Inspiration

MENANAM KEADILAN DI KEBUN PIKIRAN

Hari-hari ini kita kadang ikut merasa kesal saat melihat seseorang di media sosial langsung menghakimi orang lain hanya berdasarkan potongan video singkat? Kasus besar yang pernah terjadi adalah mantan gubernur Jakarta, Ahok Basuki Tjahaja Purnama, dengan potongan pidato yang akhirnya menjatuhkan dirinya. Sungguh miris dan jahat orang-orang yang ingin menjatuhkan mereka kala itu. Mungkin, secara tidak sadar, kita sendiri sering memberikan label buruk pada seseorang hanya karena penampilannya tidak sesuai dengan selera kita, hanya karena potongan informasi yang tersaji, dan sebagainya. 

Pramoedya Ananta Toer dalam mahakaryanya Bumi Manusia memberikan sebuah tamparan lembut namun telak bagi kita semua. Ia menulis, “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” Kalimat ini bukan sekadar kutipan puitis, melainkan sebuah standar moral yang sangat tinggi bagi kita yang mengaku sebagai orang yang berpendidikan. Apalagi kita bangsa yang mengaku paling religius dan agamis.

Namun berbicara soal keadilan, rasanya hal itu makin menjadi barang yang semakin langka di negeri ini. Keadilan dan urusan hukum itu menjadi perkara yang menakutkan, karena alih-alih kita memperjuangkan ketidakadilan, kita sendiri yang akan diperlakukan secara tidak adil. Itu nyata dan sering terjadi. Dalam kehidupan saat ini, kita sering menganggap keadilan hanya terjadi di ruang sidang atau dalam pembagian warisan. Meski fakta selanjutnya, tidak ada keadilan yang seadil-adilnya yang terjadi. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa keadilan maupun ketidakadilan terbesar justru sering bermula dari balik tempurung kepala kita sendiri.

Di era informasi yang serba cepat ini, kita sering terjebak dalam prasangka. Kita merasa “adil” jika orang yang kita benci kalah, dan merasa “tidak adil” jika orang yang kita sukai ditegur. Keadilan kini sering kali menjadi subjektif, tergantung pada kepentingan masing-masing. Tergantung juga pada seberapa kuat ia berkuasa atau punya kekuatan. Lalu kita bertanya, benarkah itu sifat seorang terpelajar, orang agamis dan religius yang katanya bermoral?

Bayangkan pikiran kita adalah sepasang kacamata yang kita gunakan untuk melihat dunia. Jika kacamata kita penuh dengan debu prasangka, bintik-bintik kebencian, atau noda egoisme, maka seindah apa pun pemandangan di depan, hasilnya akan terlihat kotor dan buram. Seadil dan sebaik apa pun, yang terlihat akan selalu tampak bintik hitamnya. Saya punya keyakinan bahwa dunia ini menjadi jahat dan penuh ketidakadilan karena pikiran dan hati kitalah yang awalnya menciptakan. 

Berbuat adil sejak dalam pikiran berarti kita punya kemauan untuk mengelap kacamata tersebut setiap hari. Sebelum kita menghakimi tindakan seseorang, sudahkah kita bersikap adil dengan mencoba memahami latar belakangnya? Sebelum kita melabeli sebuah ide itu salah, sudahkah pikiran kita cukup adil untuk menimbangnya tanpa berat sebelah?

Pikiran adalah benih, sedangkan perbuatan adalah buahnya. Mustahil kita bisa bertindak adil kepada orang lain jika di dalam pikiran kita masih menyimpan timbangan yang rusak. Jika pikiran kita sudah penuh dengan penghakiman, maka ucapan dan tindakan kita secara otomatis akan menjadi tajam dan tidak adil.

Menjadi terpelajar bukan soal berapa banyak gelar yang kita deretkan di belakang nama. Menjadi terpelajar adalah tentang kualitas kesadaran kita sendiri. Menjadi adil sejak dalam pikiran adalah tantangan bagi kita semua. Beranikah kita berhenti sejenak sebelum berprasangka? Beranikah kita memberi ruang bagi kebenaran orang lain di dalam kepala kita? Yakinkah kita sudah bermoral dan adil sebelum menghakimi orang lain tidak bermoral dan tidak adil?

Mari kita mulai hari ini. Jadikan pikiran kita tempat yang paling jujur dan adil. Sebab, saat pikiran sudah adil, perbuatan baik akan mengalir semudah air yang mengalir ke tempat yang lebih rendah. Keadilan akan mengalir dari dalam diri dan kesadaran yang akhirnya akan membangkitkan kesadaran bersama sebagai umat manusia yang katanya terpelajar, religius, berakhlak dan bermoral.**** 

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑