Inspiration

SEMESTA BAGAI MESIN FOTOKOPI

Suatu ketika saya bertemu seorang pedagang. Usahanya jualan makanan kalau malam hari dan tukang kredit barang kalau siang hari. Sepak terjang orang itu dalam berdagang patut diacungi jempol dua. Etos kerjanya tiada tara. Perputaran uang dalam usahanya juga tidak kecil bagi pedagang kecil seperti dia. 

Namun setiap kali ketemu dengan orang itu, yang muncul dari mulutnya hanya keluhan dan keluhan. Dagangan sepi, tidak punya duit, tagihan pada macet, usaha suaminya rugi, dan sebagainya. Padahal orang bodoh pun tahu kalau omsetnya cukup lumayan. Dan pasti uang hasil usahanya pun juga tidak sedikit.

Sekalipun tinggal di rumah kontrakan, ia sudah punya mobil dua, rumah, tanah. Usaha tak pernah mengkhianati hasil. Perjuangan gigih siang dan malam sudah berwujud dalam aset dan harta yang dipunyainya.

Kebetulan, setiap kali ketemu, belum pernah sekalipun saya mendengar orang itu berkata, “Alhamdulillah, hari ini rame, dagangan laris, tagihan lancar.” Tepatnya, hampir tidak pernah saya mendengar kata-kata syukur itu. Tapi saya berpikir positif, bahwa orang itu menunjukkan kekurangannya agar terhindar dari orang-orang yang akan meminjam uangnya.

Di  kali lain, saya beberapa kali mendengarkan curhatan pedagang ini. Ia pernah kehilangan uang jutaan di dompetnya saat sedang belanja di pasar. Kali lain, uangnya tertipu oleh pelanggannya. Di kesempatan lain, ia berkisah sebagai korban hipnotis yang membuatnya kehilangan beras dua kwintal. Saat obrolan ringan, ia juga bertutur bahwa empat tabung gasnya dicuri orang. Dan, masih ada beberapa kisah pahit dan kehilangan yang dialami pedagang itu. 

Saya lalu membayangkan bahwa semesta ini bagaikan mesin fotokopi raksasa. Hukum tarik-menarik, hukum sebab-akibat itu juga seperti mesin fotokopi raksasa. Mesin itu memberikan kembali kepada kita apa yang kita pikiran dan rasakan. Jika ada hal-hal yang tidak diinginkan datang ke dalam hidup kita, bisa dipastikan bahwa sebagian besar waktu kita tidak menyadari pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang kita rasakan. 

Hukum tarik-menarik tidak bersifat pribadi. Hukum itu beroperasi seperti mesin fotokopi. Hukum ini menyalin apa yang kita pikirkan dan rasakan di setiap saat, kemudian mengirim kembali salinan yang persis sama kepada kita dan yang menjadi hidup kita. Persis yang dialami pedagang tadi. Setiap hari ia selalu mengeluh kekurangan uang. Maka semesta pun memperbanyak kekurangan itu dalam hidupnya. Buktinya beragam, kecurian, kecopetan, kerugian, kena hipnotis, kehilangan pelanggan.

Seandainya saja pedagang itu tahu hukum alam tarik-menarik, sebab-akibat, tabur-tuai, ia pasti akan berhati-hati berucap dan bersikap. Kesadaran bahwa semesta merupakan fotokopi raksasa ini akan membuat kita mampu mengubah seluruh dunia kehidupan kita. Ia tidak akan gampang mengeluh dagangan yang sepi, tidak laku, tidak punya duit, tidak punya modal, tidak muter. 

Seandainya ia menyadari kekuatan hukum alam ini, semesta dan Tuhan akan selalu mendukung usahanya. Makin banyak pelanggan, makin laris, dan makin banyak rejeki yang diterimanya. Kunci harta karun semesta hanya bisa dibuka dengan kata dan ungkapan syukur. Sedangkan mengeluh, seperti pedagang tadi, akan menjadi kunci pembuka pintu ruangan para perampok, tukang tipu, copet, pencuri, dan kawan-kawannya. 

Mungkin suatu saat saya harus ketemu lagi dengan pedagang itu. Saya akan mengatakan bahwa untuk mengubah dunia di luar, yang harus kita lakukan hanyalah mengubah cara kita berpikir dan merasa, maka hukum tarik-menarik akan memfotokopi perubahan itu. Mungkin ia harus dibawa ke tukang fotokopi dan saya jelaskan bahwa semesta itu seperti mesin fotokopi. Sayangnya, saya tahu, pedagang itu keras kepala dan sulit mendengarkan orang lain. ***(Leo Wahyudi S)

Foto diambil dari https://www.koran.id/mesin-fotocopy-murah/

6 thoughts on “Inspiration

Add yours

  1. Betul sekali. Sy kenal seorang pedagang yang hampir setiap hari mengeluh. Capek, badan sakit, harus minum obat dst. Hingga suatu hari dia berhenti berdagang. Kesehatannya tidak bertambah baik. Karena kebiasaan mengeluh dan berharap akan ada bantuan dari orang lain. Ya, memang yg dibutuhkan hanyalah perubahan pola pikir dan cara kita memandang dunia. Wallahualam

    Like

  2. Betul sekali. Sy kenal seorang pedagang yang hampir setiap hari mengeluh. Capek, badan sakit, harus minum obat dst. Hingga suatu hari dia berhenti berdagang. Kesehatannya tidak bertambah baik. Karena kebiasaan mengeluh dan berharap akan ada bantuan dari orang lain. Ya, memang yg dibutuhkan hanyalah perubahan pola pikir dan cara kita memandang dunia. Wallahualam

    Liked by 1 person

    1. Nah, kan…pernah melihat kasus semacam itu. Perasaan mengeluarkan vibrasi ke semesta dan akan dikembalikan ke kita sesuai dengan perasaan itu, termasuk keluhan itu, Kak Lita. Makasih ya sharingnya.

      Like

  3. Kadang sifat manusia keluh kesah seperti di kitab suci, tanpa keluh kesah kadang kita seperti robot
    Begitu juga bersyukur kalo kita bersyukur selalu berharap akan di tambah nikmat kita maka kita bersyukur menagih janji Tuhan bukan bersyukur benar benar tulus
    Jadi bijaksanalah dalam menyeimbangkan rasa kita

    Like

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑