Inspiration

MEMBERI SAMBIL SELFIE

Sudah sering kita mendengar pepatah yang berasal dari ajaran Kitab Suci, “Saat tangan kanan memberi, jangan sampai tangan kiri tahu.” Namun, di era di mana setiap momen bisa diunggah dalam hitungan detik, ajaran mulia itu sedikit bergeser maknanya. Orang berakting seperti orang murah hati hanya demi konten. Kalaupun tidak akting, pemberiannya tulus maksudnya, masih ada juga yang butuh dokumentasi demi validasi atau pengakuan dari warganet. 

Saat membuka Thread, saya tersenyum melihat sebuah gambar lucu dengan tulisan: “Saat tangan kananmu memberi, janganlah tangan kirimu selfie.” Tulisannya dibuat dengan gaya artistik yang menarik dan jenaka. Bagi saya, kata-kata dalam unggahan tersebut bukan sekadar lelucon, melainkan sebuah pengingat halus bagi kita semua tentang esensi dari ketulusan saat kita berbagi dan memberi. Memberi yang tulus tanpa butuh validasi di tengah gempitanya media sosial bisa jadi tantangan tersendiri. Mungkin motivasinya bukan sekedar cari validasi, tapi dokumentasi pribadi yang diunggah jadi konten di media sosial atau status di WhatsApp. Hasilnya sama saja, memberi bukan lagi aksi berbagi, tapi pamer diri bahwa sudah berbagi biar divalidasi orang lain. 

Makna dari kehidupan adalah menemukan apa yang Anda terima. Tujuan hidup adalah untuk memberi apa yang telah kita terima. Ini kata Pablo Picasso, pelukis kelas dunia yang beraliran kubisme.  Orang murah hati memberikan lebih daripada yang dia punya, Memberi adalah panggilan jiwa. Saat kita melihat orang lain kesulitan, ada dorongan alami dalam diri kita untuk mengulurkan tangan. Namun, tantangan terbesar kita saat ini adalah godaan untuk memamerkan kebaikan tersebut. Seolah-olah, kebaikan kita tidak sah jika belum mendapatkan tanda suka atau komentar pujian dari orang lain di media sosial.

​Padahal, nilai dari sebuah pemberian justru terletak pada kerahasiaannya. Memberi sebetulnya urusan kita, orang yang diberi, dan Tuhan. Ketika kita memberi diam-diam dan tanpa pamrih, ada sebuah kepuasan batin yang jauh lebih dalam daripada sekadar validasi digital. Ada sebuah ikatan kemanusiaan yang terjalin secara murni tanpa ada embel-embel citra diri.

​Saat memberi dengan pamrih validasi, maka kita akan sibuk mengatur sudut kamera, pasang muka tulus untuk selfie saat membantu. Fokus kita sudah bergeser. Kita tidak lagi fokus pada si penerima, melainkan pada bagaimana penampilan kita saat sedang berakting menjadi orang baik. Alasan yang biasa muncul adalah untuk bukti dan dokumentasi. Padahal ini bisa melukai martabat orang yang kita bantu.

​Memberi tanpa pamrih adalah tentang menjaga kehormatan sesama. Kita memberi karena kita peduli, bukan karena kita ingin terlihat peduli. Ingatlah sebuah kutipan indah dari Ibu Teresa:” Bukan seberapa banyak yang kita berikan, tetapi seberapa banyak cinta yang kita sertakan dalam pemberian tersebut.”

​Cinta dan empati tidak butuh sorotan lampu dan lensa kamera. Cinta justru bekerja dalam keheningan, dalam senyum tulus yang hanya diketahui oleh kita dan orang yang kita bantu. Cinta itu akan terasa di hati orang yang menerima tanpa harus dipamerkan. Ketulusan kita pun akan langsung tertaut dalam hati orang yang kita beri.

​Kalau kita masih sulit untuk berbagi dan memberi, ingatlah saat kita bernapas.  Kita menerima oksigen dari alam dengan gratis. Kita menarik napas, berarti kita diberi kehidupan. Kita tidak mungkin menahan napas terlalu lama. Kita harus menghembuskan napas agar tidak mati. Itulah hakikat memberi. Kita menerima maka kita harus berani memberikan. Tidak perlu menunggu momen besar atau jumlah yang fantastis untuk berbagi. Hal-hal kecil yang dilakukan dengan ketulusan total akan membawa dampak yang besar.

​Kebaikan sejati adalah saat kita bisa tersenyum bahagia karena kita tahu bahwa kita telah meringankan beban seseorang, tanpa perlu dunia tahu nama kita. Mari kita simpan ponsel sejenak. Kita ulurkan tangan dengan mantap dan tulus hati, dan biarkan kebaikan itu mengalir dalam diam. Karena pada akhirnya, jejak kebaikan yang paling abadi adalah yang terukir di hati, bukan di konten media sosial.***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑