Inspiration

BURU-BURU BIKIN JALAN JADI BUNTU

Anda pasti pernah mengalami situasi mendesak yang memaksa Anda harus buru-buru untuk mengejar waktu (meskipun ini salah kaprah yang umum, karena waktu tidak pernah berlari, tapi seolah kita tertinggal dan harus mengejar). Ketergesa-gesaan untuk menepati sebuah titik waktu membuat kita terburu nafsu. Inginnya serba cepat, serba lancar, serba beres. 

Masalahnya, saat kita terburu-buru, apakah dunia mau berkompromi? Apakah waktu terus berhenti dan mau menunggu kedatangan kita? Yang ada kita bergerak dan berlari seperti kuda.  Pikiran kacau, hati gelisah, mata pun terbutakan karena kita ingin secepatnya sampai tujuan. 

Judul tulisan ini saya buat dengan serius, bukan bercanda. Ini muncul saat saya melakukan eksperimen sosial sendiri. Ketika berada di stasiun keberangkatan atau kedatangan, ada ribuan manusia yang bergerak. Semua saling beradu cepat, bersikutan, berdesakan demi mendapat jalan agar lancar tanpa hambatan. 

Tapi di saat buru-buru seperti itu, yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih bergerak gesit mencari celah, yang kita temui justru orang-orang seolah sedang menutupi jalan. Mereka seolah tidak memberi celah agar kita bisa menerobos. Pikiran kita makin kacau. Hati makin panas, makin bernafsu untuk terus maju. Tapi kita terus merasakan seolah kita tak mendapatkan jalan. Tak seorang pun peduli dan memberi jalan. Kita hanya bisa menggerutu dan makin bernafsu. 

Hal yang sama juga terjadi saat kita terburu-buru ketika berkendara di jalan. Seolah semua kendaraan menjadi padat, menutupi jalan. Jalan kita jadi sempit, sesak, dan tertutupi. Kita seolah terhenti sambil merutuki keadaan. Kita merasa jengkel sambil ngomel

Tak hanya di jalanan, di terminal, di stasiun, hal yang sama akan terjadi di jalan cinta, jalan kesehatan, jalan rejeki. Semakin kita memaksa dengan ketergesaan, jalan cinta, jalan kesehatan, maupun jalan rejeki akan semamin menutup. Semakin tertutup, semakin kita panik. Ujung-ujungnya kita tak kunjung sampai di tujuan itu. Cinta tertolak. Badan jadi sakit. Rejeki pun terasa menjauh. 

Energi kehidupan sudah memiliki hukum pergerakannya sendiri. Energi itu tak bisa diintervensi oleh ketergesa-gesaan, apalagi diburu-buru, atau dipaksa. Semakin kita ngotot mencari jalan dan memaksa untuk mendapatkan jalan, yang kita temui justru cinta, kesehatan, rejeki akan tertutup. Ada energi yang seolah dengan sengaja menutupi jalan kita. Inilah paradoks kehidupan. Semakin memaksa, semakin tertutup pintunya. 

Semakin kita memaksa untuk mengejar cinta, mustahil kita mendapatkannya dengan cepat. Demikian pula soal berkah kesehatan atau rejeki. Semua akan menjauh, karena kita ngotot untuk mendapatkannya. Kekhawatiran, kepanikan, ketidakpercayaan saat kita terburu nafsu itulah yang sebenarnya menutup jalan kita. 

Sebaliknya, saat pikiran, hati, dan tindakan kita tenang justru akan menjadi pembuka jalan yang seolah sudah tertutup. Semakin tenang, semakin terbuka. Semakin kita pasrah dengan rasa percaya, segala yang kita inginkan akan mengalir dan menghampiri kita dengan sendirinya. Ketenangan, kepasrahan, dan iman akan membuka mata dan memberikan jalan yang harus kita lalui untuk mendapatkan yang kita impikan. 

Ketergesaan dan ketakutan akan menutup jalan. Sementara kepasrahan dan ketenangan akan memberikan arah dan jalan menuju tujuan. Saya sudah membuktikannya di stasiun. Saat saya tenang, ternyata tetap ada celah yang membuat saya tetap berjalan. Tak ada orang lain yang seolah menghalangi langkah saya. Tidak ada jalan buntu kalau kita tidak terburu-buru. Anda pun dapat membuktikannya. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑