Inspiration

AYAM DAN REJEKI

Suatu pagi, ketika saya membuka ponsel, saya mendapat kiriman sebuah tulisan pendek dari seorang teman. Saya menduga ini tulisan teman saya yang memang getol menulis di blognya. Tulisan ini cukup menggelitik sekaligus memiliki kedalaman makna.

“Kalau ingin menangkap ayam, jangan dikejar, karena nanti kita akan lelah. Ayam pun akan makin menjauh. Tetapi, berikanlah beras dan makanan kepada ayam itu. Nanti ayam akan datang dengan rela dan kita akan dapat menangkapnya dengan mudah.

Demikian pula dengan rejeki. Melangkahlah dengan baik. Jangan terlalu kencang mengejar dan ngotot dalam memburunya. Nanti kita akan lelah tanpa mendapatkan hasil apapun. Tetapi, keluarkanlah sedekah. Nanti rejeki akan datang menghampiri kita tepat pada waktunya…”

Apakah kenyataannya memang demikian dalam hidup ini? Saya merasa tulisan pendek itu ada benarnya. Minimal, tulisan itu mengingatkan bahwa apa yang telah kita lakukan selama ini justru berkebalikan dari makna tulisan itu. Artinya, ada yang salah dengan cara yang kita tempuh saat kita mencari rejeki dan penghidupan.

Tuhan sudah menciptakan alam beserta isinya yang dapat dimanfaatkan manusia agar tetap melangsungkan kehidupannya. Semua sudah tersedia. Tugas kita tinggal mengambil. Termasuk mengambil bagian yang dapat menjadi sumber penghidupan kita.

Kita sendiri sudah terlalu lama dalam pola pikir yang salah kaprah. Betapa sering kita mengamini bahwa kita bekerja untuk mencari rejeki sehingga kita tetap hidup. Padahal, semua sudah tersedia dan kita tak perlu mencari, tetapi mengambil rejeki. “Mengapa harus mencari rejeki, wong kita tinggal mengambil rejeki kok. Semua sudah disediakan oleh Tuhan,” demikian kata teman saya suatu kali. Cukup menampar dan menohok pola pikir saya selama ini.

Salah kaprah berikutnya adalah ketika kita mengejar rejeki dengan ngotot dan berlelah-lelah, namun tanpa hasil maksimal. Kita merasa sudah bekerja membanting tulang dan memeras keringat, air mata dan darah. Begitu ungkapan hiperboliknya. Karena pola pikir yang salah ini, maka yang terjadi rejeki yang kita kejar akan kabur seperti ayam dalam cerita tadi.

Betapa banyak orang yang ‘menggenggam’ rejeki yang telah dicarinya dengan susah payah. Wajar, karena memang itu hasil jerih payahnya setelah berlari kian kemari mengejar ‘ayam’. Tapi tak ada sedikitpun pikiran atau niatan untuk memberikan beras kepada ayam agar ayamnya mau mendekat. Kita selalu lupa bahwa berbagi dan memberi sedekah beras kepada ayam itu menjadi cara Illahi untuk mendekatkan rejeki kepada kita.

Semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula kita akan menerima. Bersedekah tidak harus menunggu kita kaya harta. Bersedekah tidak pula harus harta. Bersedekah hati, pikiran, rasa, ilmu, perhatian, telinga, atau bahkan uang sudah menjadi tindakan mulia. Sedekah itulah yang akan membuat rejeki datang menghampiri kita sebagai anugerah. Rejeki tidak pernah salah alamat jika kita menuliskan alamat dengan tulus, jujur, demi sebuah kebaikan. Inilah hukum kehidupan. *** (Leo Wahyudi S)

Photo Credit: klein&hurbert/naturalpl.com  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: