Environment

Sekolah Alam Hirosi, Matahari Papua

Foto-Klub Hirosi Papua
Anak-anak muda Papua sedang menampilkan sebuah tarian daerah di Klub Pecinta Alam HIrosi di Kabupaten Jayapura. Hirosi dijuluki Matahari Papua karena gagasannya untuk menarik anak muda yang mencintai lingkungan melalui sekolah alam. Mereka juga telah mendeklarasikan sebagai anak adat yang terbebas dari ‘romina’ (rokok, minuman keras, dan narkoba). (Foto: Leo Wahyudi S)

Sebelum menjadi pecinta alam, orang harus memulai mencintai dirinya sendiri. “Kalau kita sudah bisa mencintai diri kita sendiri, baru kita bisa mencintai alam,” kata Marshall, 40, pada suatu sore 3 November 2014 di Kabupaten Jayapura, Papua.

Itulah keyakinan yang dibawa Marshall saat merintis sebuah klub pecinta alam untuk generasi muda di Papua pada 2001 silam. Klub itu dinamai Hirosi. Nama ini adalah akronim dari Hibiscus Rosa-Sinensis, istilah resmi dari bunga sepatu.

Anak muda yang tertarik untuk bergabung dengan Klub Hirosi ini harus memenuhi persyaratan utama, yaitu bebas “romina” (rokok, minuman keras, dan narkoba). “Syarat ini harus dipenuhi oleh setiap anggota sebelum ikut Hirosi,” kata Marshall.

Sampai sekarang, klub ini sudah berkembang di 6 Kabupaten dan Kota di Papua dan Papua Barat, yaitu di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Nabire, Merauke, Keerom, dan Timika. Kelompok ini dijalankan oleh 15 pengurus inti di tingkat provinsi dan 5 pengurus di setiap kabupaten/kota.

“Kami melakukan semua ini dengan swadaya. Tidak pernah ada bantuan dari pemerintah,” kata Jemmy Ondikeleuw, salah seorang pengurus yang bergabung sejak 2002.

Jemmy mengaku senang menjadi anggota Hirosi ini sejak saat ia masih di SMP. Sekarang setelah lulus kuliah, ia masih mendedikasikan dirinya untuk menarik lebih banyak generasi muda untuk mencintai lingkungannya.

“Saya hanya ingin melakukan sebuah gerakan yang dapat mengubah pandangan orang selama ini tentang orang Papua yang selalu dianggap pemalas, pemabuk, dan terbelakang. Saya ingin Papua maju,” katanya bangga.

Menurut Marshall, tujuan awal Klub Hirosi ini adalah untuk membuat orang peduli dalam upaya penyelamatan lingkungan sebagai rumah yang harus dijaga. Untuk menarik simpati generasi muda, Klub Hirosi ini memberi wadah penyaluran hobi mereka. Mereka juga diajak untuk selalu peduli terutama terhadap Cagar Alam Cyclops di Jayapura dimana mereka berada.

Klub Hirosi ini sudah tidak melulu kelompok pecinta alam. Ada sekolah alam untuk anak-anak muda di areal seluas 10 hektar di kaki pegunungan Cyclops di Papua ini. Jemmy menuturkan bahwa Hirosi memiliki kelas berenang, menyelam, menari, menulis, dan bahkan bela diri Karate.

“Kami masuk dan menarik anak-anak muda melalui kegiatan-kegiatan tersebut. Kalau tidak, akan sulit mengajak anak muda masuk di Hirosi ini,” tutur Jemmy.

Pembagian sekolah alam ini menggunakan metamorfosa kupu-kupu. Kelas dasar disebut kelas larva, kelas kepompong, dan kelas indigo. Setelah lulus, kelas selanjutnya adalah kelas instruktur yang diperuntukkan untuk anak muda yang telah kuliah. Kelas alam itu diadakan setiap Kamis dan Minggu sore.

Saat ini sudah ada lebih dari 100 anak muda yang tergabung dalam Hirosi di Kabupaten Jayapura yang mendeklarasikan terbebas dari ‘romina’. Deklarasi perdana ini dihadiri Bupati Jayapura pada 24 Oktober 2014.

Klub Hirosi ini bahkan sudah menyabet juara pertama penghargaan Wana Lestari untuk kategori Kelompok Pecinta Alam oleh Kementerian Kehutanan. “Menteri Kehutanan (Zulkifli) menjuluki Hirosi ini sebagai Matahari Papua, karena memiliki gagasan baru yang mendorong generasi muda untuk bebas ‘romina’,” kata Marshall.

Klub Hirosi sudah diadopsi di sekolah formal, yaitu di SMU 1 Sentani, Kabupaten Jayapura, SMA YPPK Teruna Bakti di Kota Jayapura, dan Universitas Sains dan Teknologi Jayapura. Bahkan, menurut Marshall, di Thailand pun sudah ada kelompok pecinta alam yang mengadopsi Hirosi ini.

Namun Marshall mengatakan bahwa  wadah ini tidak akan bertahan lama kalau dijalankan secara sosial. Karena itu kami sedang melobi ke birokrasi pemerintah agar Hirosi memiliki anggaran dari APBD seperti halnya Karang Taruna, Pramuka.

“Kami tidak meminta dana yang besar. Bukan jumlahnya yang penting, tetapi kami ada dana rutin untuk menjalankan organisasi ini,” kata Marshall. Hirosi ini sudah mendirikan Yayasan Hirosi Papua sebagai payung hukum sejak 2007.

Melihat keberadaan Klub Hirosi ini, William Sabandar, Deputi bidang Operasional Badan Pengelola REDD+, mengatakan bahwa mereka ini memerlukan mekanisme pendanaan yang baik, karena sebagai sebuah gerakan, sekolah alam Hirosi ini bagus sekali.

“Dalam konteks REDD+, mereka dapat menjadi bagian dari program Youth Ambassador untuk Sekolah Hijau. Mereka harus dibantu dan model ini harus bisa dikenal dan didukung oleh masyarakat luas,” kata William. (Oleh: Leo Wahyudi S)***

Artikel ini pertama dipublikasikan pada 7 November 2014 di website http://www.reddplus.id. 
Tautan: http://cpahirosipapua.blogspot.com/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: