Inspiration

MASA PEMILU, MASA OVERTHINKING

Beberapa hari lalu saya membuat kartun politik yang menggambarkan sebuah periuk besar bertuliskan Pemilu 2024 yang berada di atas tungku perapian. Api itu bersumber dari kayu-kayu bertuliskan “Netralitas, anak haram demokrasi, abuse of power, nepo baby, fanatisme”. Periuk panas itu menghasilkan uap hitam bertuliskan “chaos”. Ketika saya unggah di salah satu kanal media sosial, sontak gambar itu mengundang komentar beragam karena sebagian mengatakan gambar saya provokatif. Bahkan salah satu teman mengatakan, “Siap-siap jadi TO (Target Operasi) apparat.” Saya hanya tertawa kecut.

Semua sudah tahu dan menyadari, masa menjelang Pemilu 2024 ini suhu dan tensinya making meninggi. Para tokoh politik, entah itu calon presiden, calon wakil presiden, calon wakil rakyat, seolah menjadi magnet raksasa yang menghipnotis masyarakat untuk mendukung atau menolaknya. Mendukung atau menolak adalah hak politik setiap orang. Tidak masalah. Tapi, justru yang menjadi masalah adalah reaksi-reaksi emosi yang menyertai dukungan atau penolakan itu. Fanatisme dukungan membuat banyak pendukung merasa paling benar dan paling baik. Sementara yang ditolak adalah yang tidak pantas, sehingga layak untuk dijatuhkan atau dihakimi.

Itulah fakta yang hari-hari ini terjadi dan memenuhi ruang-ruang publik, entah di keluarga, tetangga, pertemanan, kantor, masyarakat, atau bahkan di grup-grup Whatsapp. Perdebatan soal dukungan dan penolakan politik itu potensial membuat perpecahan. Menurut saya, inilah “chaos” yang saya maksud. Kekacauan cara pikir, cara pandang, yang menimbulkan perseteruan inilah yang saya maksud “chaos”.

Semua orang, tanpa membedakan kelas sosial dan pendidikan, mendadak menjadi pengamat dan analais politik yang merasa paling pintar. Repotnya, ketika ruang publik diisi oleh orang-orang yang merasa paling, maka yang terjadi adalah konflik dan kekacauan. Semua berusaha tampil terdepan sebagai pembawa informasi A1 yang valid. Semua tampil sok pintar dan jago untuk menjatuhkan lawan.

Masa Pemilu membuat orang cenderung overthinking (berpikir terlalu jauh) dan overanalyzes (menganalisis terlalu jauh). Kita lalu sibuk berpikir dan berandai-andai terhadap sesuatu atau seseorang yang masih belum terjadi dengan beragam analisis dan prediksi. “Jangan pilih si anu, kalau jadi pemimpin pasti akan terjadi anu…”, “Si anu kan belum layak, pasti nanti akan kacau”, dan beragam prediksi lainnya. Seolah-olah apa yang dianalisis dan dipikirkan sudah menjadi fakta saat ini. Inilah yang menjadi biang keributan di sana sini.

Slogan Pemilu Gembira yang pernah terdengar sudah kehilangan maknanya. Orang lupa gembira dan bahagia karena overthinking, berpikir dan berandai-andai terlalu jauh. Padahal dasar dari rasa bahagia itu adalah kemampuan untuk hadir dan sadar sepenuhnya terhadap tempat dan apa yang kita lakukan saat ini (mindfulness). Kondisi dasar untuk gembira dan bahagia adalah kesadaran untuk bahagia. Kalau tidak sadar, ya tidak bahagia. Sadari dan nikmati saat ini dengan melihat kontestasi politik tanpa harus emosi. Biarkan terjadi apa yang di luar kendali kita, supaya kita bahagia.

Ingatlah, dengan menjaga momen saat ini, kita berarti menjaga masa depan. Untuk bisa menciptakan perdamaian di masa depan, buatlah perdamaian dalam diri di saat ini, sekarang ini. Begitu pesan orang bijak.***(Leo Wahyudi S).

Foto kartun politik oleh Leo Wahyudi S

2 thoughts on “Inspiration

Add yours

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑