Inspiration

UANG PAS

Kemarin saya bertemu dan ngobrol dengan seorang sahabat. Ia seorang juragan permak. Ia selalu bangga menjuluki dirinya sebagai tukang dondom (Bahasa Jawa, ‘menjahit’). Patut diacungi banyak jempol karena sebagai seorang tukang permak, ia mampu menyejahterakan keluarganya di pulau seberang dan hidup lebih dari cukup. Ia tak pernah menyesali profesinya kini, sekalipun ia dulu pernah menjadi atlet gulat. Hanya karena ‘salah’ menentukan pilihan hidup, ia lalu bertanggung jawab dengan pilihannya sendiri, yaitu sebagai tukang permak profesional. Nyatanya rejekinya mengalir. Tak kalah dengan karyawan kantor dan pekerja formal lainnya. 

Saya terus terang belajar banyak dan banyak diberi nilai-nilai hidup yang jauh melampaui teori-teori kehidupan di buku-buku perpustakaan. Satu hal yang selalu membuat saya malu adalah penghayatan iman dan keyakinan dirinya yang sederhana. Ia sudah selesai dengan dalil-dalil kitab suci soal iman, karena iman sudah tertanam bagaikan prosesor dalam pikiran dan hatinya. 

Satu hal yang pernah dialaminya yaitu saat dia pulang dari kampungnya di Lampung ke tempat kerjanya di Tangerang. Ia selalu membawa uang pas. Entah karena pelit atau kehabisan duit, saya tidak tahu persisnya. Pernah ia kehabisan uang saku, padahal tempat kerjanya masih jauh dari terminal bis. Hebatnya, ia tidak panik atau kuatir. Dalam hatinya ia sangat yakin bahwa dia punya Tuhan. “Nggak mungkin seorang bapak akan menelantarkan anakNya di jalanan,” katanya selalu dalam hati. Ia yakin kata-kata itu. Nyatanya, ia pun bisa pulang sampai tempat kerjanya dengan selamat berkat kemurahanNya melalui pertolongan sopir angkot, atau orang lain yang mengantarnya. 

Tanpa disengaja atau disetting seperti konten medsos, ia mengalami kejadian seperti itu beberapa kali. Ia selalu yakin, bahwa uang pas dari rumah sampai ke tujuan itu pasti akan cukup. “Tuhan, aku percaya Engkau murah hati. Engkau pasti akan mencukupkan uangku agar pas dengan yang aku perlukan,” kata teman saya. Kalau berlebih, ia justru kuatir akan terjadi apa-apa di jalan. Entah ban bocor, entah celaka, entah dicopet. Karena ia yakin, uang pas itu akan pas pula sampai di tujuan. Hanya keyakinan penuh itu yang selalu dibawanya. 

Saya lalu merenung. Ada iman yang tulus dibalut dengan kepasrahan total. Ada pula yang beriman karena ingin mencobai Tuhan dengan menguji kemurahanNya. Yang muncul justru bukan iman lagi, tetapi kesombongan rohani. Lagipula, iman tanpa usaha tidak cukup. Yang ada adalah kedunguan yang dibungkus ‘iman’. Takutnya, Tuhan lama-lama bosan dipermainkan, sekalipun atas nama iman.

“Ah, kamu kekurangan uang saku karena kamu sengaja tidak memperhitungkan sebelum kau pergi. Aku males ngasih kamu lagi. Jatahmu sudah Aku berikan untuk orang lain yang memang kekurangan uang saku dan percaya kepadaKu secara tulus. Bukan untuk orang yang salah perhitungan yang mempermainkan iman,” jawab Tuhan.

Untung sahabat saya tidak pernah punya maksud mempermainkan iman atau Tuhannya. Ia hanya percaya bahwa uang pas akan mengantarnya sampai tujuan dengan selamat, entah bagaimanapun caranya. Kadang tanpa kita sadari, dalam suatu perjalanan kita membawa uang berlebih karena kekuatiran akan terjadi apa-apa di jalan. Kekuatiran inilah yang akan digaungkan ke semesta. Tak jarang yang dikuatirkan pun sungguh terjadi dan menimpa kita. Kekuatiran itulah yang diamini. Kekuatiran selalu mengalahkan keyakinan dan iman.

Dari uang pas ini ada keutamaan hasil ujian iman. Keyakinan penuh pada hal baik akan membawa kebaikan. Kekuatiran, sekecil apa pun, akan menyebabkan kejadian seperti yang dikuatirkan. “Tendang jauh-jauh rasa kuatir,” begitu pesannya. Pola pikir dan iman ini selalu menjiwai hidup sahabat saya. Dan semuanya terjadi seturut yang diyakininya. Ketika ia meyakini, ia berjalan dan tidak goyah dengan keyakinannya. Persis seperti saat ia menjahitkan benang di pakaian yang dipermaknya. Lurus, tak berbelok, sehingga menghasilkan jahitan yang rapi dan enak dipakai. Uang pas, jahitan, dan iman menjadi sebuah korelasi utuh manifestasi imannya. Itulah gaya beriman sederhana sahabat saya. Patut kita contoh caranya untuk beriman sederhana.***(Leo Wahyudi S)

Foto: Sabina Dona

2 thoughts on “Inspiration

Add yours

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑