Inspiration

BERTUMBUH SAAT MERASA BODOH

Hutan jati biasanya tumbuh di daerah kering dengan struktur tanah berkapur,  tanah lempung atau berpasir yang minim air. Pohon jati punya kemampuan beradaptasi di daerah yang minim air. Kayu jati tidak tumbuh secepat tanaman di tanah gembur, namun serat kayunya jauh lebih padat, kuat, dan berharga. Ia tumbuh besar justru karena akarnya harus berjuang mencari celah di antara himpitan batu yang keras. Tak heran kalau kayu jati menjadi salah satu kayu unggulan yang harganya mahal dan paling dicari. Kombinasi kekuatan, ketahanan terhadap cuaca serta jamur atau rayap membuat kayu jati istimewa.

Tapi kualitas kita bukan seperti pohon jati. Kita seperti pohon di akar gembur. Kita terkondisi untuk mencari segala cara termudah, jalan termulus dalam hidup. Tanpa halangan, rintangan, kesulitan, itulah yang diharapkan semua orang. Semua lancar dan instan lewat jalan pintas. Tidak ada tantangan, karena yang penting gampang. Seperti itulah sejatinya cara kerja pikiran kita. Kita sering kali mendambakan kemudahan, jalan yang landai, dan pemikiran yang instan, tanpa menyadari bahwa kenyamanan yang berlebihan adalah peristirahatan bagi pertumbuhan. Itulah awal dari kematian daya kreatif, daya cipta, daya inovasi, dari otak kita yang punya kekuatan super. Otak kita tidak bakal bertumbuh oleh kemudahan.

Sering kali saat kita dihadapkan pada sebuah persoalan yang rumit atau konsep yang berat, respons alami kita adalah mundur. Saat menghadapi situasi sulit, kita merasa pusing, lelah, atau bahkan menganggap diri kita tidak mampu. Kita bahkan merasa bodoh. Padahal, rasa pusing dan frustrasi itu adalah nyanyian dari satu sel saraf (neuron) ke sel saraf lainnya. Ketika kita belajar hal sulit, berpikir keras, ada sinyal listrik yang berjalan menyusuri neuron. Di ujung neuron, sinyal ini melepaskan zat kimia yang menyeberangi celah sinapsis untuk mengetuk pintu neuron berikutnya. Semakin sering kita melatih pikiran, keterampilan, dan hal sulit, jalan komunikasi otak atau sinapsis ini akan kuat. Kita berarti telah melatih otak untuk terus berubah dan membentuk koneksi baru. Di sanalah kita bertumbuh dan menjadi lebih pintar karena semakin banyak sambungan sinapsis otak. Dalam dunia neurosains, kita belajar bahwa otak tidak berkembang saat kita mengulang apa yang sudah kita tahu. Tapi, otak kita mekar justru saat kita dipaksa untuk memikirkan sesuatu yang sulit dan belum pernah kita jangkau sebelumnya.

Kalau kita jujur pada diri sendiri, banyak dari kita yang lebih memilih menelan mentah-mentah opini orang lain daripada duduk diam dan membedah logika di baliknya. Berpikir yang sulit bukan berarti menyiksa diri, melainkan melatih otot mental agar tidak beku (atrofi). Otak kita akan jadi beku kalau tidak pernah dilatih. Otak beku terjadi karena kehilangan neuron dan koneksi sinapsis di otak yang tak pernah diajak berpikir atau dirangsang secara kognitif. Jika kita hanya memberi makan pikiran kita dengan hal-hal yang ringan dan hiburan yang dangkal, jangan heran jika suatu saat kita merasa limbung saat badai persoalan hidup yang sesungguhnya datang menerjang. Kita mudah terpuruk karena tidak tahan menghadapi kesulitan, seringan apa pun. 

Kesulitan sesungguhnya adalah pupuk bagi kebijaksanaan. Ketika kita berani mengambil tantangan untuk mempelajari hal baru, kita sedang membangun fondasi diri yang lebih kokoh. Kita mungkin bisa belajar bahasa asing yang rumit, instrumen musik yang menantang, atau mencoba memahami sudut pandang lawan bicara yang berseberangan dengan kita, atau hal lain yang sulit. Kita bukan sekadar jadi penonton di pinggir lapangan kehidupan, melainkan pemain yang tangguh.

Jangan takut pada rasa bingung, rasa bodoh, rasa tidak mampu. Kebingungan adalah ambang pintu menuju pemahaman yang lebih dalam. Merasa bodoh adalah kesempatan untuk terus maju dan menjadi lebih pintar. Tanpa rasa sulit, kita hanya akan menjadi salinan dari hari kemarin. Maka, mari kita peluk setiap kerumitan yang hadir, karena di balik pikiran yang sulit itulah versi diri kita yang lebih bijaksana sedang menanti untuk dilahirkan.

Mulai sekarang jangan pernah merasa lemah saat kita merasa bodoh. Tidak ada kebodohan, kecuali kita dengan sadar dan rela menyerah pada kesulitan. Saat merasa bodoh, jangan menyerah. Kita harus tetap maju, sesulit apa pun persoalan yang kita hadapi. Ingatlah, sel saraf otak kita sedang meningkatkan kapasitas agar kita lebih pintar, bijaksana, dan bertumbuh. Kita sedang menjadi akar pohon jati yang mencari celah di tanah kering berkapur agar pohonnya tumbuh kokoh dan tahan terhadap kerasnya kehidupan. 

Cari satu kesulitan kecil tiap hari. Jangan menyerah sekalipun pusing. Nikmati proses bingungnya, karena dalam kebingungan dan bahkan frustasi, Anda sebenarnya sedang bertumbuh untuk menjadi lebih bijak dan lebih pintar.***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑