeli alat-alat sekolah anaknya hanya pengeluaran receh sebenarnya. 

Di waktu lain yang tak kalah miris ketika saya tahu ada seorang guru yang sangat haus ilmu. Ia ingin belajar ilmu komputer dan marketing daring. Memang ada teman karyawan yang memiliki ilmu cukup tinggi soal ini. Tapi yang mengejutkan ketika guru itu berkata pada saya bahwa ia harus membayar kalau ingin diajari. Saya tahu kondisi keuangan guru itu. Dan kebetulan saya juga tahu karyawan yang punya ilmu jualan daring itu juga hasil menimba ilmu yang sebagian besar gratis dari pakar-pakar murah hati yang bersedekah ilmu. 

Ternyata hari gini masih banyak sekali orang-orang yang pelit harta, pelit ilmu, pelit perhatian, pelit bicara, pelit telinga, pelit solidaritas, pelit hati dan empati, pelit penghargaan, pelit cinta. Ada banyak pula yang pelit meminjamkan barangnya, kendaraannya, mobilnya karena takut rusak, takut tergores, takut kecelakaan. Orang-orang pelit seperti itu merasa hidup dan hartanya hanya untuk dirinya sendiri. Pada hakikatnya orang pelit itu selalu kuatir dan takut kekurangan. Kalau diberikan, mereka takut kehilangan apa pun yang mereka miliki, entah uang, harta, ilmu. Hidup orang-orang pelit terjebak dalam jiwanya yang sempit dalam semesta yang luas yang anugrahnya serba gratis.

Anne Frank, seorang gadis Yahudi yang menderita saat pembantaian Yahudi oleh Nazi, menulis dalam buku hariannya. “Tak pernah ada orang yang jatuh miskin karena memberi.” Orang-orang yang pelit mungkin juga menulis tebal-tebal dalam buku hidupnya, “Aku takut miskin kalau memberi.” Yang saya amati, orang-orang pelit biasanya tidak hanya pelit pada orang lain, tapi juga pelit pada dirinya sendiri. 

Sikap pelit dan tidak murah hati ini berakar dari rasa takut miskin dan kurang. Wajar kalau mereka akan menggenggam harta dan miliknya kuat-kuat. Takut hilang. Banyak orang yang menjadi kaya karena pelit. Tapi suatu kali kekayaannya hanya untuk biaya berobat karena penyakitnya. Sesungguhnya semesta merekam dan menyebarkan gaung kekuatiran dan ketakutan akan kekurangan itu. Yang datang di hidup orang-orang pelit adalah rasa kekurangan. Hidupnya akan dipenuhi rasa berkekurangan terus, tak pernah cukup. Niscaya segala kekuatiran dan ketakutan itulah yang diamini oleh semesta. 

Saya tersentuh dengan ucapan guru SMA saya. Menjadi guru itu harus murah hati untuk memberikan ilmu secara tuntas. Kita tidak akan kekurangan. Kita justru akan menjadi lebih pandai. “Rumusnya cuma satu, yaitu memberi. Karena aku tidak punya harta, yang kuberikan adalah cinta, termasuk mencintai murid-murid,” kata guru saya. Ia yakin, semakin memberi, maka hidupnya akan semakin dipenuhi. 

Patut kita renungkan kata orang bijak. “Mengapa kamu pelit dengan dirimu sendiri? Mengapa kamu menggenggamnya? Untuk apa kau simpan, apakah untuk suatu waktu nanti? Tidak ada waktu-waktu lain. Yang ada hanyalah saat ini, sekarang ini.”***(Leo Wahyudi S)

Foto dari https://arrestyourdebt.com/living-stingy-tips/

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑