Betapa banyak orang yang mengklaim dirinya taat, tunduk, dan setia memegang keyakinannya. Betapa kuat orang memegang iman dan kepercayaannya. Betapa rajin orang melakukan ritual dan ibadahnya dalam keseharian. Apalagi di negeri yang konon dianggap paling religius, paling agamis seperti Indonesia.
Namun, dari sekian ribu ritual yang dijalankan, anehnya ada banyak orang yang mengeluh bahwa doa-doanya tidak pernah, jarang, atau belum dikabulkan. Doanya serasa tak pernah dijawab. Tuhan dan semesta seolah tuli atau terlalu sibuk untuk mendengarkan umat yang berseru-seru, mengemis-ngemis berkah dariNya. Kemudian orang mulai menghibur diri dengan kata-kata bijak tentang kesabaran, pengharapan, demi menunggu jawaban atas doa-doanya. Tentu saja sambil disarankan untuk terus menyerukan permintaan dalam setiap detik ritual doanya.
Persoalannya, apakah yakin bahwa Tuhan dan semesta akan serta merta mengabulkan jutaan bahkan milyaran permintaan itu? Ini bukan kotbah atau menghakimi keyakinan, agama, atau cara ibadah agama tertentu. Tidak sama sekali. Tulisan ini hanya sebuah refleksi tentang kesadaran kita sebagai manusia di tengah semesta raya yang luar biasa besarnya.
Secara analogi, persoalan ini sebetulnya sudah sering dialami dalam skala keluarga kita. Bagi yang sudah menjadi orang tua atau masih menjadi anak, pasti pernah mengalami hal semacam ini. Anak menginginkan sesuatu dan meminta orang tuanya untuk membelikannya. Keinginan itu selalu diulang dan bahkan sampai merengek-rengek setiap hari. Semakin gencar rengekan itu, semakin sebal dan sedih orang tuanya. Orang tuanya justru semakin tak mau mendengarkan permintaan anaknya yang setiap hari diteriakkan.
Setelah beberapa lama keinginannya tidak kunjung dibelikan, maka anaknya pun diam, ngambek, pada orang tuanya. Lama kelamaan anaknya mulai lupa pada keinginannya semula. Ia mulai tenang dan menjalankan kegiatannya sebagai anak di rumah. Ia menjadi rajin belajar, berbakti, tahu diri. Ia tak pernah meminta lagi pada orang tuanya. Melihat hal tersebut, orang tuanya mulai iba. Mereka mulai mengingat apa yang pernah diminta anaknya. Karena anaknya diam dan kelakuannya makin baik, orang tuanya diam-diam mulai membelikan apa yang diinginkan anaknya di saat anaknya tidak merengek.
Demikianlah yang terjadi saat kita berdoa dan meminta sesuatu pada Tuhan dan semesta. Tuhan dan semesta selalu mengatakan “Ya” dan tidak pernah menolak. Tuhan tidak pernah mengatakan “Tidak”. Bahkan semesta selalu menunggu momen untuk memberikan kelimpahannya pada kita, manusia, bahkan saat kita sudah lupa dan tidak memintanya lagi.
Lalu mengapa doa dan permohonan tidak pernah terjawab? Seolah Tuhan dan semesta mengatakan tidak dan menolak. Itu semua karena pikiran dan hati kita sibuk berteriak dan merengek. Akibatnya pikiran dan hati tak pernah tenang, berisik, ribut di dalam. Keributan hati dan pikiran itulah yang membuat kita gagal melihat bahwa sesungguhnya semesta sudah mengatakan “Ya” dan siap memberikan apa yang kita mau.
Doa hanya terkabul ketika ada keselarasan jawaban “Ya” dari kita dan “Ya” yang selalu dikatakan dari Tuhan dan semesta. Masalahnya kita tak pernah berada dalam frekuensi selaras itu. Di mulut kita mengatakan “Ya”, di hati kita sejatinya mengatakan “Tidak”. Saat kita merengek dan meminta, berarti kita sedang memancarkan energi kekurangan dan tidak memiliki. Semakin kita memaksa, semakin kuat sinyal kekurangan itu. Tanpa disadari, kita sedang melantunkan kata “Tidak mau”.
Sementara, Tuhan dan semesta hanya menjawab persis dengan rasa yang kita pantulkan, yaitu rasa kekurangan, ketakutan, keraguan. “Ya” bukan sekedar kata, tapi vibrasi, getaran rasa untuk mau menerima tanpa takut, khawatir akan kekurangan. Mulut kita meminta, tapi hati kita takut ditolak, takut tak terkabul, takut miskin, takut kekurangan. Di situlah hati kita berisik, ribut, gelisah karena rasa takut itu.
Pohon tidak pernah memaksa daunnya untuk tumbuh. Sungai tidak pernah memaksa airnya mengalir ke samudera. Kehidupan punya hukumnya dan mengalir apa adanya. Setiap kali kita memaksa dan ngotot meminta dalam doa, sesungguhnya kita sedang menyuarakan energi ketakutan dan kekurangan. Semesta hanya merespons dan mengabulkan rasa, bukan kata.
Maka, penuhilah dulu hati dan pikiran kita dengan rasa syukur seolah sudah menerima yang kita minta dalam doa. Rasa syukur, rasa cinta, dan ketenangan batin ternyata menjadi sinyal kuat yang terkirim ke Tuhan dan semesta. Itulah yang menjadi bahasa semesta untuk mengabulkan doa kita. Itulah yang membuat kita selaras dengan kata “Ya” dari Tuhan dan semesta.
Menurut Joe Dispenza, untuk melihat dan menyelaraskan hati kita terhadap kata “Ya” dari Tuhan adalah dengan keheningan batin, menyingkirkan keributan batin kita yang selalu memancarkan penolakan dan kata “Tidak”. Suara batin yang berisik itu adalah keraguan, ketidaksabaran, kegelisahan kita. Maka, diamlah, tenang, jangan memaksa, jangan mengejar-ngejar, karena dalam ketenangan kita akan bisa melihat bahwa Tuhan selalu mengatakan “Ya”.***

Leave a comment