Inspiration

KETIKA RASA MENJADI BAHASA DOA

Saya pernah mengajar anak-anak kelas 12 Sekolah Menengah Atas di sebuah sekolah ternama. Ketika saya minta mereka menuliskan apa yang mereka impikan, hampir semua sedang menghadapi krisis identitas diri, bingung mau jadi apa, bingung mau kuliah di mana. Mereka punya impian besar. Tapi, anehnya, selain impian mereka juga dipenuhi kebimbangan dan keraguan. Mereka ragu apakah mereka nanti mampu, bisa diterima di perguruan tinggi impian, nilai memenuhi standar, dan segudang kekhawatiran lainnya. 

Melihat hal ini, saya mengatakan kepada mereka, “Tuhan selalu mengatakan “Ya” pada semua keinginanmu. Tapi Tuhan tidak akan menjawab impianmu. Dia akan mengabulkan rasa bimbang dan ragumu.” Mereka hanya bengong dan muka tak percaya. Mereka hanya percaya pada impian mereka. Tapi mereka abai dengan rasa ragu, takut, dan bimbang yang menguasai perasaan mereka.

Sebagai bangsa religius kehidupan doa tak bisa dipisahkan dari kegiatan harian. Doa menjadi panggilan sekaligus kebutuhan seperti makan dan minum. Melewatkannya barang sejenak bahkan bisa dianggap dosa. Akibatnya, banyak orang tak berani melewatkannya semenit pun. Doa adalah bahasa kata dan ritual yang tak boleh dilewatkan, karena dianggap kewajiban, bukan kebutuhan.. 

Mungkin lebih dari 80 persen orang beragama di negeri religius ini merasa wajib untuk berdoa. Tapi saya juga ragu, ada berapa persen orang yang mengaku religius dapat benar-benar menghayati kehidupan doanya, memaknai doanya dalam rasa, karsa, dan ciptanya. Doa sudah menjadi sekedar ritual wajib tanpa harus dimaknai sekalipun dilakukan dengan tertib. 

Doa sesungguhnya adalah bahasa rasa, bukan kata-kata. Doa yang manjur adalah doa yang keluar dari hasil keselarasan antara kata-kata dan rasa. Perasaan adalah bahasa batin yang kuat yang menghubungkan ciptaan dan Sang Pencipta di dalam diri kita. Apa yang akan terwujud atau terkabul adalah apa yang sebenarnya kita rasakan. Bukan dari apa yang kita katakan atau kita pikirkan. Perasaan adalah jembatan antara yang kelihatan dan tak kelihatan, antara kekuatan yang kasat mata dan yang tak kasat mata. 

Kita sering berdoa memohon segala berkah, kebaikan, kelimpahan, keberhasilan sampai mulut berbusa-busa. Sementara perasaan sedang menggetarkan rasa ragu, takut, khawatir, bimbang. Maka doa dan kata tidak akan selaras. Justru yang terwujud adalah apa yang kita khawatirkan dan kita takutkan, karena doa dan semesta menjawab rasa kita. 

Perasaan memancarkan vibrasi. Perasaan kita memancarkan sinyal pada kekuatan semesta yang tak terlihat. Sinyal itu yang menarik pengalaman hidup, orang, dan kesempatan yang sepadan dengan rasa yang kita pancarkan. Kalau rasa sedih, maka hidup kita akan dipertemukan dengan orang atau pengalaman yang menyedihkan. Kalau ada rasa optimis dan bahagia, maka kita akan bertemu dengan orang-orang optimis dan sukses. Kalau perasaan kita dipenuhi rasa sakit, takut, ragu, benci, maka kita akan mengalami realitas yang sama dengan apa yang sedang kita rasakan. Semesta memantulkan apa yang kita rasakan. Maka tidak berlebihan kalau upaya kita untuk menjaga rasa dan perasaan adalah hal sakral. Karena di sanalah Tuhan menjawab “ya” untuk setiap rasa yang kita pancarkan. 

Mengolah perasaan itu bukan berarti kita berpura-pura atau memaksa. Mengolah perasaan itu berarti mengajak diri kita masuk ke dalam versi diri kita yang kita impikan. Kita tidak menantikan dunia di luar kita. Dunia di luar kita sedang menunggu kita untuk menggunakan rasa yang baik untuk kita Imani dan kita selaraskan. Dengan perasaan yang baik dan keyakinan yang kuat, maka impian kita sedang mewujud. 

Perasaan kita ibarat magnet yang memiliki medan magnet untuk menarik besi. Pikiran kita yang mengarahkan ke mana dan apa yang akan kita tarik dengan medan magnet perasaan itu. Perasaan kita adalah kunci pembuka harta karun semesta. Tapi bisa juga perasaan kita menjadi gerbang menuju neraka kalau yang kita rasakan adalah hal-hal buruk, jahat, negatif.

Maka, kalau perasaan kita tidak sedang baik-baik saja, jangan berdoa dengan kata-kata untuk mohon kebaikan. Kita hanya akan menarik realitas yang senada dengan perasaan kita yang sedang tidak baik-baik saja. Lebih baik perbaiki perasaan kita terlebih dulu, kata-kata mengikuti. Bangkitkan perasaan positif. Perasaan penuh cinta, perasaan sudah berkelimpahan, perasaan sudah sehat sepenuhnya. Yakinkan seolah kita sudah menerima apa yang kita minta. Rasa adalah doa sesungguhnya. Rasa adalah pintu semesta. Maka selaraskan rasa dan kata agar keinginan Anda tercipta. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑