Inspiration

ABAI, JALAN SUNYI MENUJU DAMAI

Bayangkan Anda sedang duduk di pinggir pantai, ombak berdebur pelan, angin menerpa wajah, dan pikiran begitu jernih. Lalu tiba-tiba, notifikasi ponsel berdering dengan sebuah komentar negatif di media sosial, email kerja yang mendesak, atau kabar dari teman yang hanya ingin mengeluh. Seketika, damai itu lenyap. Kita kembali terjebak dalam pusaran hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita pikirkan. 

Kita hidup di zaman informasi dengan gawai yang tak pernah berhenti berdering. Setiap hari, kita dibanjiri oleh opini, ekspektasi, kebisingan digital, dan tekanan sosial yang mengiris-iris ketenangan batin. Tapi tahukah Anda, bahwa salah satu keterampilan paling penting yang jarang diajarkan di sekolah bahkan di universitas adalah seni mengabaikan. Bahasa populernya adalah cuek, masa bodo, bodo amat, peduli amat, tapi dalam makna yang positif. 

Belajar cuek atau mengabaikan bukan berarti Anda menjadi orang yang acuh tak acuh. Bukan. Menurut saya, sikap ini justru tanda kedewasaan emosional. Karena di tengah hiruk-pikuk dunia hal yang paling sulit bukanlah melakukan banyak hal, tapi memilih untuk tidak merespons semua hal. 

Dalam hiruk pikuk kehidupan sosial, sering kita sering merasa punya kewajiban untuk harus membela diri, harus menanggapi kritik, harus menyenangkan semua orang. Padahal, dalam banyak kasus, yang benar-benar kita perlukan adalah sebuah napas panjang, lalu berkata, “Ini bukan urusanku.” Ada kalanya kita harus berani mengatakan hal tersebut demi ketenangan batin dan pikiran kita. 

Setiap hari kita dijejali puluhan hingga ratusan informasi di grup WhatsApp dari banyak grup. Mungkin kita tak punya waktu atau kemauan untuk membaca semua. Semua berjejal dan menyesakkan pikiran. Kemudian kita menghapus segala isi pembicaraan di media sosial itu. Kebiasaan itu dilakukan selama seminggu, misalnya, dan tiba-tiba pekerjaan terasa lebih lancar, pikiran lebih jernih, tidur lebih nyenyak. Itu bukan kebetulan. Itu adalah efek dari mengabaikan hal-hal yang sebenarnya hanya menguras energi emosional kita. 

Tapi mengabaikan itu sulit, karena kita dibesarkan untuk berinteraksi secara sosial, memperhatikan, menaruh kepedulian pada orang lain. Nilai rapor, pujian, komentar, like, dan validasi, semua ini menjadi ukuran. Seolah-olah semakin banyak perhatian yang kita beri, hidup kita serasa semakin berarti. Memberi dan peduli memang tidak salah. Tapi, justru niatan baik itu kadang memberi efek sebaliknya. Sedikit banyak kita jadi ikut terpengaruh.

Kedamaian datang bukan dari bagaimana kita menanggapi, tapi dari keberanian untuk tidak merespons hal yang tidak terlalu perlu untuk hidup kita sendiri. Coba saja rasakan betapa ringan hidup, ketika kita berhenti peduli dengan gosip di kantor, di sekolah, di kampus, di rumah, di tetangga. Betapa leganya hati, ketika kita memilih tidak membaca komentar negatif atau mendengar gosip negatif tentang dunia di luar kita.. Betapa damainya pikiran, ketika kita mengizinkan diri untuk tidak bereaksi spontan terhadap orang lain atau kondisi di luar kita. Betapa tenangnya batin ketika kita merasakan pengalaman hidup kita sendiri, tanpa perlu membandingkan dengan kehidupan orang lain. 

Kita tidak harus menjawab setiap percakapan di grup atau media sosial kalau memang tidak perlu dan tidak relevan. Kita tidak harus menyukai setiap postingan orang. Kita tidak harus hadir di setiap obrolan atau diskusi yang tak menambah nilai. Semakin banyak hal yang kita abaikan, Dengan demikian, semakin banyak ruang yang tersedia untuk hal-hal yang benar-benar penting untuk kita jalani dengan penuh rasa syukur, dengan hubungan yang tulus. Kita bisa membangun mimpi tentang hidup kita. 

Kita perlu belajar untuk abai, cuek, tidak peduli pada yang tidak perlu dan relevan. Karena kedamaian batin bukan didapat dengan menumpuk lebih banyak, tetapi dengan melepaskan apa yang tidak perlu. Seperti daun yang jatuh dari pohon, ia tidak membela diri, tidak berteriak. Dedaunan itu hanya melepaskan dan jatuh dengan tenang. 

Jadi, hari ini, mari kita coba bertanya pada diri sendiri, “Apa yang sebenarnya ingin saya abaikan, tapi malah saya izinkan mengusik hati?”, “Haruskah aku peduli untuk hal ini?” 

Kadang, keberanian terbesar bukan pada apa yang kita lawan, tapi pada apa yang kita biarkan berlalu. Dan di situlah, damai itu tumbuh dalam diam, dalam kesadaran, dalam keheningan yang kita pilih. Sikap abai itu akan menjadi jalan sunyi yang membuat hati dan pikiran kita jadi damai. ***

One thought on “Inspiration

Add yours

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑