Pernahkah Anda berdiri di tengah persimpangan jalan yang sibuk, dikelilingi oleh hiruk-pikuk kota dan langkah kaki yang saling berburu, lalu tiba-tiba merasakan sebuah desakan halus di dada atau ketegangan kecil di tengkuk leher? Di tengah dunia yang terus memaksa kita untuk berlari tanpa henti, tubuh kita sebenarnya sering kali sudah “berbicara” jauh sebelum pikiran kita sempat merangkai kata. Kehadiran getaran fisik ini, yang dalam dunia psikologi dikenal sebagai somatic marker, sejatinya adalah bahasa jujur dari jiwa yang sering kita abaikan.
Saya menulis ini karena saya sedang ngomel ke kakak saya yang sekarang sedang merasakan kesakitan luar biasa di kaki kirinya. Kakak saya orang yang sangat aktif dan tidak bisa diam semenit pun. Olahraga sudah seperti kebutuhan seperti makan. Bahkan kadang makan pun dilupakan asal bisa bermain badminton, olahraga kesukaannya.
Tidak jarang dia selalu merasa hebat dan kuat. Sakit tak pernah dirasakan karena bermain badminton adalah obatnya yang manjur. Memang terbukti selama ini. Dia seolah terlahir seperti blasteran kuda beban yang tak pernah merasa capek. Sering dia melakukan aktivitas yang melampaui batas kemampuan fisiknya, sekalipun tubuhnya sudah menjerit-jerit dan menyerah.
Sebulan lebih dia tidak bisa berjalan karena nyeri di kaki kirinya yang awalnya hanya dianggap keseleo biasa. Ia masih memaksa kakinya untuk menyenangkan hasratnya berolahraga. Kupingnya tuli dan rasanya pun dibutakan hanya karena ego merasa kuat. Ternyata ototnya kini menyerah, ingin diistirahatkan. Alhasil, dia sekarang menyesal karena tidak pernah mau mendengarkan jeritan tubuhnya yang sudah kelelahan.
Bayangkan tubuh Anda bagaikan permukaan danau yang bening di pagi hari. Setiap pikiran, pertemuan, atau tuntutan yang datang adalah kerikil yang jatuh ke permukaannya. Ada kerikil yang menciptakan riak tenang, namun ada pula yang menimbulkan gelombang kegelisahan. Jeritan tubuh adalah kompas alami yang memberi tahu kita apakah sebuah situasi selaras dengan batin kita atau justru sedang menggerus kedamaian kita. Menghormati sinyal ini adalah bentuk penghormatan paling tulus yang bisa kita berikan kepada tubuh kita dan diri sendiri.
Sering kali, karena takut tertinggal oleh laju dunia, kita memilih untuk membungkam sinyal-sinyal ini. Kita memaksakan diri untuk tetap berkata “ya”, padahal perut terasa mulas karena cemas dan gelisah. Atau kita terus memacu langkah saat bahu sudah terasa seberat timah. Padahal, mencintai diri sendiri bukan hanya soal merayakan keberhasilan, melainkan tentang kesediaan untuk berhenti sejenak dan bertanya, “Apa yang sedang disampaikan oleh tubuhku saat ini?”
Saat kita memberi ruang bagi rasa sesak atau debar jantung itu untuk membuktikan bahwa kita mau mendengar tubuh kita. Kita ada tanpa menghakimi. Justru di momen semacam ini kita sedang melakukan sebuah tindakan suci karena kita sedang mengakui bahwa keberadaan kita jauh lebih berharga daripada kecepatan dunia yang melaju tanpa batas dan melebihi kecepatan normal manusia.
Di dunia yang serba terburu-buru ini, menjadi orang yang berani melambat untuk mendengarkan diri sendiri adalah sebuah kemewahan sekaligus keberanian. Kita tidak perlu melakukan perubahan besar untuk memulainya. Cukup dengan satu tindakan sederhana hari ini. Saat Anda merasa mulai terseret oleh arus kesibukan, berhentilah selama satu menit. Letakkan tangan Anda dengan lembut di dada. Hirup napas dalam-dalam, dan rasakan kehadiran tubuh Anda. Saat otot, atau anggota tubuh atau organ dalam Anda ada yang salah, berhentilah sejenak. Sapalah dengan lembut dan ajak bicara. Kalau perlu minta maaflah pada bagian-bagian tubuh Anda yang sedang tidak baik-baik saja.
Dengan mengakui apa yang dirasakan oleh raga, kita sedang berbisik lembut pada diri sendiri bahwa kita aman, kita berharga, dan kita berhak untuk punya tubuh sehat. Kita tidak selalu terburu-buru. Mari kita belajar untuk tidak hanya menghuni pikiran, tetapi juga kembali pulang dan beristirahat di dalam tubuh kita sendiri. Mari kita belajar untuk lebih mencintai tubuh kita dari syaraf terhalus hingga tubuh kasar kita ini. Mereka ingin disapa dengan penuh cinta. ***

Leave a comment