Inspiration

KNALPOT BRONG, EMPATI ZONK

Ketika naik motor, baik sendiri atau berdua, saya selalu menemukan momen yang sangat menyenangkan untuk berdialog. Kalau sendiri, saya cukup intens berdialog dengan diri sendiri, atau sibuk bermain-main dengan pikiran sambil tetap konsentrasi memegang kemudi. Kalau berboncengan, saya juga menikmati dialog dan obrolan ringan sampai serius dengan orang yang berkendara satu motor dengan saya.

Ada keasyikan dan kedalaman tersendiri yang saya rasakan saat berkendara sambil ngobrol. Mungkin bagi pengendara lain saya dianggap aneh karena di jalanan ramai pun bisa ngobrol serius. 

Tapi akhir-akhir ini, keasyikan saya itu sering kali terusik dan bahkan sangat terganggu oleh kebisingan motor-motor dengan knalpot brong hasil modifikasi. Saya biasanya sabar dengan pengendara yang asal selonong atau ibu-ibu raja jalanan yang tidak tahu etika berkendara. Tapi untuk pengendara dengan knalpot bising ini, kesabaran saya biasanya tidak panjang talinya. Kadang saking jengkelnya saya sering menyumpah-nyumpah karena polusi suara yang di luar takaran telinga manusia itu. Entah kalau pengendara lain, tapi itu yang saya alami selama ini.

Maka ketika membaca berita ada aparat keamanan yang melakukan razia knalpot brong itu saya sangat bahagia dan mendukung. Bahkan pernah ada yang tertangkap lalu disuruh jongkok di dekat knalpotnya, dan mesin motor digas sekencang-kencangnya oleh aparat. Maksudnya untuk memberi efek jera, sebelum knalpot itu dirusak dan disuruh ganti. Sayang, fenomena knalpot brong itu kini makin menjadi-jadi di mana-mana. Seolah memang ada pembiaran.

Kita hidup di negara yang menjamin warganya untuk menikmati fasilitas jalan umum dengan nyaman. Tapi kini kenyamanan itu dirusak salah satunya oleh para pengendara motor dengan knalpot bising di luar takaran yang makin marak. Apakah hanya mereka saja yang berhak mendapatkan panggung untuk mencari pengakuan dan keakuan, sedangkan pengendara lain harus bersungut-sungut karena terganggu? 

Dari sudut pandang psikologi sosial, fenomena pengendara dengan knalpot bising atau brong itu adalah orang yang ingin dilihat, diakui oleh orang lain. Mereka ingin tampil beda untuk menarik perhatian dengan terlihat dominan di jalanan. Suara knalpot itu bukan sekedar suara raungan mesin, tapi bisa jadi sarana penyambung mulut mereka yang ingin berteriak, “Hai, kalian, lihat siapa aku!” 

Tapi saya yakin, teriakan mencari pengakuan itu lebih banyak tidak mendapat restu dan respek dari pengguna jalan lain. Yang ada umumnya adalah doa jelek, umpatan, dan makian dari orang lain. Alih-alih cari perhatian, mereka justru lebih sering disumpahi di jalanan. Menurut saya, pengguna kendaraan dengan knalpot brongitu empatinya kosong, alias zonk. Mereka miskin bahkan tak punya empati karena mereka tak peduli orang lain. Bukti yang paling nyata adalah saat mereka melewati gang kecil di perumahan dengan knalpot brong itu. Kehadiran mereka merobek keheningan, dan menyiksa orang yang mungkin sedang sakit atau beristirahat. 

Saya kadang mengelus dada melihat perilaku para pengguna jalan di negeri Konoha ini. Sudah terbukti melanggar, ketika ditegur marah. Apakah perilaku para pengguna jalan dan pemuja knalpot brong itu adalah cerminan budaya bangsa yang kurang punya adab? Mungkin saja iya. Apalagi kalau komunitas knalpot brong itu makin merajalela, niscaya rasa empati itu pelan tapi pasti akan mati. Bangsa kita yang terkenal santun itu akan menjadi bangsa nirempati, hanya karena haus validasi, pengakuan, cari perhatian. 

Saya sendiri tak tahu kapan kesadaran kolektif tentang bangsa yang punya adab akan kembali. Kesadaran itu hanya kembali di saat hening. Tapi kalau keheningan selalu dirobek oleh suara knalpot brong, mungkin selamanya empati akan zonk alias kosong. ***

One thought on “Inspiration

Add yours

  1. generasi lebih muda saat ini lahir di saat tidak ada empati dan tanpa pelajaran budi pekerti.. jadi kita hanya bisa berpikir koq bisa ya.. hahahaaaa… asssyuuuu guks.. guks..

    Like

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑