Inspiration

MASALAH

Ada sebuah cerita. Setelah bepergian, seseorang tak sengaja kehilangan kunci kendaraannya lantaran jatuh di sebuah ruangan gelap. Ia berusaha mencari kunci tersebut di tengah kegelapan. Sampai kepala dan kakinya terantuk meja, kunci tak berhasil ditemukan. Karena tidak kunjung ketemu, orang itu lalu pergi dari ruang gelap itu. Ia pergi ke luar rumah dimana ada lampu yang menyala terang. Entah apa yang ada di benaknya, ia merasa yakin kuncinya yang jatuh akan ketemu kalau ada lampu penerang. Sayang, sampai ia frustasi, kuncinya pun tak bakal ketemu.

Cerita itu sebetulnya adalah pengalaman yang sering kita alami saat menghadapi masalah. Kita justru keluar dari masalah alih-alih untuk menyelesaikan masalah dengan mencari suasana terang.  Masalah sesungguhnya terjadi di dalam, tetapi kita kita justru mencari penyelesaiannya di luar. Persis seperti orang yang mencari kunci dalam cerita tadi. Alhasil, masalah menjadi semakin kusut. Anehnya meski sudah kusut, kita tetap tak kunjung menyadari. Kalaupun sadar, perlu siaran tunda yang lama. Diakui atau tidak, kita sering melakukannya. Pergi dari permasalahan dan lari untuk mencari solusi dari luar.

Masalah sesungguhnya jika diurai adalah masa bersalah. Masa ketika hidup kita dibuat tidak nyaman sehingga apapun yang kita pikirkan, kita lakukan, menjadi salah. Namun di sisi lain,di masa itulah kita seharusnya belajar dari salah untuk menjadi benar sekalipun kita telat untuk sadar.

Tak jarang kita berempati pada orang lain untuk turut membantu menyelesaikan masalah. Tapi, alih-alih membantu, justru kita sedang memperbesar permasalahan yang ada. Sadarkah bahwa ketika kita berfokus pada masalah yang sedang dihadapi seseorang, kita belum tentu  membantunya atau tidak membantu diri kita sendiri, karena kita justru sedang menambah energi kepada masalah. Bahkan kita yang sedang bermasalah juga menarik lebih banyak masalah “serupa” kepada diri kita sendiri. Saat berupaya menyelesaikan masalah, alih-alih mencari solusi, kita sering hanya berkutat pada permasalahannya. Kita sibuk mengulang dan memperdebatkan apa yang menjadi masalah, bukan bagaimana keluar dari masalah.

Dengan mengetahui ini, sangatlah penting bagi kita dan orang yang sedang bermasalah tersebut untuk berfokus pada apa yang  kita inginkan bersama. Menurut Rhonda Byrne, orang yang bermasalah harus diajak membicarakan apa yang diinginkannya bukan apa yang menjadi masalahnya, karena masalah yang dihadapinya adalah hal yang tidak diinginkannya. Dengan kata lain, hal penting yang harus dilakukan adalah mencari solusi atas masalah, bukan berkutat dengan permasalahannya.

Masalah itu sendiri muncul karena orang itu memikirkan atau membicarakan apa yang tidak diinginkannya, alias masalah itu sendiri. Kita tanpa sadar hanya jalan di tempat sambil menarik permasalahan lain. Mau tak mau, kalau ingin mencari solusi, reaksi berantai semacam ini harus dihentikan. Karena itu, saran Byrne, bantulah orang-orang yang Anda cintai atau orang lain yang bermasalah dengan mengajak mereka mengucapkan kata- kata tentang sesuatu atau solusi yang mereka inginkan. Itulah jalan keluarnya.

Albert Einstein berpesan, “Kita tidak dapat menyelesaikan masalah dengan pemikiran yang sama saat menciptakan persoalan itu.” ***(Leo Wahyudi S)

Photo taken from https://tipscd.com/seven-steps-for-solving-business-problems/

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑