Inspiration

KERIKIL DI PERMUKAAN AIR DANAU

Ketika Anda suatu kali duduk dan menikmati ketenangan air di sebuah danau, Anda merasakan sebuah ketenangan dan kedamaian. Setenang dan sedamai permukaan air danau yang biru di depan Anda. Rasanya ada frekuensi batin yang selalu tersambung dengan air yang tenang di tengah alam yang penuh kicau burung dan desauan angin sejuk. 

Tiba-tiba di keheningan itu ada seseorang yang melemparkan kerikil kecil ke tengah danau. Apa yang terjadi? Air tenang itu akan terpercik seiring benturan kerikilnya. Setelah itu, air yang tenang akan beriak melingkar. Lingkaran gelombang air dari pusat benturan akan melebar dan membesar bahkan sampai ke tepian danau. Air yang tenang itu mulai bergelombang. Besarnya berbanding lurus dengan bobot benturan dan benda yang menimpanya. 

Dalam kehidupan, kita sering menikmati suasana batin yang tenang ketika kita berada dalam lingkungan yang tenang. Entah itu di keluarga, di masyarakat, di sekolah, di lingkungan pekerjaan. Lingkungan sekeliling yang tenang membuat batin kita pun tenang. Anggota keluarga, kolega, teman, tetangga yang ramah, penuh senyum dan keakraban makin membuat suasana hati kita jadi tenang.

Tapi, ketika ada salah satu dari lingkungan di mana kita berada berbuat ulah, apalagi marah-marah, suka atau tidak, disadari atau tidak, hal itu akan mempengaruhi suasana di sekitarnya. Misalnya, kita sedang ada acara keluarga yang penuh canda karena sedang merayakan sebuah pesta kecil. Tiba-tiba ada salah satu anak yang marah dan bete tanpa sebab. Emosi sesaat dari anak itu pasti akan memengaruhi suasana hati sekelilingnya. 

Saya pun sering mengalami hal ini. Setenang, sekalem, segembira apa pun hati, ketika ada yang merusak dengan emosi, maka saya pasti terpengaruh, sekecil apa pun itu. Seolah ada yang melempar kerikil di permukaan danau yang tenang dan menimbulkan riak serta gelombang. Getaran emosi yang negatif itu menyebar dengan cepat sehingga memengaruhi emosi orang lain yang ada di sekelilingnya. 

Kita tanpa sadar pun sering menjadi pelempar kerikil di tengah permukaan air danau yang tenang. Bahkan tak hanya kerikil, tapi batu hitam besar yang kita lemparkan. Gelombang air yang ditimbulkannya pun tak tanggung-tanggung. Kelakuan, emosi kita, sikap kita turut andil dalam menciptakan ketenangan maupun kericuhan bagi lingkungan sekitar kita. Kita sering tidak menyadari hal ini karena kita egois, hanya memikirkan diri sendiri tanpa peduli orang lain di sekitar kita. Kita sering menjadi batu hitam yang keras yang menghantam permukaan air tenang. 

Emosi atau perasaan menciptakan getaran atau vibrasi. Entah itu positif atau negatif, perasaan kita selalu memancarkan getaran yang menyebar ke sekeliling kita. Kita sering tidak menyadari hal ini. Seolah perasaan sedih, marah, sakit hati itu hanya hak kita, milik kita. Kita bersikap masa bodoh dengan orang lain yang ada di sekitar kita sehingga tidak menyadari kalau pancaran dan getaran emosi itu memengaruhi orang-orang yang ada di sekeliling kita.

Realitas sering membuka mata bahwa kita dikelilingi kehidupan yang penuh riak dan gelombang. Hampir sulit menemukan ketenangan bak permukaan air danau bening. Orang makin tak peduli perasaan orang lain dengan sikap dan perilakunya. Orang berlomba untuk saling melempar batu, bukan kerikil lagi. Tak heran kalau batin dan pikiran kita ikut suntuk karena terkena getaran negatif tersebut. 

Setelah menyadari hal ini, sekarang kita makin tahu, apakah kita akan menebarkan ketenangan batin dan emosi yang baik, atau menjadi kerikil yang merusak ketenangan batin dan emosi orang lain. Kita tidak bisa hidup sendiri. Kita selalu bersama orang lain, baik yang dikenal maupun yang tak dikenal. Kita bagaikan kesatuan air danau yang luas yang selalu terhubung. Ketika tenang, semua akan tenang dan bening. Ketika beriak, semua akan bergelombang dan ketenangan itu akan rusak. Semua tergantung kesadaran kita masing-masing. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑