ENDAPAN KOPI PAHIT DI CANGKIR KEHIDUPAN
Bagi penikmat kopi, pagi hari merupakan pembuka hari dengan secangkir kopi sebagai penandanya. Betapa indah ketika pagi ditemani aroma kopi tubruk yang harum, pekat memenuhi udara. Tegukan pertama, nikmatnya luar biasa. Kehangatan dan semangat langsung menyergap.
Ketika ritual pagi selesai dan kopi itu sudah habis, yang tersisa hanya endapan hitam, kental, dan pahit di dasar cangkir. Hidup ini sering kali persis seperti kopi tubruk itu. Kadang, kehidupan ini menyajikan momen-momen yang begitu nikmat yang kita rasakan seperti tegukan pertama kopi di pagi hari. Namun, tak jarang juga kita dihadapkan pada rasa pahit yang tersisa, seperti endapan kopi yang lama mengendap di dasar hati dan pikiran kita.
Hidup tak pernah menjanjikan keindahan senikmat kopi pagi yang kita seruput. Tak jarang kita harus berkutat dengan kepahitan, kekecewaan, sakit hati bagaikan endapan kopi hitam itu. Endapan itu berat, lengket, dan jika kita biarkan, ia akan terus ada. Kalau dibiarkan akan mengganggu mata. Kalau diseruput lagi, pasti terasa pahit dan membuat batuk.
Hidup itu adalah pilihan dan keputusan. Bahkan saat kita mau memulai pagi kita dihadapkan pada pilihan, mau minum kopi, teh, susu, atau air putih saja. Ketika kita selesai minum kopi, kita punya dua pilihan terkait endapan itu. Kita bisa saja membiarkan endapan hitam itu tetap berada di dasar cangkir. Kita bisa mengamati, mengingat-ingat hal-hal yang sangat menyakitkan, menyedihkan dalam hidup kita. Dengan demikian, kita sedang memilih untuk terus mengingat dan menghidupi sakit hati dan kepahitan di masa lalu. Di mulut kita mengucap niat untuk sembuh, untuk positif, untuk maju, tapi di hati dan pikiran kita sangat telaten menyimpan endapan sampah emosional itu.
Pilihan kedua, kita bisa membawa cangkir penuh endapan kopi itu ke dapur. Kita semprot cangkir itu dengan air jernih dari keran. Semakin banyak air jernih itu mengalir ke cangkir, semakin tersingkir endapan hitam kopi itu. Endapan hitam itu perlahan akan berputar, meluruh, dan hanyut. Isi cangkir kini berganti dengan air yang bersih. Kita bisa memilih untuk menyingkirkan kepahitan hidup, sakit hati, kekecewaan itu dengan mengisi ruang hati kita dengan kejernihan pikiran, hati.
Tanpa disadari kita sering hidup dalam paradoks yang menyakitkan. Kita berkoar ingin bebas dari beban masa lalu, ingin bahagia, ingin ringan melangkah. Tapi, pada saat yang sama, kita enggan membuang endapan pahit itu. Kita sibuk mengeluh, tapi tidak pernah mau membuka keran agar air jernih mengalir dan membersihkan cangkir batin kita.
Pekatnya endapan itu bisa tersapu oleh air jernih. Dengan berdamai dan memaafkan orang lain atau diri sendiri, belajar melepaskan, fokus pada hal positif , atau mengisi hari dengan kegiatan baru yang bermakna adalah wujud nyata air jernih. Pikiran positif kita ibarat air jernih yang dapat menghanyutkan endapan kopi hitam dalam hidup. Semua tinggal pilihan dan keputusan kita, apakah mau membuka keran air jernih dan membersihkan cangkir dari endapan masa lalu itu atau tidak.
Sekali lagi, hidup adalah rangkaian pilihan. Endapan kepahitan hidup itu akan selalu ada. Toh hidup tak selalu menjanjikan sesuatu yang mulus dan sempurna karena itu bagian dari proses kehidupan. Tapi, kita punya kekuatan penuh untuk memutuskan apakah kita ingin menikmati aroma kopi atau memandangi endapan kopi. Seberapa lama dan seberapa besar pengaruhnya dalam hidup kita, itu tergantung pada pilihan kita sendiri. Kita punya kendali atas hidup kita sendiri. Kita bisa memilih untuk jernih dan menikmati setiap tegukan baru kehidupan tanpa dihantui luka dan kepahitan masa lalu. ***

Leave a comment