Literature

ANTARA DUA KATA Malam merangkak jauh. Meninggalkan arakan mendung yang tak sempat mengucapkan janji. Akhirnya mendung pun berurai dalam derai hujan. Rinainya jatuh seolah ingin memeluk kegelapan malam. Bergemericik mendendangkan senandung senyap yang menembus genting rumahku. Mataku masih nanar menatap langit-langit kamar. Selalu kusempatkan kerlingan mataku ke sebelahku. Semerbak wangi tubuh perempuanku masih serasa seperti... Continue Reading →

Powered by WordPress.com.

Up ↑