DIAM SAJA, JANGAN BANYAK TANYA
Beberapa waktu lalu saya dan istri pulang kampung untuk sebuah urusan. Yogyakarta selalu punya daya magnet yang bisa menarik orang seperti saya untuk selalu pulang. Untungnya segala urusan bisa selesai dengan lancar. “Tahu nggak, semua urusan bisa lancar, dimudahkan, dan bahkan menyenangkan karena kamu diam, tidak mempertanyakan kenapa begini, kenapa begitu, seharusnya begini, begitu,” katanya.
Saya hanya terdiam mendengar pernyataan istri tersebut. Saya juga heran karena tumben sekali mulut saya pensiun untuk cerewet. Saya saat itu memang lebih banyak diam dan menurut tanpa banyak tanya. Padahalsebenarnya saya termasuk orang yang cerewet baik lewat mulut maupun pikiran. Ketika melihat sesuatu yang tidak beres, pertanyaan-pertanyaan spontan akan segera bermunculan. “Mengapa bisa begitu? Kan harusnya begini?” Pertanyaan ‘mengapa’ dan pernyataan ‘seharusnya’ itu ternyata sangat tidak mengenakkan, terutama bagi yang mendengarnya. Saya sendiri juga rasanya tidak enak, karena ada perasaan gemas, jengkel, dan menuntut.
Kita sering terjebak dalam siklus bertanya “mengapa” dan “bagaimana seharusnya”. Setiap kali ada sesuatu yang tidak sesuai harapan, otak kita otomatis menyiapkan daftar pertanyaan: Mengapa dia tidak mengerti?, Bagaimana saya bisa memperbaikinya?, Kenapa hidup ini terasa tak adil? Pertanyaan‑pertanyaan itu sebenarnya wajar. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika pertanyaan‑pertanyaan itu menumpuk tanpa jeda, hati menjadi gelisah, pikiran berputar‑putar, dan kedamaian terasa menjauh. Itu pula yang saya rasakan. Bawaannya jadi sewot, jengkel. Tidak damai, tidak nyaman.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa ketenangan sejati tidak datang dari upaya mengubah orang lain atau situasi di sekitar kita, melainkan dari kemampuan menerima apa adanya. Ketika kita berhenti memaksakan diri untuk menemukan jawaban di luar diri, kita sedang memberi ruang bagi pertanyaan itu sendiri untuk menjadi jawabannya. Di balik pertanyaan “mengapa saya selalu merasa tak puas?” tersembunyi jawaban “Karena saya masih menuntut perubahan pada orang lain, bukan pada diri saya.” Ini menjadi ironi. Jawaban sudah ada di dalam pertanyaan. Kita cukup membuka mata hati untuk melihatnya.
Saya lalu menyadari, ketika saya banyak mempertanyakan banyak hal, itu toh tidak akan mengubah keadaan. Yang ada saya hanya menuntut orang atau kondisi untuk berubah. Ketika menuntut mereka untuk berubah, maka kita sedang menjerumuskan diri dalam siklus yang tidak menyenangkan. Tuntutan ini menjadi naif. Lebih baik saya sendiri yang berubah, yaitu dengan menerima apa adanya tanpa menuntut perubahan. Berdamai dengan orang lain atau kondisi di luar yang tidak ideal menurut kita adalah cara terbaik untuk berubah.
Anda mungkin punya banyak pertanyaan dan tuntutan seperti saya. Anda pun mungkin sedang berkelana mencari jawaban di luar diri. Percayalah, ketika makin banyak mempertanyakan dan menuntut, kita tidak akan menemukan jawabannya. Kita hanya memelihara kegelisahan tanpa ujung dan tanpa ada yang berubah. Ada baiknya Anda memberi kesempatan untuk berdiam sejenak. Hilangkan segala pertanyaan dan tuntutan. Tarik napas dalam‑dalam, rasakan detak jantung, dan tanyakan pada diri sendiri: Apakah saya menuntut dunia berubah, atau saya bersedia berubah bersama dunia? Bila jawabannya terletak pada perubahan diri, maka damai akan mengalir secara alami. Menjalani tanpa banyak bertanya bukan berarti menyerah pada kebodohan, melainkan memilih untuk mendengarkan suara hati yang sering kali teredam oleh kebisingan pertanyaan.
Saya ingin berdamai dengan menjalani hidup tanpa banyak bertanya, karena jawaban sering ada di dalam pertanyaan. Saya lebih memilih damai di hati dan pikiran. Kedamaian pikiran itu hanya datang kalau kita berhenti untuk menuntut orang lain atau situasi di luar diri kita untuk berubah. Berhentilah untuk mempertanyakan. Mari kita diam, tidak usah banyak bertanya agar hati damai. ***

Leave a comment