Inspiration

TAKUT MILIK SEMUA ORANG

Kapan Anda mengalami ketakutan? Takut menghadapi masa depan, takut penyakit, takut miskin, takut mati, takut gagal, takut tidak lulus ujian, takut tidak naik pangkat, takut kehilangan pekerjaan, takut terhadap atasan. Semua ketakutan adalah rasa yang normal yang dialami manusia. Rasa takut itu boleh dibilang hanya kendala sementara. Kalau dihadapi, di balik ketakutan itu ada keberanian dan pertumbuhan. Ketakutan toh bukan realitas yang tak bisa diubah. Orang yang mengubah rasa takut menjadi tindakan adalah orang yang punya nyali dan keberanian. Tapi, berbicara tentang mengatasi rasa takut itu selalu mudah diucapkan, dan sulit untuk diatasi. Ini manusiawi.

Kita sering kali terjebak dalam label-label keberanian tanpa memahami bahwa rasa takut sebenarnya adalah tamu yang jujur. Bagi kita yang merasa menjadi penakut, ketakutan sering kali datang terlalu dini. Kita merasa gentar sebelum kaki sempat melangkah keluar pintu, membayangkan segala bahaya yang mungkin belum tentu terjadi. Ini adalah bentuk perlindungan diri yang terlalu protektif. Rasa takut bagaikan sebuah alarm yang berbunyi sekalipun hanya debu yang lewat. Namun, di titik ini kita sebenarnya masih memiliki kesempatan untuk mengenali bahwa bahaya itu sering kali hanyalah konstruksi pikiran. Pepatah Jepang mengatakan bahwa rasa takut itu hanya sedalam pikiran kita. Semakin dalam kita memikirkannya, semakin besar rasa takut itu menghantui kita.

Berbeda halnya ketika kita menjadi pengecut. Pengecut itu adalah orang yang takut ketika bahaya datang. Rasa takut itu baru melumpuhkan kita tepat saat hidup menuntut pembuktian. Saat bahaya mengetuk pintu, kita justru berbalik arah. Itulah peran seorang pengecut. Sebaliknya, sosok pemberani adalah orang yang merasa takut setelah bahaya lewat. Para pembalap motor bisa jadi contoh. Mereka membalap dengan memacu motor pada kecepatan maksimal. Mereka bernyali untuk memenangkan balapan. Ketika melihat rekaman ulang balapan itu, barulah ia jeri dengan bahayanya memacu motor dengan kecepatan tinggi. Rasa takut dan jeri muncul belakangan bagai para pemberani.

Seorang pemberani bukanlah manusia tanpa rasa takut atau sosok yang kebal terhadap kegentaran. Justru, pemberani adalah mereka yang mampu menunda rasa takutnya. Mereka menaruh rasa takut itu di saku belakang, menyelesaikan apa yang harus diselesaikan, dan baru membiarkan diri mereka gemetar setelah semuanya usai. Pemberani akan melakukan apapun demi membela apa yang dianggap benar. Kalau bahasa jalanan, orang yang pemberani hanya punya batas tipis dengan orang yang nekat. Orang nekat akan menghantam dulu urusan belakangan. Pemberani adalah orang yang beraksi dengan perhitungan. 

Dalam perjalanan hidup, kita tidak perlu malu  mengaku takut jika merasakan ketakutan. Ada saatnya kita harus menjadi penakut. Tapi jangan jadi pengecut yang takut lebih dulu sebelum bertindak. Yang perlu kita latih adalah pengaturan waktunya. Keberanian sejati adalah kemampuan untuk tetap tenang di pusat badai. Pemberani melakukan tindakan yang diperlukan saat situasi sedang kritis. Pemberani selalu memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasa rapuh  dan takut ketika apa yang diperjuangkan sudah tercapai. Kita adalah nakhoda bagi emosi kita sendiri. Jangan biarkan rasa takut mengambil alih kemudi sebelum pelabuhan terlihat. Toh rasa takut itu hanya sedalam pikiran kita. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑