Pernahkah Anda merasa lelah secara mental, padahal tidak melakukan aktivitas fisik yang berat? Sering kali, kelelahan itu bukan datang dari apa yang kita kerjakan, melainkan dari apa yang kita simpan di dalam hati. Menaruh rasa benci atau rasa tidak suka yang mendalam pada seseorang ibarat membiarkan seorang pencuri masuk ke rumah kita dan membiarkannya merampok kedamaian hati tanpa perlawanan.
Saya heran kalau ada orang yang kuat menyimpan rasa benci sampai lama. Seolah kebencian itu menjadi bagian dari setiap tarikan nafas. Di media sosial pun para pembenci itu rajin mengumbar kata-kata yang penuh kebencian, nyinyir, sinis, yang tak berkesudahan. Mungkin saja kepuasan hidupnya terasa ketika mengumbar kebencian itu.
Banyak dari kita yang tidak sadar betapa mahalnya biaya yang harus kita bayar dari sebuah kebencian. Saat kita memendam amarah atau kebencian, kita sedang menginvestasikan waktu kita untuk sesuatu yang destruktif. Coba hitung berapa jam dalam sehari pikiran kita teralihkan oleh bayang-bayang orang yang kita benci? Berapa minggu atau bulan yang kita lalui dengan perasaan dongkol saat mendengar namanya? Tanpa sadar, kita kehilangan momen-momen berharga untuk menghargai detak jantung kita sendiri, mensyukuri nafas yang masih mengalir, dan merayakan perasaan damai yang seharusnya menjadi milik kita sepenuhnya. Kita lupa mensyukuri kita punya orang-orang terdekat yang penuh perhatian dan cinta.
Ada sebuah pepatah lama yang mengatakan bahwa membenci orang lain ibarat meminum racun, namun berharap orang lain yang akan mati. Orang bijak menulis kebencian sebagai beban. Kebencian adalah beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian. Ia merusak kesehatan mental dan fisik si pembenci, sementara orang yang dibenci mungkin sedang tertawa atau tidur nyenyak tanpa tahu. Orang yang dibenci bahkan tidak peduli sekalipun ia sedang dibenci.
Filsuf tersohor Confucius pernah berkata, “ Jika kamu membenci seseorang, maka kamu telah dikalahkan oleh mereka.” Mengapa demikian? Karena ketika kita membenci, kita seolah memberikan kendali emosi kita kepada orang tersebut. Mereka tidak perlu melakukan apa pun untuk membuat kita marah, jengkel, dongkol, dan benci. Hanya dengan membayangkan mereka saja, suasana hati kita langsung hancur. Saat itulah kita kalah. Kita kehilangan kedaulatan atas kebahagiaan diri kita sendiri. Benci membuat rugi.
Melepaskan kebencian bukan berarti membenarkan tindakan orang lain atau terpaksa menjadi teman baik mereka. Melepaskan kebencian adalah pilihan pribadi. Melupakan atau memaafkan, atau bahkan menganggap orang yang kita benci tidak ada bisa menjadi pilihan. Ini menjadi sebuah cara untuk melindungi diri sendiri. Memaafkan memang tidak akan mengubah masa lalu, termasuk orang yang kita benci. Tapi setidaknya, memaafkan akan memperlebar masa depan kita.
Mari kita sadari bahwa membenci itu membuat kita rugi, karena waktu yang paling berharga dalam hidup kita sudah terbuang. Kita perlu ingat bahwa setiap menit yang digunakan untuk membenci adalah satu menit yang hilang untuk mencintai diri sendiri. Kita berhak untuk bahagia dan menang. Kita lebih berharga daripada dikalahkan oleh rasa benci.
Mulai sekarang, jangan biarkan pencuri itu menetap lebih lama di pikiran Anda. Usir mereka dengan keikhlasan, bukan demi orang yang tidak kita sukai, tapi demi ruang lapang di hati kita yang berhak diisi dengan ketenangan dan kemenangan. Memaafkan menjadi cara paling indah untuk membalas dendam. ***

Leave a comment